SENI RUPA BALI: IMAJI, MEMORI, TRADISI

Timbang Pandang

Jumat, 20 Maret 2020 Bentara Budaya Bali | pukul 18.30 WITA

Menyongsong Pameran Bali Kanda Rupa yang akan diselenggarakan pada 13 Juni-12 Juli 2020 serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLII , diselenggarakan sebuah timbang pandang seputar Seni Rupa Bali dengan fokus utama seputar imaji, memori dan tradisi. Tampil sebagai narasumber yakni Dr. Jean Couteau (koordinator kurator Pameran Bali Kanda Rupa), dan Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana (Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). 

Pameran Bali Kanda Rupa bukan semata menghadirkan karya-karya perupa Bali lintas generasi, dari yang paling sepuh hingga yang terkini, akan tetapi adalah juga upaya merunut atau melacak jejak (tematik, stilistik dan estetik) yang mewarnai proses cipta seniman lintas zaman ini. 

Yang dikedepankan adalah pelukis-pelukis ragam tradisional atau klasik Bali, seputar gaya Ubud atau Ubud Style meliputi Batuan, Pengosekan, Padang Tegal, Keliki dan sebagainya yang memang rekah dan bertumbuh di kawasan kultural Ubud, juga tak ketinggalan Kamasan serta Nagasepaha– hakikatnya mencerminkan pula dinamika seni rupa sebelum dan sesudah era Pita Maha– didirikan pada 29 Januari 1936 oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati (Raja Ubud), Walter Spies (pelukis asal Jerman), dan Rudolf Bonnet (pelukis asal Belanda).
 
Melalui tematik tertentu yang selama ini mengemuka, seperti  lukisan tentang pasar, tarian, atau upacara, dapat dibaca pewarisan stilistik maupun capaian teknik, termasuk ragam ekspresi yang mempribadi. Publik juga dapat menyimaknya dari ragam ikonik tertentu khas Bali, semisal sosok perempuan, petopengan, tokoh wiracarita Ramayana atau Mahabarata; terbukti mewarnai kreasi seniman lintas generasi. Runut saja I Wayan Djujul (b.1942) berjudul “Jauk“, Ida Bagus Sena (b.1966)  “Lahirnya Boma“, Dewa Putu Mokoh (b.1936) berjudul “Good Sleep“, I Ketut Ginarsa (b.1951) berjudul “Dewi Saraswati“, I Ketut Madri (b.1943) berjudul “Jatayu Pralaya“ dan lain-lain.
 
Dinamika itu tecermin pula pada karya perupa generasi muda di antaranya I Gde Ngurah Panji (b.1986), I Made Sunarta (b.1980), I Made Warjana (b. 1985), I Wayan Wijaya (b. 1984), I Wayan Suardika (b. 1984), dan I Nyoman Winaya (b.1983); dan dan I Gede Pino (b.1985) yang unik secara bentuk dan mengandung kedalaman pesan, gigih mengolah ikon-ikon yang hidup dalam memori kultural masyarakat Bali menjadi sebentuk rupa cerminan capaian estetik masing-masing yang otentik. Suatu kreasi dengan sentuhan modern yang mengandung kekuatan ekspresi terpilih, di mana ikonografi Bali direvisi atau dikreasi sedemikian rupa melampaui kebakuan bentuk lukisan Bali tradisional.
 
Karya-karya tersebut, baik para pendahulu maupun generasi yang lebih kini, mencirikan adanya pergulatan kreatif menyikapi tematik, stilistik sekaligus estetik. Ini adalah sebuah upaya transformasi yang mempribadi, boleh jadi merefleksikan pula transformasi masyarakat Bali dari ragam budaya agraris komunal yang guyub hangat menuju masyarakat modern dengan kecenderungan individual. Memang, sedini awal kolonial, bahkan jauh sebelum itu, masyarakat Bali telah mengalami sentuhan globalisasi dengan beragam determinasinya.
 
