SATU BABAK

Pentas Teater

Kamis, 13 Februari 2020 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.00 WIB

Satu Babak merupakan program baru Bentara Budaya Yogya, program ini berupa penawaran presentasi karya naskah drama yang sedang dikerjakan teman – teman teater atau kelompok drama yang ada. Presentasi ini bisa berupa penampilan adegan dari naskah tersebut, tidak harus secara keseluruhan dari naskah yang ada, bisa juga berupa dramatic reading dari naskah yang akan dipentaskan. Selain presentasi naskah drama akan dilanjutkan dengan diskusi yang bisa menjadi catatan buat teman – teman teater yang sedang presentasi.

Dengan kegiatan satu babak ini kelompok akan mengetahui perkembangan dari pencapaian aktor – aktor mereka selama ini sebelum menuju pementasan yang sesungguhnya, hal lain dari kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi kelompok – kelompok teater yang ada, selain mendiskusikan presentasi yang ada, satu babak membuka kesempatan buat mendiskusikan persoalan yang dialami teater pada umumnya. Kegiatan Satu Babak direncanakan setiap tiga bulan sekali, jeda waktu ini memberi kesempatan bagi kelompok untuk mempersiapkan diri.

Untuk kali pertama akan tampil kelompok Hidup Institut dari Yogyakarta, akan menampilkan monolog yang berjudul Ya Ya Pariyem Saya. Maria Magdalena Pariyem Lengkapnya. “Iyem“ Panggilan Sehari –harinya. Judul ini merupakan tafsir dari prosa liris Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi yang sangat populer di era 80 –an. Prosa liris yang mengundang perhatian banyak orang ini akan dihadirkan dalam bentuk monolog oleh teman – teman Hidup Institut.

agenda acara bulan ini
  • WHEN I'M 64

    Agus Leonardus, fotografer kenamaan kelahiran 11 November 1955, memamerkan sepilihan karya fotonya yang diprotret seiring puluhan tahun perjalanan karir fotografinya. Belum lama dia juga menerbitkan buku foto ‘When I’m 64’ (Nineart Publishing, 2019) yang memuat foto-foto yang diambil di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar negeri.

    Fotografi di dunia digital memang menjanjikan sedemikian rupa kemudahan. Teknologi yang begitu maju memungkinkan fotografer mengeksplorasi teknik demi menghasilkan foto terbaik. Akan tetapi, menurutnya, foto dengan kecakapan teknik saja tetaplah tidak cukup demi menghadirkan karya yang bernilai. Ada nilai maupun makna yang tetap penting dikedepankan.

  • JOGJA KOTA TOLERAN

    Diskusi ini merupakan rangkaian dari peluncuran buku esai “Menangkis Intoleransi Melalui Bahasa dan Sastra“ yang belum lama diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta sebagai respons atas munculnya berbagai peristiwa intoleransi di kota ini. Buku esai ini merangkum tulisan berbagai penulis muda yang menuangkan beragam perspektifnya atas fenomena sosial budaya di sekitarnya, dengan penyunting antara lain Ratun Untoro, Mulyanto, Latief S. Nugraha.

    Adapun diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan DIY ini bertujuan untuk memahami lebih jauh kondisi sosial budaya di Yogya. Benarkah Jogja masih dianggap sebagai kota toleran? Apakah yang menyebabkan munculnya peristiwa-peristiwa intoleransi akhir-akhir ini dan bagaimana kita dapat kembali menciptakan ekuilibrium alias keseimbangan dalam berkehidupan sosial budaya?