SKETSA - SKETSA KAWASAN MALIOBORO

Pameran Tunggal Hendro Purwoko

10 Des 2019 ~ 18 Des 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.30

Pembukaan : 10 Desember 2019, pkl 19.30
Pameran : 11 – 18 Desember 2019, pkl 09.00 – 21.00

Malioboro sebagai sebuah ruang yang hidup, seiring waktu tentu akan selalu berubah. Bahkan, sangat cepat berubah. Merekam Malioboro pada suatu masa tertentu akan menjadi dokumentasi yang sangat bernilai dalam kaitannya dengan perjalanan sejarah Yogyakarta. Sebuah penanda waktu yang terserak antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Pada sisi inilah, ragam sketsa tangan Hendro Purwoko tentang bentang kawasan Malioboro menjadi bagian catatan sejarah sekaligus rekaman peristiwa sosial yang perlu ditakar dan dibaca sebagai peristiwa sosial budaya. Lebih lanjut lagi, arah rekaman visual yang dibuat oleh Hendro Purwoko tidak hanya berdimensi heritage atau kecagarbudayaan, melainkan bisa dimanfaatkan untuk membaca sikap dan perilaku masyarakatnya. Dari balik bangunan yang terekam, tercatat, dan terunggah dalam gambar sejatinya sebuah teks yang menemukan konteks sosial budayanya dari waktu ke waktu.

Gambar-gambar tangan Hendro Purwoko bukan buah keterampilan semata-mata tetapi juga ekspresi ajakan untuk membaca Malioboro sebagai kawasan kehidupan, kawasan budaya, yang sangat mewarnai keragaman perjalanan sejarah Yogyakarta. Motif sketsa Hendro Purwoko pantas untuk tidak hanya dibedah dari pencapaian wujud visual, melainkan juga dari motif konservasi ingatan dan picuan inspirasi konservasi, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatkan warisan budaya. Selain itu, juga dapat digunakan untuk menemukan persoalan sosial budaya kawasan Malioboro yang kompleks. Sketsa-sketsa Malioboro karya Hendro Purwoko adalah catatan spontan, sekaligus seruan moral memelihara dan mengembangkan Malioboro sebagai kawasan budaya terpenting Yogyakarta.

Pameran Tunggal Hendro Purwoko “SAMBANG SAMBUNG MALIOBORO“ punya arti penting, dan menarik secara artistik, dalam dokumentasi sejarah aspek-aspek sosial, budaya, ekonomi, arsitektural, maupun tata ruang kawasan Malioboro yang mana di masa depan dapat dijadikan salah satu pijakan dalam kajian-kajian ilmiah kesejarahan Yogyakarta. Pameran ini akan menyajikan kurang lebih 40 karya sketsa yang dibuat Hendro Purwoko sejak tahun 2011 hingga 2015. Sketsa-sketsa tersebut mengabadikan suasana Yogyakarta pada tahun-tahun itu, yang mana di tahun 2019 ini sudah cukup banyak berubah. Proyek revitalisasi Malioboro sepanjang tahun 2018-2019, misalnya, cukup banyak merubah bentang lanskap Malioboro dari sisi pembangunan infrastruktur sarana & prasarana.

agenda acara bulan ini
  • MACA PUISINE SINDHU "AIR PUISI SINDHUNATA"

    Sindhunata tidak pernah membayangkan akan menulis puisi, apalagi menerbitkan buku puisi. Ketika masih muda Sindhunata menekuni dunia jurnalistik, menjadi wartawan muda di Majalah Teruna kemudian berlanjut menjadi wartawan Kompas. Dari jurnalistik pula Sindhunata memulai kegiatan menulisnya. Dunia yang ditekuni hingga saat ini. Ketika Kompas memintanya untuk mengisi ruang kosong dengan cerita bersambung, Sindhunata menulis kisah wayang Ramayana yang kemudian kita mengenalnya dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin. Beberapa tahun kemudian cerita bersambung itu diterbitkan dalam bentuk novel dengan judul yang sama.

  • PEKAN REYOG PONOROGO

    Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Reyog Ponorogo tergolong luar biasa. Sebagai contoh, berangkat dari tradisi bijak dalam menghadapi situasi, tokoh Batoro Katong lebih memilih mundur dari kemapanan hidup daripada menghakimi pemimpin yang salah dalam melangkah. Dalam dirinya seperti tumbuh kesadaran bahwa langkah-langkah yang konfrontatif seperti demo atau perbuatan makar lainnya, hanya akan melahirkan jatuhnya korban dari orang-orang yang tak berdaya. Selanjutnya, dalam rangka menggalang dukungan, leluhur kita yang cerdik tidak memilih menggunakan tangan besi (walau sanggup melakukan itu), tetapi justru memilih seni yang langsung bersentuhan dengan hati nurani.