SASTRA DAN KEMANUSIAAN

Dialog Sastra #68

Sabtu, 14 Desember 2019 Bentara Budaya Bali | 19.00 WITA

Sudah sejak berabad lampau karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, sebagaimana ditulis banyak pengarang besar dunia, seperti Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Dostoyevsky, Albert Camus, Yasunari Kawabata, Haruki Murakami, juga Yukio Mishima. Sedangkan di Indonesia dapat kita temui pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, Seno Gumira Ajidarma, Martin Aleida, Gerson Poyk, dan lain-lain. 

Para pengarang tersebut bukan semata menulis karya sastra sebuah keindahan atau penghiburan bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga peristiwa kemanusiaan. Karya-karya mereka boleh jadi merupakan fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan akan kenyataan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya.

Program dialog sastra #68 di Bentara Budaya Bali kali ini akan membincangkan perihal kisah-kisah kemanusiaan dalam karya sastra Indonesia dan dunia, berikut peran pengarang atau sastrawan dalam mengkritisi fenomena-fenomena sosial di sekitarnya. Terlebih pada era kini yang serba instan dan digital masihkah karya sastra berperan menginspirasi cara pandang masyarakat perihal nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan sekaligus penghargaan terhadap keberagaman? 

Di sisi lain, akan dibahas pula mengenai bagaimana peran sastra di masa kini dan mendatang, sebagai sebuah refleksi sosial sekaligus sarana rekonsiliasi terhadap peristiwa maupun tragedi kemanusiaan yang terjadi di masa lalu. Dialog akan memperbincangkan pula pilihan sikap seorang sastrawan dalam kemelut sejarah. Apakah masih relevan mendikotomikan tujuan antara seni untuk seni atau seni untuk keterlibatan sosial? 

Tampil sebagai narasumber dialog yakni Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S. (Sastrawan, Dosen FIB Universitas Udayana).

Maria Matildis Banda, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar. Belum lama ini meraih Doktor Bidang Kajian Budaya di universitas yang sama (2015). Meraih penghargaan sebagai pemenang dalam penulisan karya sastra, antara lain: “Pulang“ (cerpen); “Potret Gadisku“ (drama); “Dalam Bening Mata Mama“, “Perempuan Kecintaanku“, dan “Rebung Gading“ (cerpen); Pada Taman Bahagia (Grasindo Jakarta), Liontin Sakura Patah (Grasindo Jakarta), dan “Doben“ (cerber, novel). Menerbitkan novel Bugenvil di Tengah Karang (Grasindo Jakarta, (2001); Rabies (Care Internasional, 2002/2003); dan Surat-Surat Dari Dili (Nusa Indah Ende 2005). Ia juga menulis cerpen, drama radio, drama panggung, puisi, cerita anak, dan dongeng. Kolumnis Parodi Situasi HU Pos Kupang sejak 2001 sampai sekarang (15 tahun). Sudah menulis sekitar 750 judul parodi situasi (2000 halaman) yang siap dibukukan, tentang isu pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, dan isu sosial budaya lainnya. Menulis buku Lota Aksara Ende. Aktif sebagai pemakalah dan peserta seminar dan lokakarya. Peserta Sandwich like Program di KTLV dan Universitas Leiden di Leiden Belanda Oktober – Desember 2011. Pemateri “Lota Script in Ende Flores“ dalam Internasional Workshop on Endangered Scripts of Island Southeast Asia pada Februari – Maret 2014 Tokyo University di Tokyo Jepang.