WELAS ASIH

Pameran Kaligrafi

Rabu, 22 Mei 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Pembukaan Pameran:
Rabu, 22 Mei 2019  | Pukul 19.30 WIB
Dibuka oleh : 
Prof. DR. H. Mudofir , S.Ag , M.Pd
Rektor Universitas Islam Negeri Surakarta  ( UIN Surakarta ) 
Dimeriahkan :
Team Hadrah dan Tari MAPK Surakarta
Tausiyah (orasi) dan doa oleh Gus Karim (Pimpinan Pondok Pesantren Az-Zayadi Mangkuyudan Surakarta)
Pameran Berlangsung :
23-27 Mei 2019 | Pukul 09.30 – 21.30 WIB

Welas Asih adalah sihir yang terkuat di dunia (Kata  Dumbledore dalam Lakon Harry Potter).

Dalai Lama dalam khutbahnya: “Agama apa pun yang bisa membuat Anda Lebih welas asih, lebih berpikiran sehat, lebih objektif dan adil, lebih menyayangi, lebih manusiawi, lebih punya rasa tanggungjawab, lebih beretika, agama yang punya kualitas seperti yang saya sebut adalah agama terbaik,"

Di antara 99 nama agung Allah (Asmaul Husna), al-Rahman dan al-Rahim adalah yang paling sering disebut setiap hari oleh umat muslim. Rahman dan Rahim adalah dua sifat Allah yang disebutkan dalam Basmalah sebagai sifat Allah. Al-Rahman dan al-Rahim – keduanya berasal dari kata rahmah (welas-asih) – adalah sifat-sifat diatributkan kepada nama “Allah“. Nama “Allah“ itu merangkum 99 nama/sifat Tuhan (al-ism al-jami’),

Kanjeng Nabi Saw. diutus “hanya“ utk menyempurnakan akhlak. Dan inti akhlak, adalah bersikap welas asih kepada sesama makhluk Tuhan. Tanpa welas asih di dalam hati, Nabi sekali pun – seperti kata beliau sendiri – tidak akan dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik. Kedamaian batin bertalian dengan welas asih. Semua agama besar memiliki pesan yang sama – kasih, welas asih, pengampunan. Kita membutuhkan cara duniawi untuk mengangkat welas asih. Bagi orang-orang yang memiliki agama dan tulus dan serius di dalamnya, agama punya daya dahsyat untuk meningkatkan keampuhan dan kemujaraban welas asih.

Pada ulang tahun  ke-50 kelahiran PBB di New York, 22-24 Oktober 1995, diadakan sebuah jajak pendapat tentang nilai-nilai kemanusiaan apa saja yang sama pada semua bangsa dan negara. Berdasar riset tersebut, nilai kemanusiaan yang muncul adalah: Kedamaian, Kesatuan, Kesederhanaan, Kasih, Sayang, Kejujuran, Rendah Hati, Tanggung jawab, Tenggang Rasa, Kebebasan, & Cinta. Karen Armstrong, pengkaji terbaik agama abad ini menyebut semua nilai itu dengan satu kata: Confession (Welas Asih).

Welas asih (compassion) merupakan inti kehidupan religius dan moral. Welas asih adalah sarana memuliakan hakikat manusia untuk saling menghargai, menyayangi, dan menjunjung harkat dan martabat manusia.Saat welas asih mengejawantah dalam kehidupan maka keadaban, keadilan sosial, dan kemakmuran akan mewujud.

Hawa panas kebencian di segala matra akhir-akhir ini sungguh saru dan kelewat batas. Nyaris tiada jeda, selama 24 jam dalam sehari, orang saling melepaskan syahwat kebencian yang membuat mereka alpa segalanya-galanya dan hingga akhirnya sifat-sifat noninsani yang menguasai. Intensitas dan muatan kebenciannya benar-benar over dosis. Apa pun argumentasi mereka, tanpa kita sadari, laku dan tingkah para pecandu dan penyembur kebencian mengancam kerukunan dan persatuan. Secara fitrah, semua manusia memiliki watak welas asih. Namun, mengejewantahkannya memang tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan, yakni 'pengorbanan' yang sejatinya berkelindan dengan keluhuran budaya. Kebudayaan merupakan kerja intelektual yang mengantarkan seseorang menuju taraf insani. Taraf kemanusiaan utama.Saat manusia berada dalam posisi itu, ia akan mampu berpikir jernih, tidak hanya akal namun juga nurani. Kejernihan dalam berpikir inilah yang kemudian mengantarkan manusia mampu membaca gejala. Sebuah kerja peradaban menuju keadaban bangsa. Bangsa yang terpenuhi oleh prinsip tindakan memanusiakan manusia.

Pelaku seni dari kalangan pelukis, perupa, dan kaligrafer selalu memiliki cara untuk menyampaikan pesan dan perasaan yang mereka alami dalam berbagai media, baik itu melalui lukisan dan kaligrafi Arab. Seperti yang ada dalam pameran bertema“WELAS ASIH“ yang diselenggarakan selama seminggu di Balai Soedjatmoko, Jl. Sriwedari Surakarta. Pameran ini digagas Komunitas PK (Pencinta Kaligrafi).

agenda acara bulan ini
  • ORKES KERONCONG NADA JUANG

    Bentara Budaya Solo, akan menyelenggarakan pementasan musik keroncong dengan tajuk Keroncnong Bale. Keroncong Bale kali ini akan di selenggarakan pada hari Rabu, 24 juli 2019 dengan penampilan Orkes Keroncong Nada Juang.

  • JULI BLUES BERBUNYI

    Musik Blues dipandang sebagai akar dari perkembangan musik Jazz, Rock, Pop hingga masuk ke dalam dunia industri musik populer. Seperti pada awalnya muncul dilagu lagu Benyamin, Koes Plus, hingga kemudian diera 90’an ada Slank, dan sekarang banyak bermunculan musisi - musisi blues seperti Gugun Blues Shelter, Rama Satria, Ginda Bestari dsb.

  • LAGI-LAGI BICARA “PEREMPUAN“

    Publik barangkali sudah bosan atau malahan muak dengan tema soal perempuan. Pembahasan soal “perempuan“ hari-hari ini mudah sekali dapat generalisasi dengan sebutan feminisme. Sebutan yang di masa lalu pernah ngeri dan jauh karena keterbatasan informasi yang muncul ke hadapan publik. Di Indonesia, titik balik feminisme lekat dengan pengetahuan kita akan sosok Raden Ajeng Kartini. Bersama segenap sikap, tingkat laku, dan tulisan-tulisannya yang –pada masa itu– terbaca penuh perlawanan, Kartini menjadi ikon pahlawan perempuan bagi perempuan-perempuan Indonesia yang tak lekang oleh zaman.

  • SERAT WIRA ISWARA-GANDRUNG ASMARA

    Serat Wira Iswara adalah termasuk karya besar ISKS. Pakoeboewono IX. Sesuai dengan namanya wira, wara, warah, yang artinya ajaran, petuah; Iswara artinya raja. Jadi Wira Iswara adalah ajaran atau petuah yang disampaikan oleh raja, dan karena isinya maka serat ini dapat digolongkan sebagai karya sastra tutur atau sastra ajar. Serat Wira Iswara adalah merupakan kompilasi atau kumpulan dari berbagai karya beliau, di antaranya Serat Gandrung Asmara, Serat Gandrung Turidha, Serat Wulang Rajaputra, Serat Wulang putri, dan sebagainya.