Repro MALANG 1939

Pameran Foto

7 Jul 2017 ~ 16 Jul 2017 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.30 WIB

Peresmian Pameran: Jumat, 7 Juli 2017 | Pukul 19.30 WIB
Pameran Berlangsung: 7 – 16 Juli  2017 | Jam 09.00 – 21.00 WIB


Membicarakan kota Malang di zaman dahulu, kita tidak bisa lepas dari keberadaan  kerajaan besar di Jawa Timur pada abad ke-13, yaitu Singasari. Singasari adalah sebuah kerajaan yang menguasai wilayah Jawa Timur mulai tahun 1222 sampai 1292, dimulai dengan munculnya Ken Arok yang bergelar Raja Rajasa Sang Amurwabumi , kekuasaannya diteruskan oleh keturunannya hingga Kerajaan Majapahit.

Melihat letak geografis Singasari yang tidak jauh dari kota Malang  dan terletak di lembah yang sama di antara gunung-gunung yang mengelilingi  Singasari dan Malang maka kami menduga bahwa daerah Malang di zaman dahulu memang sudah merupakan pemukiman yang cukup besar  yang mendukung keberadaan Kerajaan Singasari,  apalagi juga diketemukan prasasti di Dinoyo yang diperkirakan tahun 760 M yang jauh lebih tua.

Tentang asal sebutan kota Malang  memang sampai saat ini belum ada kejelasannya. Ada yang berasal dari kata Gunung Malang yang berada di sebelah barat kota. Namun yang dipakai oleh kota praja Malang adalah MALANGKUCECWARA yang berasal dari sebuah nama peninggalan semacam candi di sekitar Malang. Nama ini diusulkan oleh ahli sejarah Prof.Dr.R.Ng. Poerbatjaraka untuk mengganti semboyan dari masa Belanda yaitu MALANG NOMINOR-SURSUM MOVEOR yang berarti Malang Kotaku- Maju Tujuanku.

Pada zaman dahulu Malang mungkin hanya  sebuah desa  yang terus bertambah  besar,  begitu juga dengan penduduknya. Karena Malang mempunyai  wilayah yang subur dan beriklim sejuk,  banyak penduduk sekitar Malang yang pindah  ke sana.  Selain itu, wilayah Malang adalah daerah  yang aman dari ancaman gunung berapi yang ada di sekitarnya, sehingga menjadi tujuan untuk mengungsi  jika ada bahaya gunung meletus. Demikianlah desa  itu kemudian menjadi  besar dan akhirnya menjadi kota  kecil. Kota Malang baru diperhitungkan oleh Pemerintah Belanda  tahun 1892, pada waktu itu Kota Malang masih dipimpin oleh seorang  Assistent Resident dibantu oleh seorang controleur  dan  seorang Regent . Saat itu Malang menjadi  semacam kabupaten bersama Sidoarjo, Blitar maupun Tulungagung dan  masih di bawah kendali residen di Pasuruan.

Pada tahun 1914, Kota Malang naik statusnya menjadi sebuah Kota Praja yang dipimpin  seorang  Asisten Residen. Tidak begitu lama statusnya terus  bertambah besar. Karena pesatnya pembangunan di Malang maka pada tahun 1926,  Malang menjadi sebuah Karesidenan yang dipimpin oleh seorang Residen  membawahi Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang dengan kode nomor kendaraan N. 

Pada masa Stadsgemeente  atau masa pemerintahan kolonial Belanda, antara tahun 1887 sampai dengan 1939 di Malang, kota ini berkembang  dari sebuah kota kecil sekelas kawedanan  yang terus berubah menjadi kota besar di Jawa Timur. Inilah yang menjadi  materi pameran yang kami beri judul  MALANG 1939.  Pameran ini sebenarnya merupakan sebuah pembelajaran dari sebuah kota di Indonesia yang  dahulu penuh dengan gedung-gedung besar di zaman kolonial Belanda, sekarang berubah menjadi kota besar yang mengarah menjadi kota metropolitan. Banyak bangunan-bangunan bersejarah maupun tidak yang terkikis oleh kepentingan modernisasi, entah sudah berapa ribu bangunan tua yang dijual atau digusur dan lahannya didirikan gedung  baru dan modern, baik itu gedung swasta , milik  pemerintah, bahkan rumah-rumah penduduk semuanya  berganti  wajah.

