The 4th Solo Exhibition of Sigit Santosa

HIGH DREAMS OF A TEACHER

Rabu, 17 Januari 2018 19.30 WIB | Balai Soedjatmoko Solo


Opening Pameran : Rabu, 17 Januari 2018 | Pukul 19.30 WIB
Dibuka Oleh : Ahmad Adib Ph.D 
HIburan : Ber8 Music
Pameran Berlangsung :
18-23 Januari 2018 | Pukul 09.00-21.00 WIB

Workshop 'Sketsa Wajah Dengan Pensil’
Sabtu, 20 Januari 2018 | Pukul 14.00 WIB

GURU, SENI IKLAN DAN GARIS TANGAN

SERAT “Wedhatama“ karya pujangga Mangkunegara IV (1811 – 1881) pada pupuh Sinom (ke-15) baris terakhir tertulis: Amemangun karyenak tyasing sasama. Terjemahan bebasnya, “ciptakanlah karya yang bisa menimbulkan rasa senang bagi orang lain.“ Dalam budaya Jawa, gatra itu telah menjelma jadi filosofi atau pandangan hidup yang jadi pedoman bagi sebagian masyarakat Jawa dalam berperilaku sehari-hari. Itu pulalah yang rupanya menginspirasi Sigit Santosa dalam menjalani hidupnya sebagai guru sekaligus seniman.

“Sejak remaja saya memang ingin jadi guru. Rasanya, kok, bahagia bisa membagikan ilmu pengetahuan yang kita punya kepada orang lain. Saya berpegang pada ujaran Jawa: darbe kawruh kang ora ditangkarake, bareng mati tanpa tilas. Punya pengetahuan namun tidak disemaikan kepada orang lain akan percuma saat pemiliknya menutup mata.“

Sigit menggabungkan kedua filosofi itu; berkarya demi kesenangan orang lain sekaligus ingin selalu berbagi ilmu. Pria kelahiran Solo 67 tahun silam itu sampai hari ini masih setia – dan menikmati profesinya sebagai guru di dua perguruan tinggi di Jakarta. Mengajar mata kuliah lukisan sketsa dan ilustrasi, Sigit seperti memberi martabat baru di dua perguruan yang mengarahkan anak didiknya pada bidang periklanan, fashion dan dunia kreatif lainnya itu.

Ia lebih suka menyebut keterampilan yang dia miliki sebagai hobi daripada bakat. Bakat dianggap bersifat given, karunia yang diperoleh dari langit. Sigit membuktikan bahwa setiap pekerjaan yang didasari oleh hobi alias rasa senang justru berpeluang berkembang karena semua dilakukan tanpa beban. “Saya melukis bukan semata-mata karena merasa punya bakat melukis. Saya bisa main musik, bermain gitar, menyanyi, bikin lagu, juga bukan lantaran saya merasa berbakat musik, melainkan karena sejak remaja saya memang suka musik.“

Etos itulah yang dia tularkan kepada semua orang yang dia jumpai, termasuk para mahasiswanya. Tidak semua mahasiswanya “berbakat“ melukis, namun dia memotivasi mereka untuk terus belajar dan berlatih dengan didasari rasa senang. Ia pun menemukan ‘metodologi’ pengajaran yang unik agar tercipta suasana kondusif; kuliah yang menyenangkan dan inspiratif. 

“Saya memang sengaja ingin membuat suasana beda. Kuliah jangan monoton dan kaku. Biar suasana kuliah terasa santai dan menyenangkan, sesekali saya ajak mereka main musik bareng-bareng di kelas. Mahasiswa pun menyambut dengan antusias. Suasana jadi rame, dan kuliah pun jadi terasa asik,“ tuturnya. Tak heran, ia selalu menenteng gitar ke ruang kuliah.

Jalan hidup memang tak terduga. Hobinya menggambar dan bermain musik saat remaja, di belakang hari ternyata saling melengkapi saat menjalani kariernya. Tak syak, Sigit mungkin sedikit dari seniman yang menerjuni dunia seni dengan sikap menikmati – dalam arti harafiah. Ya, sebagai guru, pelukis, juga entertainer lewat permainan gitarnya. 

