SENGSARA MEMBAWA NIKMAT

Pameran Ilustrasi Grafis Sampul Roman Klasik

Senin, 23 Maret 2020 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.00 WIB

Masih adakah di antara Anda yang teringat rupa sampul roman klasik Indonesia terbitan antara 1920-an hingga 1950-an? Permisalan sederhana, seperti apakah gambar sampul buku Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang pertama, sebelum lantas karya ini dicetak ulang dengan pelbagai perwajahan yang baru? Tahukah Anda bahwa kebanyakan karya sampul pada era awal abad ke-20 tersebut dibuat dengan teknik laiknya karya seni rupa–suatu pertalian yang menunjukkan antara sastra dan rupa dapat bersilang saling mengisi?

Bentara Budaya Yogyakarta menghadirkan kembali karya-karya sampul roman klasik tersebut dalam pameran ini. Kita akan melihat sepilihan cover buku era 1920-1950an. Tidak hanya itu, khusus untuk menautkan antara seniman muda kini dengan karya-karya roman klasik, diselenggarakan pula open call yang mengundang seniman maupun desainer grafis berusia di bawah 29 tahun untuk merespons ulang karya-karya tersebut ke dalam rancangan sampul baru kreasi mereka sendiri. Jadi, pameran ini mencoba memberi benang merah antara karya-karya lawasan dengan penciptaan para seniman terkini, tentu saja mengacu dari titik utama: roman klasik Indonesia. 

agenda acara bulan ini
  • EKSISTENSIALISME JEAN - PAUL SARTRE (1905 - 1980)

    Sartre dianggap filsuf terakhir Prancis yang berambisi membangun sistem filsafat (mengikuti gaya kaum metafisikus besar pada abad ke-19). Ambisi yang sia-sia dan tak pernah tercapai. Tanpa lelah Sartre memarodikan dengan penuh ejekan para fenomenolog besar Jerman seperti Hegel, Husserl, dan Heidegger. Meski begitu, Sartre adalah pemikir autentik, yang mampu memberi daging segar pada hal-hal yang sebelumnya dianggap abstrak. Sejak karya besarnya L’Etre et le neant (Being and Nothingness) tahun 1943 dan L’Existentialisme est un humanisme (Existentialism is Humanism) tahun 1946, Sartre memberikan prinsip- prinsip untuk filsafat modern yang memberikan kebebasan. Dari situ, ia mengambil posisi tegas di depan isu- isu kontemporer seperti feminisme dan antirasisme.