TEMPAT TEBAIK DI DUNIA : PENGALAMAN SEORANG ANTROPOLOG TINGGAL DI KAWASAN KUMUH JAKARTA

Bincang Buku Bersama Roanne van Voorst (Penulis)

Selasa, 17 Maret 2020 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.00 WIB

Buku Tempat Terbaik di Dunia (Marjin Kiri, 2017) tentang pengalaman live-in Roanne di salah satu kawasan kampung kumuh di Jakarta disebut-sebut sebagai karya antropologis yang mematahkan prasangka negatif dari para pejabat dan kelas menengah atas Indonesia yang cenderung mencap penghuni kampung kumuh sebagai kriminal dan pemalas, sekaligus juga praduga positif dari sebagian aktivis dan peneliti yang kerap memandang persoalan riil kemiskinan secara romantik. Dengan informatif, intim, dan penuh humor, dia memberikan wawasan unik tentang kehidupan penghuni kampung kumuh yang keras tetapi pantang menyerah. 

Roanne van Voorst (1983) adalah seorang antropolog dan pe­nulis buku-buku non-fiksi maupun fiksi. Debutnya diawali lewat Jullie zijn anders als ons: Jong en Allochtoon in Nederland (2010), buku tentang kaum muda imigran di Belanda. Dia meraih gelar doktor dengan pre­dikat cumlaude dari Universitas Amsterdam pada 2014. Penelitiannya tentang banjir di Indonesia melahirkan buku akademis Natural Hazards, Risk and Vulnerability: Floods and Slum Life in Indonesia (2015) serta kisah pengalamannya dalam versi populer De beste plek ter wereld: Leven in de sloppen van Jakarta (2016). 

Roanne juga pendiri Fearlessly Fearful, platform daring untuk melatih peserta agar menjalani hidup dengan lebih berani. Sendirinya seorang pemanjat tebing, ia menerbitkan wawancara­nya dengan para pemanjat kelas dunia tentang cara mengatasi ketakut­an dalam Fear! Extreme Athletes on How to Reach Your Highest Goals and Overcome Fear and Self Doubt (2018). Sedangkan karya-karya fiksinya adalah De verhuizing (2015) dan Lief van je (2018).

Sebagai antropolog, fokus penelitiannya adalah seputar hal-hal yang dapat bertahan lama, diimpikan, dan diwujudkan dalam masa depan manusia. Roanne telah melakukan penelitian di berbagai penjuru dunia, dari desa Inuit di Greenland hingga kampung kumuh di Jakarta. 

Acara ini terselenggara atas kerjasama dengan Penerbit Marjin Kiri.

agenda acara bulan ini
  • EKSISTENSIALISME JEAN - PAUL SARTRE (1905 - 1980)

    Sartre dianggap filsuf terakhir Prancis yang berambisi membangun sistem filsafat (mengikuti gaya kaum metafisikus besar pada abad ke-19). Ambisi yang sia-sia dan tak pernah tercapai. Tanpa lelah Sartre memarodikan dengan penuh ejekan para fenomenolog besar Jerman seperti Hegel, Husserl, dan Heidegger. Meski begitu, Sartre adalah pemikir autentik, yang mampu memberi daging segar pada hal-hal yang sebelumnya dianggap abstrak. Sejak karya besarnya L’Etre et le neant (Being and Nothingness) tahun 1943 dan L’Existentialisme est un humanisme (Existentialism is Humanism) tahun 1946, Sartre memberikan prinsip- prinsip untuk filsafat modern yang memberikan kebebasan. Dari situ, ia mengambil posisi tegas di depan isu- isu kontemporer seperti feminisme dan antirasisme.