SERAT WIRA ISWARA-GANDRUNG ASMARA

Macapat Soedjatmakan

Senin, 29 Juli 2019 Balai Soedajtmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Karya Pakubuwana IX
Pembabar: Drs. Supardjo, M.Hum. dan Darsono, S.Kar, M.Hum


Masih melanjutkan Serat Wira Iswara yang sudah dibahas bulan Mei 2019 lalu. 

Serat Wira Iswara adalah termasuk karya besar ISKS. Pakoeboewono IX. Sesuai dengan namanya wira, wara, warah, yang artinya ajaran, petuah; Iswara artinya raja. Jadi Wira Iswara adalah ajaran atau petuah yang disampaikan oleh raja, dan karena isinya maka serat ini dapat digolongkan sebagai karya sastra tutur atau sastra ajar. Serat Wira Iswara adalah merupakan kompilasi atau kumpulan dari berbagai karya beliau, di antaranya Serat Gandrung Asmara, Serat Gandrung Turidha, Serat Wulang Rajaputra, Serat Wulang putri, dan sebagainya.

Kali ini khusus Serat Gandrung Asmara yang akan dijadikan bahan waosan dan bahasan sarasehan di Macapatan Balai Soedjatmoko Bulan Juli ini.

Serat Gandrung Asmara ini berbicara tentang  ungkapan  cinta kasih, rasa kasmaran, dari seseorang yang sedang kasmaran terhadap wanita pujaan hatinya. Di dalam pengungkapan rasa ini terselip ajaran-ajaran luhur, diantaranya tentang kesetiaan, kejujuran, dsb. Serat ini termasuk karya sastra indah, karena sang raja dalam menyampaikan ajaran, pesan, petuah, banyak sekali menggunakan kata-kata arkhais, busananing basa, dan basa rinengga, sehingga sangat enak dibaca dan mudah dipahami isinya.

agenda acara bulan ini
  • AIR MATA AIR BENGAWAN

    Sungai, sumber cerita dalam kehidupan manusia. Banyak ingatan terekam yang “mengalir“ di sungai. Dulu, sering kita melihat anak-anak bermain di sungai, berenang, ciblon, mandi dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai yang jernih membuat mereka ingin berlama-lama bermain di sungai. Ingatan kita juga ke Bengawan Solo, yang keberadaannya menjadi sumber utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun ironisnya, di waktu yang bersamaan perusakan terjadi di mana-mana.

  • PANGGUNG MAESTRO FILM TAN TJENG BOK

    Kehidupan Tan Tjeng Bok yang menarik ini meninggalkan cukup banyak artefak yang unik dan menarik. Berbekal artefak-artefak ini lah kemudian kisah kehidupan Tan Tjeng Bok dibukukan dalam bentuk Biografi oleh Fandi Hutari dan Deddy Otara.