Pameran kali ini dihadirkan dengan merujuk pada tema PKB 2020, yakni sebentuk aktualisasi seputar ATMA KERTIH, selaras visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Namun demikian tema ini bukanlah untuk penyeragaman, melainkan juga hendak menegaskan adanya keragaman yang memang jadi elan kreatif seni budaya Bali selama ini. Dengan demikian pameran ini, baik karya dua atau tiga dimensi, termasuk karya-karya yang bernilai memorabilia (masterpice dan menyejarah), diharapkan adalah buah cipta yang telah Melampaui Ruang, Melampaui Waktu, dan Melampaui Keadaan (Bentuk/Media). Ketiga hal itu kiranya dapat menjadi acuan pendekatan (fokus bacaan) guna merefleksi tema PKB: Atma Kertih.

Profil Pembicara: 
Dr. Wayan Kun Adnyana, seniman dan akademisi yang kini Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Selain intensif mengikuti pameran seni rupa di berbagai kota, Kun juga menulis kritik seni rupa dan kebudayaan di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, majalah Visual Arts, dll. Buku-bukunya antara lain: “Nalar Rupa Perupa“(Buku Arti, Denpasar, 2007), Bersama DR. M. Dwi Marianto menulis buku Gigih Wiyono; Diva Sri Migrasi, Galeri 678, Jakarta, 2007. Bersama Dr Jean Couteau, dan Agus Dermawan T menulis buku Pita Prada (Biennale Seni Lukis Bali Tradisional), Bali Bangkit, Jakarta, 2009. Turut merintis Bali Biennale 2005, sebagai committee dan juga kurator Pra-Bali Biennale-Bali 2005. Telah mengkurasi berbagai pameran seni rupa untuk: Tony Raka Art Gallery Ubud, Pure Art Space Jakarta, Ganesha Gallery Four Seasons Resort Jimbaran, Gaya Fusion Art Space Ubud, Danes Art Veranda Denpasar, Tanah Tho Art Gallery Ubud, Syang Art Space Magelang, Kendra Art Space Seminyak, Mondecor Jakarta, dan lain-lain. Penghargaan: finalis UOB Art Awards 2011, Finalis Jakarta Art Awards (2010), Nominasi Philip Morris Indonesian Art Awards (1999), Kamasra Price Seni Lukis Terbaik (1998), dll.

Dr. Jean Couteau, adalah budayawan dan pengamat seni asal Perancis, telah lama bermukim di Indonesia. Ia menulis lebih dari 15 judul buku dalam bahasa Inggris, Perancis dan Indonesia, antara lain : Lempad (tentang maestro lukis Bali I Gusti Nyoman Lempad), Bali Today Catatan-Catatan Kebudayaan (edisi 1 dan 2), tentang pelukis Affandi, Srihadi Soedarsono, Walter Spies, Puri Lukisan, Bali Inspires dan lain-lain. Ia juga menerjemahkan karya sejarawan besar, Denys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya), Keping Rahasia Terakhir karya Jean Rocher serta novel Emilie Java 1904 karya Chatherine Von Moppes, dan sebagainya. Jean Couteau menjadi penulis di berbagai media antara lain : koran KOMPAS, Majalah Tempo, The Jakarta Post, C-Art, Visual Art serta media lain di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu ia juga merupakan kurator dan dosen tamu Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, serta kerap diundang sebagai pembicara dalam forum-forum kebudayaan nasional maupun internasional. Kini ia juga aktif mengisi kolom Udar Rasa di KOMPAS setiap minggunya.


agenda acara bulan ini
  • TANAH AIR DAN KITA

    Sinema Bentara bulan Maret ini akan menayangkan sejumlah film panjang lintas negeri yang berkisah tentang rasa cinta terhadap Tanah Air. Film-film yang diputar tidak hanya menghadirkan tokoh sarat perjuangan, namun juga sosok pribadi yang memiliki semangat kemanusiaan, keindahan seni dan pertiwi berikut mengedepankan hubungan welas asih sesama manusia yang universal.