QIRTHOOSU

Pameran Seni Visual - Meretas Kertas

Rabu, 09 Oktober 2019 Balai Soedjatmoko Solo | 19.30 WIB

Seniman yang berpameran: Anto Bopak, Bibit "Jrabang" Waluyo, Bonyong Muniardhie, Crack Studio, Eunike Nugroho, Feri W, Flourish Sekarjati, Iwan Effendi, Luna Dian S.A, Melati Suryodarmo, Mulya Karya, Nasirun, Ugo Untoro, Usman S, Samuel indratma, S.E. Dewantoro, Siam Candra, Sonny Irawan
Pembukaan Pameran:
Rabu, 9 Oktober 2019 | Pukul 19.30 WIB
Pameran Berlangsung : 
10-15 Oktober 2019 | Pukul 09.30-21.30 WIB

Diskusi & Launching Buku
MERETAS KERTAS
Pembicara:
Setiawan Sabana
(Perupa dan pengajar di FSRD ITB)
Moderator:
Albertus Rusputranto P.A. 
(Pengajar di FSRD ISI Surakarta)
Jumat, 11 Oktober 2019 | Pukul 19.30 WIB

Istilah ‘kertas’, yang kita kenal sekarang, berasal dari kata dalam bahasa Arab: qirthoosu. Qirthoosu ini adalah istilah bagi kertas yang dibuat bertolak dari metode pembuatan kertas Bangsawan Ts’ai (Ts’ai Lun; bangsawan pada masa Dinasti Han, Tiongkok, 63-121 M). Metode pembuatan kertas ini menyebar ke tanah Arab setelah kekalahan tentara Tiongkok dalam peperangan di daerah Talas (Kyrgyzstan). Istilah qirthoosu yang kemudian kita lafalkan menjadi kertas ini dikenal oleh masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, dari perjumpaan dengan kebudayaan Melayu (Islam).  Sebelum itu masyarakat di Jawa sudah mengenal kertas yang disebutnya daluwang. Berbahan dasar kulit pohon Daluwang (varian pohon Murbei; seperti yang digunakan sebagai bahan dasar kertas bangsawan Ts’ai tapi dengan teknik pembuatan yang masih sangat sederhana). 
Qirthoosu ini diusung menjadi judul pameran di Balai Soedjatmoko, sebagai satu dari beberapa kegiatan rangkaian acara Meretas Kertas: Visual Arts Event. Peristiwa yang diusung bersama FSRD ISI Surakarta, Balai Soedjatmoko, Rumah Banjarsari dan Solopos ini diikuti oleh berbagai seniman (rupa dan pertunjukan) dari beberapa kota dan negara, mahasiswa dan pengajar beberapa kampus seni dari beberapa kota dan negara, serta komunitas-komunitas seni. Qirthoosu menyoal sejarah medium. Dari perjalanan panjang medium (atau material) dan ekspresi-ekspresi artistik kertas kita apresiasi, kita retas, sejarah kebudayaan dan peradaban kita yang multikultural, interdisipliner dan kosmopolit dari sejak dulunya. 
Dalam pameran Qirthoosu ini juga diterbitkan dan diluncurkan buku kumpulan tulisan dengan judul Meretas Kertas (diterbitkan atas kerjasama Balai Soedjatmok dan FSRD ISI Surakarta). Buku ini merupakan bunga rampai esai yang ditulis oleh para penulis yang berlatar belakang keilmuan dan profesi yang berbeda-beda. Kesemuanya menyoal hal ikhwal kertas dari perspektif masing-masing. Qirthoosu, dalam Meretas Kertas: Visual Arts Event ini akhirnya adalah sebuah peristiwa artistik-intelektual yang tidak hanya menghadirkan karya-karya artistik tetapi juga karya-karya intelektual, dalam balutan kegiatan dan produk yang sederhana.

agenda acara bulan ini
  • CAMPUR SAYANG

    Musik Yang Khim adalah musik tradisional Tionghoa dan musik Campursari adalah musik tradisional Indonesia. Keduanya dibina oleh PMS dengan tujuan melestarikan kesenian tradisi leluhur, PMS melakukan kolaborasi dua bentuk seni musik tradisional itu untuk menggambarkan semangat gotong royong dan Bhineka Tunggal Ika sehingga dalam rangka Hari Raya Imlek, paduan dua seni musik tradisional tersebut dapat menggambarkan jiwa persatuan dan kesatuan.