Astuti Kusumo, Bring The Spirit, 2x3, Oil, 2016

Seratan Luru Raos

Pameran Tunggal Astuti Kusumo

Jumat, 21 April 2017 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.30 WIB

Pameran berlangsung: 21 – 28 April 2017   |   Pukul 09.00 – 21.00 WIB
 

Luru secara etimologi berarti memburu, tetapi dalam bahasa Jawa, kontekstual menjadi belajar atau memburu ilmu. Jika dijadikan secara diglosif maka arti pada bahasa pustakanya hampir sama dengan kata ngudi. Namun kata “ngudi“ agak kurang dinamis jika dibandingkan dengan luru. Sedangkan Raos dalam bahasa Jawa lebih dalam dari sekedar kata “rasa“. Raos itu merasakan dengan atma, jadi tidak sekadar merasakan indera, tetapi juga secara empati. Misalnya, jika seseorang mencubit kita, seketika yang dirasakan adalah sakit pada kulit yang dicubit, tetapi dalam hal ini juga meliputi emosi orang mencubit, mengapa dia mencubit. Jadi raos itu lebih dalam di mana ada berpikir metafisik. “Seratan Luru Raos“ dapat diartikan sebagai catatan  dalam belajar dengan, melalui, tentang dan dalam rasa seseorang.

Aku berharap karya-karya ini merupakan titik tertinggi dari raos terhadap diri sendiri, juga raos terhadap proses maupun produk sosial yang saat ini selalu bergejolak. Melalui raos-ku, aku ingin membaca dunia sosial. Gunung-gunung merupakan anganku, yaitu tercapainya titik yang tertinggi, juga sebagai instrumen dalam rangka mengintropeksi diri, dalam hal ini gunung ibarat hati, ketinggian gunung tak ada yang bisa menandingi. Di kala Sang Ego sedang melanda manusia, seperti kemarahan luapan emosi atau apapun bentuk perilaku negatif, akan menghancurkan manusia itu sendiri. Beberapa makhluk adalah jiwaku juga raos-ku sendiri yang kadang tidak stabil, kadang juga belum pernah kujumpai. Warna kesempurnaan pun sedang kucari melalui instrumen raos-ku. Aku tetap luru raos lewat kawruh dan luru kawruh tentang dunia ... alam dan kehidupan  melalui raos-ku. Dalam karyaku yang lain aku luru  spirit perjuangan wanita   pun ketika  saat kutemui sosok wanita, yaitu ibuku, kucoba raos-ku membaca raos ibu  karena aku juga seorang ibu yang harus memberi raos kepada anak-anakku.

Momentum tanggal 21 April 2017 ini, aku mencoba membaca sosok wanita melalui raos, dengan spirit perjuangannya. Dan dengan lukisan ini pula ingin kubeberkan raos: raos angan, raos sedih, raos gembira/suka maupun raos kegelisahan. Semoga raosku bisa kubaca sendiri sebagai refleksi atas hidupku. Kucoba juga temui Gusti melalui raos.

Yogyakarta, 15 Maret 2017
Astuti Kusumo