TUTUR FIGUR ARSITEKTUR

Sinema Bentara #KhususMisbar

16 Feb 2019 ~ 17 Feb 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 18.30 WITA

Sebagaimana program Sinema Bentara bulan lalu, tayang film berkala kali ini tertaut acara pameran, yakni Bali Architecture Week 2019. Yang dihadirkan bukan hanya film dokumenter yang merangkum proses kreatif para arsitek Bali yang berpartisipasi dalam eksibisi ini, melainkan juga film cerita yang menggambarkan pergumulan nasib figur-figur tertentu yang hidup dalam jalinan probelematik sebuah kota. Kita bisa meresapi suasana batin para tokoh tersebut melalui sejumlah scene berlatar perkotaan, bangunan, landscape sebuah pemukiman. Maka, antara figur atau tokoh cerita, dengan rancang bangun kota atau pemukiman terjalin sebagai kisahan film atau gambar yang bertutur. 

Sejumlah film dari berbagai negara (Indonesia, Prancis, Italia, dan Jerman), serta telah ditayangkan di sejumlah festival film internasional serta meraih berbagai penghargaan, akan diputar selama dua hari berturut-turut dan dirangkaikan dengan dialog terkait pencapaian para sineasnya. 

Misalnya saja film dokumenter Haus Tugendhat (Jerman, 2013) karya sutradara Dieter Reifarth, mengisahkan cerita tentang sebuah rumah yang selesai dibangun tahun 1930. Seiring perubahan zaman, rumah tersebut mengalami sekian perubahan fungsi dan dinamika, saat dua perang dunia besar, pendudukan oleh Nazi Jerman, pengusiran dan emigrasi keluarga Tugendhat ke Swiss dan Venezuela, pasca-perang sebagai sekolah dansa swasta, dan beberapa dekade sesudahnya menjadi pusat terapi untuk anak-anak yang mengalami cedera tulang belakang. Pada tahun 2001 UNESCO mendeklarasikan rumah tersebut sebagai Situs Warisan Dunia karena kepentingan universalnya sebagai karya seni arsitektur. 

Di samping itu, kita juga akan menjelajahi bangunan-bangunan pemerintahan bersejarah kota Paris berikut pemandangan tata kota yang menawan lewat film Quai d'Orsay (2013) buah cipta sutradara Bertrand Tavernier. Film ini meraih penghargaan pada César Awards, Prancis 2014, Lumiere Awards, Prancis 2014 dan San Sebastián International Film Festival 2013. 

Tidak kalah menarik, film asal Italia karya sutradara Federico Fellini berjudul Roma (1972) yang mempertautkan Roma masa kini dan masa lampau dengan memperlihatkan dinamika sosial-kultural sang tokoh utama, keindahan arsitektur dari masa ke masa, dari jalanan ke tempat-tempat bersejarah hingga katedral. Film tersebut dinominasikan pada Golden Globes, Amerika 1973,  BAFTA Awards 1974, Film Asing Terbaik pada French Syndicate of Cinema Critics 1973, Desain Produksi Terbaik dan Kostum Terbaik pada Italian National Syndicate of Film Journalists 1973. 

Selain itu akan diputar juga sejumlah film dokumenter dari Ikatan Arsitek Indonesia-Bali serta film produksi Popo Danes Architect yang menggambarkan tata arsitektur masa kini di Bali, dan Indonesia. 

Program ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini didukung oleh Ikatan Arsitek Indonesia-Bali, Popo Danes Architect, Danes Art Veranda, Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Goethe Institut Jakarta dan Udayana Science Club. 

