SASTRA UNTUK TARENDRA

Peluncuran Buku Terbaru Fitri Nganthi Wani

Jumat, 01 November 2019 Bentara Budaya Solo | pukul 19.30 WIB

Performer: Fitri Nganthi Wani, Julian Rinaldi, Gandhi Asta, Sisir Tanah, Panji Sukma, Robetiyem


Ada manusia-manusia yang hanya menjalani hubungan asmara tanpa jiwa. Karena sesungguhnya aturan hanyalah sebuah aturan: Sebuah belenggu pengikat yang disepakati masyarakat. Ketika sejatinya komitmen tidak sama dengan kebenaran di hati; siapa yang tahu? Tentang hati yang sudah jenuh? Atau rahasia yang tertutup sangat rapat tentang kecintaannya pada yang lain? Bahkan kekuatan semesta pun seperti tak mampu menolong perihal kehendak bebas ini.
Tarendra adalah penggambaran dari sisi normal perasaan manusia terhadap fenomena-fenomena alami yang terjadi dalam percintaan yang masih dianggap tabu. Tarendra bisa menggambarkan semua orang, bisa saya, bisa juga anda. Begitulah uraian Fitri Nganthi Wani.
Tarendra adalah manusia biasa yang harus berani menahan semua rasa dan ekspresinya pada seseorang yang memiliki kaitan perasaan dengannya karena selalu didahului oleh keadaan yang tidak memungkinkan sehingga membuatnya selalu merasa lemah dan kalah sebelum berperang. Tarendra adalah manusia yang sangat menyadari bahwa mencintai bukanlah kesalahan, merindukan bukanlah kesalahan, namun dia harus mengalah tunduk pada dogma, norma dan stigmatisasi moral di dalam masyarakatnya. 
Tarendra adalah sisi misterius dari manusia di dunia nyata tentang kemurnian perasaannya yang harus selalu rahasia, yang tak pernah benar-benar bisa terkuak dan namanya harus selalu disamarkan agar seolah-olah fiksi, bahkan sampai berani untuk dituliskan. Fitri Nganthi Wani sengaja memilih judul “Sastra Untuk Tarendra“ karena sebagaimana maksud dari tujuannya menerbitkan buku ini, ingin menjadikan buku ini sebagai hadiah istimewa bagi kita semua yang merasa pernah atau sedang menjadi Tarendra. Bahwa perasaan itu, serumit apapun dan serahasia apapun, tetap harus memiliki wadah untuk dirayakan agar tak begitu saja hilang karena perasaan-perasaan itu juga memiliki jasa yang besar dalam pertumbuhan mental, kreativitas dan sikap sosial yang semakin baik bagi setiap yang berhasil berdamai dengannya.
Banyak yang terlibat dalam penggarapan buku ini, ada Yuditeha yang telah memberikan kata pengantar untuk buku ini, kemudian Anissa Hertami, Ayu Utami, Dinda Kanya Dewi, Fauzan Mukrim, Fiersa Besari, Niskala Astungkara, Putri Ayudya, Rachel Amanda, Rasyid Yudhistira, Ratih Kumala dan Sisir Tanah yang telah begitu baik menyumbangkan pendapatnya untuk endorsement buku ini. Dan yang terakhir pada Sekar Bestari yang telah memberikan karyanya yang begitu memukau untuk sampul buku ini.

agenda acara bulan ini
  • Orkes Keroncong Bali Nada

    Orkes yang pernah masuk dalam lima besar kategori kelompok keroncong terbaik di Kota Solo ini, lebih mengedepankan permainan keroncong dengan format asli. Pemilihan penggarapan dengan melestarikan lagu sesuai versi aslinya ini telah menjadi komitmen bersama para personel Bali Nada.

  • IMAJINARIUM

    Imajinarium, adalah ruang atau tempat yang terjadi sebagai hasil dari manifestasi pikiran dan perasaan seseorang. Imajinarium, sebuah sebutan kelompok yang digunakan sebagai ruang untuk berimajinasi demi mewujudkan karya-karya yang dianggap musikal maupun non-musikal.

  • CILPAA Creativity, Innovative, Learn, Productive of Art in Ability

    Teknologi memiliki peran penting dalam menunjang kemajuan di dunia pendidikan. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya negara yang berlomba-lomba menciptakan sebuah teknologi untuk mempermudah kehidupan manusia terutama pada bidang pendidikan. Teknologi yang sering mengalami pembaruan dari masa ke masa salah satunya adalah teknologi digital. Peran teknologi digital dalam dunia pendidikan sangat berpengaruh khususnya dalam aktivitas belajar.