Sinema Bentara #KhususMisbar

SEPILIH KISAH ANAK TAK BERIBU

14 Des 2018 ~ 15 Des 2018 Bentara Budaya Bali | pukul 18.00 WITA

Sinema Bentara #KhususMisbar
SEPILIH KISAH ANAK TAK BERIBU
Jumat – Sabtu, 14 – 15 Desember 2018, pukul 18.00 WITA 

Setelah bulan lalu mengedepankan film-film dengan tokoh orang biasa di tengah kecamuk perang dan konflik, Sinema Bentara bulan Desember ini menghadirkan film-film cerita panjang dan pendek peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri yang merujuk kisah anak-anak yang mengalami pahit getir kehidupan sedini masa mudanya; tidak memiliki ibu, saudara atau ayah oleh berbagai alasan. Anak-anak “korban“ situasi tertentu ini melihat hidup dan kehidupannya boleh dikata berbeda dengan anak-anak keluarga umumnya. 

Kita dapat menyimak bagaimana perjalanan Nori dalam film Babai (Jerman, 2015) hidup berjualan bersama ayahnya di sepanjang jalanan di Kosovo. Hanya beberapa tahun setelah jatuhnya Tembok Berlin, ayahnya diminta pergi ke Jerman, meninggalkan Nori. Merasa sepi dan putus asa, Nori memulai perjalanan berbahaya ke Jerman untuk mencari ayahnya. 

Begitupula dengan Khadji, anak Markov dalam film Le Grand Homme (Prancis, 2013) yang kembali bertemu dengan ayahnya setelah lama ditinggalkan dalam tugas militer. Ketika kawan ayahnya, Hamilton meminjamkan identitas baru kepada Markov setelah ia kehilangan kewarganegaraan Prancis akibat kesalahan militer, Khadji dan Hamilton mesti mencari ayahnya yang hilang.

Tidak jauh berbeda dengan kisah Salman dalam film Tanah Surga...Katanya (Indonesia, 2012), seorang anak laki-laki yang hidup bersama kakek, ayah, dan saudara perempuannya di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia. Mereka memiliki penghasilan dibawah rata-rata. Meskipun Salman mencitai Tanah Air, ia harus memilih untuk ikut bermigrasi ke negara tetangga demi penghidupan yang lebih layak atau tetap tinggal di Indonesia.

Secara khusus, Sinema Bentara kali ini bekerjasama dengan Metasinema FIB Universitas Andalas dan Andalas Film Festival, menghadirkan film-film pendek terpilih yang terangkum dalam program Kompetisi 5 – Anak-Anak yang Tidak Merdeka; menggambarkan tokoh anak-anak yang kehilangan karakter atau sosok seorang “Ibu“ atau orang tua yang dapat dijadikan panutan; akibat ketidakhadiran mereka dalam tumbuh-kembang keseharian anak yang riang. 

Beberapa film pendek tersebut seperti: Galuh Aryanti (Alpha Pictures Bandung, 2018, Durasi: 12 menit, Sutradara: Robby Nurdiansyah); Tangan-Tangan Kecil II (Freeaktivitas Film Bogor, 2017, Durasi: 21 menit, Sutradara: Agung Jakarsih), dan Cooking Flower (Freeaktivitas Film Bogor, 2018 Durasi: 21 menit, Sutradara: Agung Jakarsih).

Program ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini bekerjasama dengan Metasinema FIB Universitas Andalas, Andalas Film Festival, Bioskop Keliling BPNB Bali Kemendikbud RI, Goethe Institute Indonesien, Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, dan Udayana Science Club.

SINOPSIS FILM
TANAH SURGA .... KATANYA
(Indoneia, 2012, Durasi: 90 menit, Sutradara: Herwin Novianto)
Didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali Kemendikbud RI

Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia hidup dengan kesendiriannya. Setelah istri tercintanya meninggal, ia memutuskan untuk tidak menikah dan tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya. Haris dan dua orang anaknya bernama Salman dan Salina. Hidup di perbatasan Indonesia Malaysia membuat persoalan tersendiri, karena masih didominasi oleh keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat perbatasan harus berjuang setengah mati untuk mempertahankan hidup mereka, termasuk keluarga Hasyim.

Film ini mendapatkan penghargaan Piala Citra 2012 untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Penata Musik Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik; serta penghargaan Festival Film Bandung 2013 kategori Penulis Skenario Terpuji Film Bioskop.

