Sinema Bentara #KhususMisbar

PUJIAN BAGI TANAH AIR

18 Agt 2018 ~ 19 Agt 2018 Bentara Budaya Bali | 18.00 WITA

Dunia kini disatukan oleh informasi yang serba digitalisasi. Sehingga batas-batas sosial kultural masyarakat seringkali menjadi maya, apa yang terjadi di belahan benua lain dapat seketika dan serentak disaksikan pula di Indonesia atau negeri-negeri manapun. Melalui tajuk “Pujian bagi Tanah Air“,  Sinema Bentara kali ini mengetengahkan sejumlah film terpilih Indonesia dan mancanegara yang sama-sama mengkritisi dan menimbang ulang apa itu nilai-nilai kebangsaan serta nasionalisme, di tengah perjuangan penegakan kemanusiaan yang bersifat lintas bangsa. 

Dengan demikian, nilai-nilai kepahlawan ataupun kebangsaan bisa bersifat positif, terhindar dari fanatisme atau Chauvinisme, yang mudah dikobarkan melalui berita-berita hoax di media sosial yang memungkinkan timbulnya pribadi yang terjangkiti virus radikalisme dan kekerasan dalam bentuk apapun. 

Film-film yang diputar antara lain: Enam Djam Di Jogja (Indonesia, 1951, Durasi: 116 menit, Sutradara: Usmar Ismail); Merah Putih (Indonesia, 2009, Durasi: 108 menit, Sutradara: Yadi Sugandi); Les Chevaliers Blancs (Prancis, 2015, Durasi: 112 menit, Sutradara: Joachim Lafosse); Shoeshine (Italia, 1948, Durasi: 93 menit, Sutradara: Vittorio De Sica).

Sebagaimana sebelumnya, acara ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang akrab, guyub, dan hangat. Adapun program kali ini didukung oleh  Sinematek Indonesia, Bioskop Keliling BPNB Bali Kemendikbud RI, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, dan Udayana Science Club.

Jadwal Pemutaran
Sabtu, 18 Agustus 2018
16.00 WITA Pasar Kreatif Misbar
16.30 WITA   Merah Putih
18.00 WITA Pertunjukan Musik
18.30 WITA   Les Chavelier Blancs 

Minggu, 19 Agustus 2018
16.00 WITA Pasar Kreatif Misbar
16.30 WITA   Enam Djam di Jogja
18.00 WITA Pertunjukan Musik
18.30 WITA   Diskusi Sinema
19.00 WITA     Shoeshine

SINOPSIS FILM
ENAM DJAM DI JOGJA
(Indonesia, 1951, Durasi: 116 menit, Sutradara: Usmar Ismail)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

Setelah Yogyakarta diduduki Belanda (Desember 1948), pasukan Republik Indonesia melakukan perang gerilya. Pada suatu ketika Yogya diserbu dan bisa diduduki, walau cuma selama enam jam. "Serangan Oemoem" pada 1 Maret 1949 itu sekadar menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa RI masih punya kekuatan, dan tidak (belum) hancur seperti dipropagandakan Belanda. Film ini merupakan flm kedua yang diproduksi oleh PERFINI dan sempat mendulang kesuksesan besar di Indonesia serta terus ditayangkan di TVRI sampai tahun 1980-an. 

MERAH PUTIH
(Indonesia, 2009, Durasi: 108 menit, Sutradara: Yadi Sugandi)
Didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali Kemendikbud RI

Berkisah tentang perjuangan melawan tentara Belanda pada tahun 1947. Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (Teuku Rifnu), Soerono (Zumi Zola), dan Marius (Darius Sinathrya) adalah lima kadet yang mengikuti latihan militer di sebuah Barak Bantir di Semarang Jawa Tengah. Masing-masing mempunyai latar belakang, suku, dan agama yang berbeda. Suatu ketika, kamp tempat mereka berlatih diserang tentara Belanda. Seluruh kadet kecuali Amir, Tomas, Dayan dan Marius terbunuh. Mereka yang berhasil lolos, bergabung dalam pasukan gerilya di pedalaman Jawa. Di sana, mereka menemui strategi untuk mengalahkan banyak pasukan Belanda.

Film Merah Putih telah diputar di berbagai festival dunia, seperti: Festival Film Busan, Berlin, Cannes, Moscow, Perth, Sydney, Hongkong, Bangkok, dan Amsterdam dengan catatan terpuji. Di dalam negeri film ini menerima empat penghargaan utama dalam Bali Internasional Film Festival 2009, memenangkan Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Yadi Sugandi), Aktris Terbaik (Rahayu Saraswati), dan Tempat Pertama Pilihan Penonton, dan masuk nominasi Aktor Terbaik (Donny Alamsyah) dalam Festival Film Bandung 2010.    

LES CHEVALIERS BLANCS
(Prancis, 2015, Durasi: 112 menit, Sutradara: Joachim Lafosse)
Didukung oleh Institut Français d’Indonésie dan Alliance Française Bali

Jacques Arnault, kepala LSM, meminta para pekerja kemanusiaan di Afrika untuk membantu anak-anak yatim piatu, yang kemudian mengarahkannya pada sebuah konsekuensi yang mesti mempertaruhkan reputasinya. 

Film ini meraih nominasi pada Toronto International Film Festival 2015,  Philadelphia Film Festival 2015, Jerusalem Film Festival 2016, Hong Kong International Film Festival 2016, serta menerima penghargaan sutradara terbaik pada San Sebastián International Film Festival 2015. 

SHOESHINE 
(Italia, 1948, Durasi: 93 menit, Sutradara: Vittorio De Sica)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Film ini mengisahkan tentang dua sahabat, Giuseppe Filippucci dan Pasquale Maggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan dan uang untuk membeli kuda, akhirnya harus berurusan dengan polisi. Shoeshine adalah salah satu film neorealis pertama di Italia. Pada tahun 1948, film ini  menerima Penghargaan Kehormatan di Academy Awards karena kualitasnya yang tinggi. Penghargaan ini yang kemudian disebut sebagai Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara #KhususMisbar

    Setelah bulan lalu mengedepankan film-film dengan tokoh orang biasa di tengah kecamuk perang dan konflik, Sinema Bentara bulan Desember ini menghadirkan film-film cerita panjang dan pendek peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri yang merujuk kisah anak-anak yang mengalami pahit getir kehidupan sedini masa mudanya; tidak memiliki ibu, saudara atau ayah oleh berbagai alasan. Anak-anak “korban“ situasi tertentu ini melihat hidup dan kehidupannya boleh dikata berbeda dengan anak-anak keluarga umumnya.

  • JAIS DARGA NAMAKU

    Bila menyimak buku “Jais Darga Namaku“, seketika kita tergoda, apakah ini sebuah autobiografi, sekadar memoar yang disajikan dengan gaya novel, ataukah sebuah roman, bauran antara fakta dan fiksi yang mengisahkan secara utuh menyeluruh perihal sosok terpilih? Buku ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi“ atau “pulang“.