Tulisan Itu “IBU“

Ada diri, peristiwa, dan waktu tersimpan di kata-kata ketimbang terlupa atau berlalu

Selasa, 18 Desember 2018 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Pada 1928, kaum perempuan bersuara untuk segala pemajuan dan pemenuhan harapan-harapan. Di Jogjakarta, kaum perempuan berpidato dan bercakap mengurusi pelbagai halam mengenai kewajiban-hak perempuan berlatara Indonesia ingin mulia. Mereka memilih menulis teks pidato dengan bahasa Indonesia. Suara mereka di muka umum menandai ada kemauan mengabarkan ide dan perasaan minta tanggapan publik. Pada 1928, kita mengenang mereka gara-gara tulisan dan pidato.

Kini, ingatan atas Kongres Perempuan I itu diterjemahkan dengan sederhana di Balai Soedjatmoko. Kita mengabarkan dan mengundang kaum ibu menulis segala hal bertema ibu. Keinginan untuk mengenang 1928 dan peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2018. Peringatan bukan berupa pembuatan tumpeng, festival, konser, upacara, ceramah, atau lomba. Kita sengaja memberi penghormatan pada kaum ibu di Solo menulis dengan pelbagai bentuk: esai-memoar, cerita, puisi, catatan harian, dan “skenario.“ Tulisan-tulisan itu “pengakuan“ ketimbang usaha pamer pemikiran ingin tepuk tangan. Kemauan menulis itu pembuktian masih ada misi keberaksaraan saat orang-orang sibuk memberi mata ke foto di media sosial. Menulis itu selingan dari kesibukan bekerja, mengurusi rumah, dan bermedia sosial.

Keinginan membuat peringatan Hari Ibu dengan tulisan-tulisan kaum ibu diterbitkan menjadi buku mungkin teranggap “wajar“. Kita mengartikan “wajar“ berdalih peran ibu memberi diri ke keluarga dan publik dengan keaksaraan. Biografi ibu di tulisan berbeda dari tumpukan berita atau segala hal berseliweran di media sosial. Tulisan memerlukan pertimbangan kata dan kesanggupan menaruh diri berkaitan dengan sekian hal. Kaum ibu menulis seperti penggenapan dari memasak, mencuci, momong, dan menyapu. Tulisan pun tanda dari ketekunan bekerja, memberi diri ke aksi sosial,  dan mengampu peran-peran di pelbagai lini kehidupan. Peristiwa kecil tapi turut menentukan identitas keibuan. Tulisan itu “ibu“, kelak terbaca oleh anak-cucu. Ibu menulis dan tulisan menjadi “ibu“ mewujud di buku sederhana dapat terbaca siapa saja.

Penerbitan buku disempurnakan dengan obrolan kaum ibu bersama publik. Bermula dari tulisan-tulisan di buku, tema ibu dipercakapkan sebagai pusat diselingi sekian tema melingkupi ibu. Pertemuan dan obrolan dimaksudkan membuka hak berapresiasi atas biografi ibu dengan seribu perkara dan kemungkinan-kemungkinan membentuk keinsafan posisi ibu di zaman terlalu ramai komentar. Ibu berhak menjadi penulis tanpa ketentuan-ketentuan baku. Tulisan itu menanadai ada diri, peristiwa, dan waktu tersimpan di kata-kata ketimbang terlupa atau berlalu. Begitu.

agenda acara bulan ini
  • LOVE ‘N’ PEACE

    Mengangkat tema Love n peace, Blues On Stage ingin menyampaikan pesan cinta damai kepada masyarakat. Tahun politik dan perkembangan sosmed sering memberi dampak negatif berupa penyebaran hoax,ujaran kebencian, penghinaan dsb.