Pameran ini bermula ketika kami mendapat sebuah buku zaman Belanda berangka tahun 1939, yang berjudul Kroniek der Stadsgemeente Malang Over de Jaren 1914-1939. Dalam buku ini tertera asal muasal pembangunan Kota Malang yang dibangun terencana melalui 8 tahapan (Bouwplanen). Dalam rencana pembangunan tersebut meliputi wilayah yang cukup luas. Pada awalnya tahun 1887 luas kota hanya kisaran 500 HA saja yang terkonsentrasi di sekitar alun-alun kota dan sedikit di sebelah utara Sungai Brantas. Pada tahun 1914 luas kota sudah menjadi 1500 Ha. Berkembang ke arah utara dan timur kota. Tahun 1934 luasnya berkembang menjadi 1882 Ha yang berkembang ke arah barat  dan segala penjuru kota.  

Penduduk kota Malang tahun 1914 tercatat: pribumi 40.000, Eropa 2.500, serta bangsa Asia lainnya termasuk Cina dan Arab 4.000. Angka ini terus bertambah, pada tahun 1938 tercatat pribumi 79.886, Eropa 10.750, Cina 8.583, bangsa lain 1.116, dan total penduduknya 100.335 jiwa. Sejak awal pembagian wilayah untuk pemukiman sudah direncanakan, seperti orang-orang Eropa bermukim di sebelah barat daya dari alun-alun kota Malang yang meliputi wilayah Kayutangan, Oro-oro dowo, Celaket,  Klojen, Lordan, dan Rampal. Wilayah pemukiman Cina ada di Pecinan sebelah tenggara alun-alun kota, dan penduduk asli  bermukim di selatan alun-alun meliputi Kampung Kebalen, Temenggungan, Jodipan, Talun, dan Klojen Lor, dan yang terakhir adalah para militer bermukim di barak Militer di Klojen (loji militer).

Dari buku ini ada banyak memuat foto-foto yang dibuat sekitar tahun 1930-an yang menggambarkan keindahan dan situasi kota Malang baik dari darat maupun dari udara yang difoto oleh Luchtfoto KNILM, kalau zaman sekarang foto Drone dan Studio Malang. Dari foto- foto yang tertera di buku tersebut kita bisa belajar banyak hal, antara lain tentang heritage, sejarah perkotaan, topografi dan perencanaan kota, pendidikan, dan perkampungan. Sebagai contoh, betapa menyedihkan  nasib bangunan-bangunan yang megah dalam foto tersebut akhirnya hilang karena dirobohkan atau dibumihanguskan. Pada tanggal 31 Juli 1947 di Malang terjadi taktik bumi hangus yang dilaksanakan oleh tentara Belanda pada masa clash terhadap sebagian besar bangunan dan instalasi-instalasi militer, dengan cara dibakar, dibom dengan menggunakan sisa-sisa  bom milik tentara Dai Nippon yang kalah. Belanda tidak rela bangunan-bangunan indah yang mereka bangun jatuh ke tangan Republik Indonesia, tidak kurang ada seribuan bangunan yang rusak dan terbakar di kota-kota Jawa Timur pada pendudukan Belanda waktu itu.

Ada sebuah gedung bernama Sosieteit Concordia atau biasa disebut Kamar Bola yang dahulu ditempati oleh Residen Belanda, pada tanggal 25 Februari - 5 Maret 1947 pemerintah RI mengadakan rapat KNI Pusat yang dihadiri oleh Presiden Soekarno waktu itu. Nasib gedung bersejarah ini pun tidak luput dari bumi hangus Belanda bulan Juli tahun yang sama, dan sekarang sudah berubah menjadi pertokoan Sarinah, ada lagi foto Pasar Malang tahun 1939 yang berupa dua Tower  sekarang sudah berubah menjadi Matahari Mall, tidak ada sisa dari bangunan pasar besar lama.

Karena itu, foto-foto situasi kota Malang saat tahun 1939 menjadi sangat penting untuk menelusuri jejak-jejak perkembangan kota Malang. Karena banyak bangunan yang ada di foto sudah tidak ada lagi.(Hermanu/Kurator Bentara Budaya Yogyakarta).

agenda acara bulan ini
  • Jazz Mben Senen

    Acara Jazz Mben Senen berlangsung di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta setiap hari Senin malam. Anak-anak muda pecinta jazz, yang biasa dipanggil dengan sebutan kancaku di Jazz Mben Senen sudah merasa bahwa hari Senin bagi mereka identik dengan Jazz Mben Senen.

  • IMAGO DEI

    Sebuah momentum yang pas mewacanakan konsep spiritualitas di tengah kecamuk permasalahan umat beragama yang dihadapi bangsa saat ini. Seni yang merupakan kompleksitas pemaknaan atas pengalaman nampak merespon gejolak dan dinamika yang terjadi saat ini.