Bermodal gitar akustik dan peralatan melukis yang selalu menemani, Sigit membuka cakrawala pergaulannya ke berbagai lapisan masyarakat. Tak hanya di kampus, ia pun siap mengoreskan kuasnya di atas kertas tanpa pandang lokasi. Entah di kantor instansi, kafe, warung, mal, atau ruang publik lain. Semua ia lakukan dengan hati riang dan tanpa pamrih.  Ia pun dengan mudah  menemukan sasaran – obyek yang hendak dia lukis. Si “korban“ biasanya dengan senang hati mau dia lukis. Apalagi hasil sketsa yang indah itu dia berikan cuma-cuma.

Atmosfer metropolis

Sigit memilih sketsa wajah yang cenderung kurang diperhitungkan dalam ranah seni murni.  Ia mengeksplorasi teknik lukis china – hitam-putih -- yang hemat garis, berkesan liris, dipadu dengan sapuan kuas yang  kuat, kontras namun bergaya. Kemampuannya menangkap sisi keindahan dari obyeknya, lalu dia olah secara subtil, itulah nilai lebih sketsa-sketsa Sigit.

Selain menyerap teknik lukis china, uniknya, lukisan sketsanya sekaligus menghadirkan atmosfer metropolis ‘rasa baru’. Lantas, Sigit pun dikenal sebagai “spesialis“ sketsa wajah yang mendapat tempat di panggung kesenian urban. Lebih dari itu, Sigit sesungguhnya berhasil mengangkat martabat sketsa wajah sebagai seni yang diperhitungkan di mata publik modern.

Pengalaman berkarya yang dia timba lebih dari 20 tahun di bidang periklanan, di samping mengajar di bidang yang sama, rupanya tak cuma mengasah keterampilannya. Di situ terbentuklah spirit berkesenian Sigit yang -- diakui atau tidak -- mengarah kepada dunia industri (iklan). Begitu pun, di samping lukisan wajah-wajah cantik yang ditandai dengan bibir merah sensual, Sigit juga menyisihkan waktu untuk menggoreskan sejumlah wajah sosialita negeri ini, termasuk para figur publik dan tokoh politik yang lagi populer. 

Jalan hidup yang dilakoni Sigit membawanya ke panggung yang lain. Dua tahun silam, ia berhasil mendekati keluarga  Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama alias Ahok yang saat itu tengah jadi sorotan publik. Lewat pendekatan yang elegan (kebetulan anak gadis Ahok adalah siswa privat melukisnya) Sigit membuat sketsa wajah Veronica Tan alias Nyonya Ahok, dan sekaligus membuka pameran tunggalnya di Bentara Budaya Jakarta, 27 Agustus 2015. 

Sketsa wajah Veronica Tan karya Sigit Santosa niscaya menjadi karya yang monumental dalam pameran tunggal Sigit di Balai Soedjatmoko kali ini – setelah dipamerkan pertama kali di BBJ. Menjadi terasa monumental lantaran karya ini melampaui sekadar sketsa wanita cantik. Seakan memantul memori publik tentang Ahok, sosok fenomenal yang merepresentasikan banyak aspek; politik, nilai kemanusiaan, kultural, dan perubahan kesadaran kebangsaan.

Suatu pencapaian yang tidak setiap seniman mampu meraihnya. 

Kesenimanan Sigit niscaya sebuah proses panjang yang didasari oleh sikap rendah hati. Bisa saja itu dianggap sebagai “garis tangan“ -- yang tak patut dicemburui, tapi harus dibuktikan sendiri. Etos mau belajar, dan bekerja keras untuk berkemampuan – tentang apa saja. Itulah bentuk dedikasinya selaku guru yang senantiasa dia mau tular dan tanamkan kepada siapa saja. 
Ardus M Sawega (Kurator Bentara Budaya)

agenda acara bulan ini
  • Keroncong Bale

    Orkes keroncong Swadesi terbentuk ketika bapak H.Agus Tri masih menjabat sebagai lurah di desa Gedangan, Grogol, Sukoharjo. Beliau berniat untuk mengaktifkan kaum muda di desa tersebut. Dan mempunyai asumsi bahwa melewati seni,akan lebih mudah merangkul kaum muda.

  • Bincang Novel karya Leila Chudori

    Penulis sekaligus jurnalis Leila S Chudori, meluncurkan novel baru bertajuk Laut Bercerita. Novel ini berkisah tentang keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasa ada yang kosong di dalam dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang pencarian kejelasan mencari makam anaknya dan tentang cinta yang tak akan luntur.