TATA KOTA DAN RUANG PUBLIK #1

Timbang Pandang Arsitektur

Minggu, 22 Maret 2020 Bentara Budaya Bali | pukul 18.30 WITA

Seberapa pentingkah membangun ruang publik kebudayaan, terlebih bagi Bali, pulau yang sohor dengan kekayaan seni budayanya, sekaligus menjunjung pariwisata budaya sebagai bagian dari kehidupan sosial kulturalnya. Bagaimana pula timbang pandang ini memaknai kehadiran ruang publik seni budaya di sebuah kota yang meniatkan dirinya kreatif dan berwawasan budaya?

Seiring laku sejarah dan perkembangan kebudayaan, kota-kota mulanya diciptakan justru sebagai ruang bertemu bagi berbagai kalangan; tempat aneka interaksi yang menunjang kehidupan masyarakatnya. Dia merupakan sebuah ‘ruang publik’, yang terus membangun dirinya menjadi suatu sistem besar yang dijalankan secara bersama-sama oleh mereka yang berada, tumbuh, dan bergantung kepadanya. Dari sinilah, arus perputaran ekonomi, mobilitas sosial, serta tidak tertutup pergulatan ide-ide kebudayaan mengemuka, dengan aneka rupa dinamika yang mengalir, cair, sekaligus mewarnai napas hidup kota tersebut.

Bila dahulu ruang-ruang publik hadir guyub rukun di banjar-banjar, sudah sewajarnya masyarakat kini, yang lebih lintas sosial dan kultural itu, dimungkinkan berinteraksi di ruang-ruang yang lebih terbuka dan hangat bagi kalangan mana saja. Jika Paris, London, New York, tumbuh dari dinamisnya kehidupan literer dan intelektual yang marak di kafe, gedung teater, galeri dan kawasan taman terbuka, bahkan sejak masa silam, maka Bali, yang sebenarnya juga sudah ‘mendunia’ ini, membutuhkan lebih banyak ruang bertemu (melting pot) sedini sekarang ini, demi merintis perkembangan kota yang egaliter dan manusiawi justru ketika ciri dialektika tradisi-modern maupun komunal-individual masih mengemuka, di mana napas ‘kelokalan’ masih memiliki posisi tawar dalam arus perubahan gagasan maupun kebijakan.

Pada lembar catatan sejarah, bukan hal yang istimewa, seorang arsitek, perupa atau novelis, penyair menghasilkan karya yang bertemakan kehidupan sebuah kota. Tak sedikit pula puisi tercipta lantaran penyairnya terilhami oleh tempat-tempat yang sempat disinggahinya. Lumrah juga banyak kota-kota dunia, termasuk yang kosmopolitan seperti Paris atau Venesia, dengan bangga mencantumkan dalam sejarahnya tentang para seniman atau sastrawan dunia yang pernah mukim dan berkarya di sana–suatu bentuk penghargaan yang boleh dikata belum membudaya di negeri ini. Ya, boleh dikata antara kota dan para kreator tersebut, punya tali temali batin, yang tidak hanya mengikat kita ke masa silam penuh kenangan, namun juga memberi arah bagaimana masa depan bersama sepatutnya digagas dan diwujudkan.

Popo Danes, seorang arsitek sekaligus kreator yang supel, menjadikan studionya Danes Art Veranda, di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, bukan saja sebagai studio arsitek namun juga sebuah ruang publik  yang secara berkala menghadirkan berbagai peristiwa kesenian dan kebudayaan; dari pertunjukan teater, pameran aneka rupa, hingga susastra berskala nasional maupun internasional. Perhatiannya kepada arsitek-arsitek muda tergambarkan melalui program Architects Under Big 3 yang berlangsung hingga kini di studionya tersebut. Melalui aneka peristiwa di Danes Art Veranda, Popo Danes juga menunjukkan pergaulannya yang lintas bidang dan profesi, serta tak segan bekerja sama dalam berbagai peristiwa, semisal kolaborasi karya dengan pelukis Tedja Suminar, perupa Wayan Sujana “Suklu“, juga terlibat sejumlah program yang menunjukkan perhatiannya yang luas pada pertumbuhan kesenian dan kebudayaan Bali. 

Popo Danes akan berbagai pengalaman dan pemahamannya tentang makna strategis kehadiran sebuah ruang publik seni budaya. Sebagaimana kerap diungkapkannya, ruang publik memang tak bisa menyelesaikan hal-hal nyata secara langsung, semisal persoalan sanitasi, pendidikan, transportasi, hingga kebijakan ekonomi yang berpihak bagi berbagai kalangan masyarakat. Namun ruang publik itu setidaknya dapat menjadi wahana pergulatan ide atas bagaimana sebuah kota yang Aman, Nyaman, Sehat Lahir Batin, seyogyanya dibangun bersama. 

Nyoman Popo Danes lahir di Denpasar, 6 Februari 1964. Lulusan Universitas Udayana yang terkenal supel dan terbuka ini menciptakan karya arsitekturnya yang pertama sedini usia 17 tahun. Karya-karyanya tidak hanya bisa disaksikan di tanah air, akan tetapi juga terdapat di berbagai kota penting di penjuru dunia. Karya-karya Popo Danes juga dinilai kuasa menyelaraskan antara capaian estetik dan fungsinya secara keseluruhan. Tidak heran bila ia berupaya untuk menjadikan rancangannya tidak hanya tepat guna, namun juga tepat makna karena merangkum keunikan dan acuan filosofis dari bangunan dimaksud. Terangkum di dalamnya keelokan, kemolekan serta keunikan. Kaya akan simbol dan sekaligus fungsional. Capaian yang mempribadi ini mengantar Popo Danes meraih berbagai penghargaan, antara lain: Nominasi The Aga Khan Award for Architecture 2004, Pemenang Pertama ASEAN Energy Award untuk Kategori Bangunan Tropis pada 2004 dan 2008, Pemenang Indonesia’s Construction Design  pada 2003 dan 2009, serta tahun 2018 meraih IAI Awards Kategori Pelestarian. Popo juga membuka ruang publik kesenian dan kebudayaan di Denpasar, yakni Danes Art Veranda.