SINOPSIS FILM
HAUS TUGENDHAT
(Jerman, 2013, Dokumenter, Durasi: 117 menit, Sutradara: Dieter Reifarth)
Didukung oleh Goethe Institut Indonesien

Rumah Tugendhat selesai pada tahun 1930. Dengan arsitektur modernnya, arsitek Mies van der Rohe berusaha mewujudkan visi kliennya, yakni pasangan Grete dan Fritz Tugendhat. Suasana optimisme antara dua perang dunia besar, pendudukan oleh Nazi Jerman, pengusiran dan emigrasi keluarga Tugendhat ke Swiss dan Venezuela, tahun-tahun pertama pasca-perang di mana rumah itu berfungsi sebagai sekolah dansa swasta, dan beberapa dekade sesudahnya selalu berubah. Pada awal 1950-an, rumah tersebut menjadi pusat terapi untuk anak-anak yang mengalami cedera tulang belakang dan tetap di sana selama tiga puluh tahun ke depan. Pada tahun 2001 UNESCO mendeklarasikan rumah tersebut sebagai Situs Warisan Dunia karena kepentingan universalnya sebagai karya seni arsitektur. Pada 2010 restorasi yang kompleks dimulai untuk membenahi rumah Tugendhat.

Film ini telah diputar di berbagai festival film internasional, termasuk The Architecture Film Festival of Rotterdam. 

QUAI D'ORSAY 
(Prancis, 2013, Durasi: 113 menit, Sutradara:Bertrand Tavernier)
Didukung oleh Institut Français d’Indonésie dan Alliance Française Bali

Alexandre Taillard de Worms adalah seorang pria karismatik yang menarik bagi wanita dan bekerja di Kementerian Luar Negeri Prancis. Arthur Vlaminck, mahasiswa muda mempersiapkan tesisnya, dipekerjakan di departemen tersebut. Ia harus menulis pidato untuk Menteri tetapi perlu belajar untuk berurusan dengan berbagai dinamika politik. Film ini juga menyuguhkan kepada kita latar arsitektur gedung-gedung pemerintahan di kota Paris berikut pemandangan tata kota yang menawan.
Film ini dinominasikan pada Globes de Cristal Awards, France 2014, International Film Music Critics Award (IFMCA) 2014, meraih César Awards, France 2014 untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik, Lumiere Awards, France 2014 kategori Most Promising Young Actor, dan skenario terbaik pada San Sebastián International Film Festival 2013. 

ROMA
(Italia, 1972, Durasi: 120 menit , Sutradara: Federico Fellini)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Ini adalah film drama komedi semi-otobiografi yang menggambarkan kepindahan sutradara Federico Fellini dari kota asalnya, Rimini ke Roma ketika masih muda. Film dibuka dengan kemacetan panjang ke kota. Setelah itu, adegan ditampilkan menggambarkan Roma pada 1930-an, dengan orang-orang mengunjungi teater kelas tiga dan tempat hiburan. Film ini mempertautkan Roma masa kini dan masa lampau dengan memperlihatkan keindahan arsitektur dari masa ke masa, dari jalanan ke tempat-tempat bersejarah hingga katedral. 

Film ini dinominasikan pada Golden Globes, Amerika 1973,  BAFTA Awards 1974, Film Asing Terbaik pada French Syndicate of Cinema Critics 1973, Desain Produksi Terbaik dan Kostum Terbaik pada Italian National Syndicate of Film Journalists 1973. 

agenda acara bulan ini
  • SOSOK ANAK DALAM ANIMASI

    Sinema Bentara kali ini mengetengahkan film-film animasi terpilih yang mengangkat sosok anak sebagai fokus utama kisahannya. Bukan semata hal-hal lucu dan jenaka yang mengemuka, namun juga sisi-sisi pilu yang mengharukan serta mengundang pertanyaan mendasar tentang arti kehidupan, kejujuran, hingga kesetiakawanan.

  • JEJARING BUDAYA MASYARAKAT PEGUNUNGAN BALI

    Batur menjadi salah satu wilayah di perbukitan Cintamani yang tercatat dalam prasasti dan lontar yang dimiliki Bali, yaitu Prasasti 001 Sukawana A-I yang dikeluarkan di Singamandawa 804 Saka (19 Januari 882 M). Pada prasasti itu menyuratkan titah sang raja yang memberikan izin kepada para bhiku mendirikan pertapaan dan pesraman di daerah perburuan di Bukit Cintamani Mmal (Kintamani). Prasasti ini menjadi penanda penting dan menumental bagi peradaban Bali sekaligus sebagai revolusi aksara yaitu dimulainya peradaban aksara sebagai babakan awal sejarah Bali kuno (Sumarta, 2015: 5).

  • CERITA DAN KARYA MAESTRO I WAYAN BERATHA

    I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.