SACRED ENERGY

Pameran MetaRupa I Made Sumadiyasa

28 Jul 2019 ~ 5 Agt 2019 Bentara Budaya Bali | 18.30 WITA

Ini adalah pameran tunggal I Made Sumadiyasa setelah Solo Exhibition “The Backlash Of The East“ di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 tahun lalu. Mengedepankan tajuk “Sacred Energy“ sebuah MetaRupa, seniman kelahiran Tabanan ini mengulik energi alam dan kehidupan dalam dimensi immaterial melalui penciptaan drama piktorial seturut gerak spontan tak terduga, bahkan meluap lepas dan melepas batas. Selama dua puluh lima tahun lebih karir kekaryaannya, seniman ini suntuk mencipta seni rupa abstrak ekspresionisme dengan aspek emotif yang sangat kuat melampaui menifestasi bentuk-bentuk “objektif“ alam itu sendiri. Yaitu ekspresionisme dalam gerak bebas semesta batin yang subjektif sekaligus wahana penjelajahan ketakterbatasan energi kosmik yang sangat dinamis dalam skala kolosal. 

Dengan karya-karya abstrak ekspresionistik itu, pada awal dekade 1990, seniman kelahiran Tabanan tahun 1971 dan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, telah mengejutkan publik dan memperoleh apresiasi internasional. Sidini mahasiswa, pada tahun 1995, ia telah diundang dalam pameran Art Asia, International Fine Art Exhibition, cikal bakal Art Basel Hongkong. Salah satu karyanya dijadikan cover majalah Asian Art News, sebuah media seni penting di kawasan Asia (1996). 

Mula-mula Sumadiyasa banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk semi representasional objek-objek, baik sosok-sosok manusia maupun bentuk-bentuk ideoreligius tradisional Bali seperti barong, ikon-ikon maupun figur-figur simbolik dunia perwayangan dan sejenisnya. Ekspresionisme Sumadiyasa pada fase ini bertumpu pada aspek emotif dari objek-objek berikut gambaran atmosfer di mana objek-objek itu hadir. Setelah itu muncul “abstraksi“ bentuk-bentuk yang menggantikan drama piktorial alamiah ke dalam konstelasi gerak objek-objek nan bebas sekaligus mengesankan keteraturan yang bersifat menyeluruh-utuh. 

Drama piktorial yang sangat dinamis itu merupakan ekspresi dari situasi (state of) energi dan gerak alam maupun kehidupan itu sendiri. Juga sebagai wahana untuk merasuk ke dalam energi alam sekaligus lintasan-lintasan spirit yang ada di baliknya.  Belakangan, ekspresionismenya juga mengulik daya-daya suci (sacred energy) sebagai energi “primal“ di mana daya-daya kehidupan tercipta. Di sana-sini energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar sehingga akan menimbulkan efek “totalitas performatif“ yang lebih kuat pula. Yaitu efek pemaknaan intensional yang melebihi dimensi visual an sich, karena hal itu akan menimbulkan getaran yang lebih kuat pada si pemandang. Melalui drama piktorial spektakuler itu gelora dan kebesaran “energi kosmik“-nya tampil dalam wujud yang benar-benar nyata. 

Karya-karya abstrak ekspresionistik I Made Sumadiyasa tidak hanya objek retinal belaka, pun bukan gambaran visual tentang kedahsyatan energi alam, tapi sudah  menjadi wujud dari gelora energi itu sendiri. Ia bukan sekadar drama piktorial tentang gejolak batin sang subjek pembuatnya, atau gambaran ekspresi daya-daya kosmik, melainkan juga wujud dari energi alam itu sendiri. 

Kesadaran terhadap kekuatan energi alam (termasuk sacred energy) ini menjadi penting ketika kian banyak orang yang melupakan daya-daya kosmik akibat terlalu dominannya paradigma antropomorisme dan antroposentrisme yang meletakkan manusia sebagai pusat dunia dan kehidupan. Manusia adalah subjek yang berhak menaklukkan dan menguasai serta mengeksploitasi alam dan lingkungan. Itulah pangkal dari degradasi terhadap alam berikut daya-daya kosmik peyangganya. 

Maka, diperlukan pergeseran menuju paradigma “ekosentrisme“ atau “kosmosentrisme“ yang menempatkan alam sebagai pusat dunia dan kehidupan. Diperlukan juga wahana-wahana baru untuk membangun keseimbangan antara daya-daya individual dengan daya-daya primal alam semesta yang mengatasinya dengan melatih kepekaan terhadap segala ketidakpastian, kekuatan dan gerak alam yang sangat dinamis sebagai manifestasi energi dunia dan kehidupan ini. 

Pameran yang dikuratori oleh Wicaksono Adi ini hendak mengajak kita semua untuk melatih kepekaan terhadap daya-daya semacam itu guna menggeser cara pandang yang kelewat antroposentris menuju kesadaran kosmosentris. Dengan begitu kita dapat lebih memuliakan segala energi alam yang sering berada di luar jangakauan daya-daya manusiawi.  

Made Sumadiyasa lahir di Tabanan, Bali,8 Februari 1971. Ia menerima beasiswa pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), kemudian melanjutkan S1 di ISI Yogyakarta (lulus tahun 1997). Ia telah menggelar banyak pameran tunggal maupun bersama, baik di Indonesia atau di luar negeri. Beberapa pameran terpilihnya antara lain: "Songs of the Rainbow", MADE at Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2008), “Sunrise", MADE at Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2005),"One World, One Heart", MADE at ARMA Museum, Bali, Indonesia (2004), "Journeys", MADE (simultaneously) at the Neka Art Museum, Bamboo Gallery and Komaneka Fine Art Gallery, Ubud - Bali, Indonesia. Book launching (1998), MADE Volume II; the Oneness of Cultures, an Interpretation of Painting by I Made Sumadiyasa(1998), "Gejolak Alam Sebagai Sumber Imajinasi", MADE at (ISI) Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Indonesia (1997“Art Asia“, MADE at the Hong Kong Convention and Exhibition Center, Hong Kong and launching the 1st book MADE Searching for the Spirit, the Art of I Made Sumadiyasa (1995). 

Made Sumadiyasa juga telah meraih berbagai penghargaan, diantaranya: Finalist Indonesia Art Awards, Indonesia Art Foundation, Jakarta, Indonesia (2003), Finalist Phillip Morris ‘Indonesia Art Award (1996 & 1997), Best Still Life painting, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1996), Best painting, Lustrum II, Indonesia Institute of Art (ISI), Yogyakarta, Indonesia (1994), Honorable mention for painting, Indonesia Institute of Art (STSI) Denpasar, Bali, Indonesia (1993), Best sketch, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1993), Best painting, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1993), dll.