Trailer: https://www.youtube.com/watch?v=O5w6yy64ouk 

LE GRAND HOMME 
(Prancis, 2013, Durasi 107 menit, Sutradara: Sarah Leonor)
Didukung oleh Institut Français d’Indonésie dan Alliance Française Bali

Dua teman, Markov dan Hamilton tiba-tiba disergap ketika tengah bertugas; Hamilton terluka parah dan diselamatkan oleh Markov, tetapi Markov melakukan kesalahan militer yang membuatnya kehilangan kewarganegaraan Prancis. Kembali ke kehidupan sipil, tidak berdokumen dan menganggur Markov menemui Khadji, putranya yang berusia 11 tahun dari pengungsi ilegal. Hamilton, yang dirawat di Prancis, memperoleh kartu identitas Prancis, ia meminjamkannya kepada Markov sehingga ia dapat menemukan pekerjaan dan merawat putranya, tetapi tiba-tiba Markov menghilang. Hamilton lah yang harus menghadapi situasi Khadji yang rumit.

Trailer : https://www.youtube.com/watch?v=bF6uJDzSmEo 

BABAI
(Jerman, 2015, Durasi: 104 menit, Sutradara: Visar Morina)
Didukung oleh Goethe Institut Indonesien 

Nori yang berusia 10 tahun dan ayahnya Gezim berkeliaran di jalanan Kosovo menjual rokok dan hampir tidak mencukupi biaya hidup sehari-hari. Hanya beberapa tahun setelah jatuhnya Tembok Berlin, Gezim diminta pergi ke Jerman, meninggalkan putranya untuk mencari kehidupan baru. Merasa sepi dan putus asa, Nori memulai perjalanan berbahaya ke Jerman untuk mencari ayahnya. Ketahanan, ketangguhan, dan kesedihannya harus cukup untuk membimbingnya.

Film ini telah diputar disejumlah festival film internasional seperti: Adelaide Film Festival 2015, Cleveland International Film Festival 2016, German Camera Award 2016, Ghent International Film Festival 2015, Haifa International Film Festival 2015, Hong Kong International Film Festival 2016. Film ini juga meraih sejumlah penghargaan seperti Aktor Terbaik pada  Angers European First Film Festival 2016, sutradara terbaik pada Baden-Baden TV Film Festival 2016, Karlovy Vary International Film Festival 2015, film terbaik pada Cottbus Film Festival of Young East European Cinema 2015, Crossing Europe Film Festival 2016, Munich Film Festival 2015, Prix Europa 2016.

Trailer: https://www.youtube.com/watch?v=MXnmJBVtFBY

SERI FILM PENDEK: ANDALAS FILM FESTIVAL
GALUH ARYANTI 
(Robby Nurdiansyah | Alpha Pictures dan Cikopi Films |  2018 | Bandung | 12 menit )

Anak yang harus ikut terjebak dalam konflik yang dibangun oleh orang tuanya. Ayah yang superior dan ibu yang terkukung dalam kesibukan mengurus rumah dan anak seorang diri.

TANGAN-TANGAN KECIL II 
(Agung Jakarsih | Freeaktivitas Film | Bogor |  2017 | 21 menit)

Kemajuan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat di lingkungannya, membuat Angga merasa harus tetap melestarikan permainan tradisional yang menemani masa kecilnya. Entah kenapa, perlahan permainan tradisional yang sering dimainkan anak-anak mulai hilang dan dilupakan. Hal tersebut menjadi sebuah keresahan tersendiri yang dibarengi dengan berubahnya anak-anak didesanya yang lebih memilih untuk bermain gadget. Terutama Fatir dan kedua temannya Bima dan Ikbal, yang sedikit demi sedikit menghasut anak lain untuk meninggalkan permainan tradisional dan beralih mengikuti kemajuan jaman. Pertentangan tersebut membuat Angga menantang Fatir untuk bermain permainan tradisional yang sebelumnya biasa mereka mainkan. Kompetisi dimulai.

COOKING FLOWER 
(Agung Jakarsih | Freeaktivitas Film | 2018 |Bogor | 10 menit)

Nadia dan Najwa kecewa dengan orang tuanya yang sibuk. Dalam perbincangannya disebuah kebun, mereka bilang rindu dengan masakan mamanya yang sudah lama tidak mereka rasakan. Kerinduan tersebut coba mereka obati dengan bermainmemasak bunga dan dedaunan.

Jadwal Pemutaran
Jumat, 14 Desember 2018
16.00 WITA TANAH SURGA... KATANYA
18.00 WITA Pasar Kreatif Misbar & Pertunjukan Musik
19.00 WITA   LE GRAND HOMME 

Sabtu, 15 Desember 2018
18.00 WITA Pertunjukan Musik
18.30 WITA   Seri Film Pendek: ANDALAS FILM FESTIVAL
20.00 WITA Diskusi Sinema
20.00 WITA   BABAI

agenda acara bulan ini
  • JAIS DARGA NAMAKU

    Bila menyimak buku “Jais Darga Namaku“, seketika kita tergoda, apakah ini sebuah autobiografi, sekadar memoar yang disajikan dengan gaya novel, ataukah sebuah roman, bauran antara fakta dan fiksi yang mengisahkan secara utuh menyeluruh perihal sosok terpilih? Buku ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi“ atau “pulang“.