TERJEBAK NOSTALGIA/IT'S A TRAP, ISN'T IT?

Beranda Sastra #15

Kamis, 16 Mei 2019 Bentara Budaya Jakarta

Beranda Sastra #15
Terjebak Nostalgia/It’s A Trap, Isn’t it?
Penulis Muda Bicara Ragam Tema Sastra
Kamis, 16 Mei 2019 pukul 15.30 – 18.00 WIB

Sekali berarti, setelah itu… copy. Ada anggapan umum tak terkatakan bahwa beberapa tema dianggap seksi lalu rasanya perlu untuk selalu dituliskan berulang-ulang kali. Tema-tema politis kemudian menjadi favorit, pun tema-tema eksotis seperti kampung halaman yang digambarkan ala lukisan mooi indie atau malah sebagai savages, baik mulia ataupun barbar. Perkembangan ini menarik barangkali untuk menambah pengetahuan, tapi tanpa disertai dengan kecakapan dan upaya-upaya bentuk penulisan yang baik, barangkali sejarawan atau ilmuwan sosial akan menangani isu ini dengan lebih kaya.

Lalu, bagaimana para penulis muda melihat jebakan tema seperti ini? Acara ini mengundang dua penulis untuk berbagi mengenai proses kreatif mereka: penulis fiksi yang menulis novelanya tidak menggunakan tema-tema favorit tersebut, sekaligus terlibat proyek penulisan fiksi berbasis riset mengenai peristiwa pasca-98, dan seorang jurnalis yang menulis ragam laporan dan bereksperimen dengan bentuk-bentuk penulisan di beberapa laporan pentingnya. Mereka di antaranya Mawa Kresna dan Ruhaeni Intan.

Beranda Sastra #15 kali ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta, serangkaian dengan kegiatan Jakarta International Literary Festival 2019 yang mengambil tema Many Faces of the South yang akan dihelat pada Agustus 2019. Festival ini mengusung semangat Selatan-selatan, dan untuk tahun ini bertajuk Pagar.

Pagar dipilih karena mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Pemilihan nama tersebut dirasa cocok dengan latar belakang di atas karena sastra kini dihadapkan tidak hanya dengan perdebatan lokal tetapi juga global. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia liar dan ketenangan rumah.

Maka dari itu, konsep pagar tidak selalu terikat dengan perlintasan batas-batas geografis sastra, akan tetapi juga mengandung makna perawatan dan pemeliharaan sastra lokal. Dengan pagar kita memisahkan kita dan dunia di luar tetapi selalu dalam kesadaran kehadiran kita di tengah dunia. Dalam kata lain, kepekaan lokal dengan wawasan global.

agenda acara bulan ini
  • SUBUR MAKMUR

    Subur Makmur, sebuah jargon yang acapkali terdengar di masyarakat. Subur dapat diartikan sebagai kemampuan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang biak secara sempurna. Sedangkan makmur dimaksudkan sebagai hasil yang serba berkecukupan. “Subur Makmur“ menjadi tajuk dalam pameran karya seni rupa seniman Gigih Wiyono yang akan diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta pada bulan Juli 2019.

    Sejumlah karya berupa lukisan dan patung akan ditampilkan di dalam pameran ini. Gigih Wiyono, yang lahir dan tumbuh di daerah pertanian kabupaten Sukoharjo (Jawa Tengah) membuat tema kesuburan dan kemakmuran selalu lekat dalam setiap karyanya. Setelah pada periode sebelumnya ia menggali tema tentang mitos Dewi Sri, pada kali ini ia akan mencoba mengembangkannya lagi dalam konsep kesuburan dan kemakmuran.