SEMIFINALIS TRIENNIAL SENI GRAFIS INDONESIA VI - 2018

KOMPETISI INTERNASIONAL BENTARA BUDAYA

Sabtu, 15 Desember 2018 Bentara Budaya Jakarta

Berawal dari semangat untuk mendorong perkembangan seni grafis di Indonesia, Bentara Budaya menyelenggarakan Triennial Seni Grafis Indonesia sejak tahun 2003. Triennial Seni Grafis  VI pada tahun 2018 ini adalah wujud dari komitmen Bentara Budaya terhadap seni grafis.

Pengiriman karya untuk Triennial Seni Grafis VI-2018 telah dimulai sejak bulan September hingga 10 Desember 2018. Pada hari Kamis, 13 Desember 2018 bertempat di Bentara Budaya Jakarta, telah dilakukan penilaian dan pemilihan terhadap ratusan karya seni grafis yang  dikirim dari berbagai negara.

Dewan juri yang dipimpin oleh Ipong Purnama Sidhi (kurator Bentara Budaya dan Perupa), beranggotakan Dwi Marianto (penulis, perupa dan dosen),   Edi Sunaryo (Dosen dan Perupa), Devy Ferdianto (Pegrafis dan Kepala Divisi Seni Cetak di Ganara Art Centre), Theresia Agustina Sitompul (Dosen, Perupa dan Pegiat Studio Grafis Minggiran, Yogyakarta) telah berhasil menetapkan 50 semifinalis dari 307 karya yang masuk dari 26 negara. 50 semifinalis ini berhak mengikuti penjurian tahap kedua.

Penjurian tahap kedua akan dimulai pada bulan Maret 2019 dan akan dilanjutkan dengan penjurian tahap ketiga pada bulan April 2019. Peserta yang karyanya lolos seleksi tahap I dimohon untuk mengirimkan karya asli terseleksi pada Panitia Kompetisi Internasional Triennial Seni Grafis Indonesia VI - 2018, selambatnya tanggal 8 Maret 2019 ke Bentara Budaya Jakarta.




agenda acara bulan ini
  • Jazz Mben Senen

    Acara Jazz Mben Senen berlangsung di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta setiap hari Senin malam. Anak-anak muda pecinta jazz, yang biasa dipanggil dengan sebutan kancaku di Jazz Mben Senen sudah merasa bahwa hari Senin bagi mereka identik dengan Jazz Mben Senen. Meski saat ini banyak acara ngejam bareng jazz di berbagai tempat di Yogyakarta, tidak menyurutkan jumlah penikmat Jazz Mben Senen.

  • WELAS ASIH

    Dalai Lama dalam khutbahnya: “Agama apa pun yang bisa membuat Anda Lebih welas asih, lebih berpikiran sehat, lebih objektif dan adil, lebih menyayangi, lebih manusiawi, lebih punya rasa tanggungjawab, lebih beretika, agama yang punya kualitas seperti yang saya sebut adalah agama terbaik,"

  • BANGKU SEKOLAH DAN CITA-CITA

    Sinema Bentara bulan ini menghadirkan film-film fiksi pendek dan panjang, juga dokumenter pendek yang mengetengahkan tema seputar pendidikan, sekolah, dan cita-cita. Program ini memaknai Hari Pendidikan Nasional yang jatuh tanggal 2 Mei.

  • #INDONESIA

    Beberapa tahun ini dengan berkembangnya sosial media sebagai alat komunikasi yang efektif dan mendunia dalam menyampaikan aspirasi, ide, opini, dan sebagainya, semakin banyak hal positif yang muncul terutama dalam memudahkan relasi antar personal tanpa terpisah jarak dan waktu.

  • ALI BABA

    Cerita 1001 Malam dari Persia di zaman Sultan Harun Al Rasyid sangat terkenal dan popular di zamannya. Kisahnya memuat banyak sekali cerita dari jazirah Arab. Antara lain, cerita Ali Baba, Aladin, Sinbad, dan Istana Marmer yang sungguh sangat menarik, bukan saja untuk anak-anak namun orang dewasa pun menyukainya.

  • MANAJEMEN PRODUKSI PERTUNJUKAN #1

    Bila tidak didukung oleh manajemen produksi, tata artistik, tata lampu, tata suara yang mumpuni, sebuah pertunjukan seni bersiaplah untuk gagal. Memang, kesuksesan sebuah pertunjukan atau seni pemanggungan tidak lepas dari manajeman produksi, meliputi berbagai elemen yang harus saling bersinergi; mulai dari administrasi dan keuangan, publikasi, tata panggung, tata lampu, tata suara, tata rias dan busana, dan sebagainya.

  • LENTERA BATUKARU

    Belakangan, banyak penerbit besar ataupun indie yang antusias menghadirkan buku-buku biografi, entah tokoh politik, negarawan, seniman, budayawan dan bahkan selebriti. Sebut saja kisah BJ. Habibie dan istri terkasih Ainun, riwayat Gus Dur, pelukis Jeihan, penyanyi Krisdayanti, olahragawan Rudi Hartono hingga buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 karya Peter Carey.