Pustaka Bentara

Sabtu, 23 Juni 2018 Bentara Budaya Bali | 19.00 WITA

Pustaka Bentara kali ini akan membincangkan buku kumpulan puisi pertama Ketut Syahruwardi Abbas yang bertajuk “Antara Kita“. Diterbitkan Penerbit Buku ARTI (2018), antologi ini memuat 72 sajak yang ditulis Abbas antara tahun 1993 hingga 2017. 

Tecermin dalam sajak-sajak tersebut pergulatan sang penyair dalam interaksinya dengan lingkungan, Tuhan, manusia, dingin, panas, dan sebagainya.  Misalnya puisi berjudul “Dari Bangsal RS“, yang ditulis Abbas setelah ia berada di antara hidup dan mati di rumah sakit. Juga puisi menyentuh berjudul “Kadek“, dipersembahkan kepada sahabatnya yang telah berpulang, Kadek Suardana, seorang tokoh teater Bali. 

Buku “Antara Kita“ akan dibahas oleh Dr. Gde Artawan (akademisi, sastrawan) dan Puji Retno Ardiningtyas (pengamat sastra, peneliti Balai Bahasa Bali). Selain dialog, acara akan dimaknai pula pembacaan puisi dan pentas musikalisasi puisi. 

Ketut Syahruwardi Abbas lahir di Pegayaman, Buleleng, tahun 1959. Ia menulis sajak, cerpen, esai, makalah agama dan budaya, dan lakon drama.  Sedini muda ia telah bersentuhan dengan kesusastraan. Beberapa kali memenangi lomba penulisan puisi, cerpen, dan lakon drama yang diadakan oleh Harian Bali Post, Fakultas Sastra Universitas Udayana, maupun lembaga-lembaga lain. Tamat SMA, Abbas sempat memasuki Akademi Teater Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta – LPKJ (Kini Institut Kesenian Jakarta – IKJ). Tak lama di sana, ia kembali ke Bali menekuni jurnalistik, memulai karirnya di sebuah media yang diterbitkan sebuah lembaga ke-Hindu-an, Karya Bhakti. Lalu sempat bergabung dengan  Bali Post Minggu, Harian Nusa Tenggara dan Majalah Berita EDITOR. Sejak remaja, Abbas juga aktif di berbagai organisasi, di antaranya sanggar teater seperti Teater Vivo dan Sanggar Putih, juga terlibat di Sanggar Minum Kopi. Kini ia duduk sebagai Penasehat di Jatijagat Kampung Puisi, Denpasar.

Tulisannya dimuat tersebar di berbagai media antar lain: Bali Post, Harian Nusa Tenggara, Koran Tokoh, Harian Republika, dan Kompas. Sajak-sajaknya terhimpun dalam berbagai antologi seperti Antologi Serumpun (bersama penyair-penyair Brunei, Malaysia, Indonesia, dan Singapura) terbitan Yayasan Panggung Melayu (2015), Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia 2016 “Matahari Cinta Samudera Kata“ terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia dan Yayasan Sagang (2016), Antologi Puisi “Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta“ diterbitkan Yayasan Museum Nyoman Gunarsa (2016), Antologi Puisi “Dendang Denpasar Nyiur Sanur“ (Pemkot Denpasar, 2012), Antologi Puisi “Edisi Hitam Putih“ diterbitkan Yayasan Wayan Pendet tahun 2006, Antologi Puisi Indonesia “Teh Ginseng“ Sanggar Minum Kopi (1993), juga Antologi Puisi Buleleng. Cerpen-cerpennya diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen bersama tentang Kota Denpasar “Dendang Denpasar Nyiur Sanur“ (2012), dan Singa Ambara Raja dan Burung-burung Utara (2014). Sedangkan salah satu artikelnya terhimpun dalam buku “Bali di Persimpangan Jalan“ Editor: Usadi Wiryatnaya dan Jean Couteau (Nusa Data Indo Budaya, 1995). Salah satu naskah monolognya dimuat dalam buku Kumpulan Naskah Monolog KDRT, WPI Bali 2008. Selain masih produktif menulis dan menjadi pembicara di berbagai seminar, ia juga masih aktif menjadi sutradara dan pemain teater.

Dr. Gde Artawan lahir di Klungkung, 20 Februari 1959. Dosen di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha. Pendidikan terakhir S3 program doktor Linguistik Universitas Udayana. Sering diundang menjadi pembicara dalam temu ilmiah atau kegiatan sastra di tingkat nasional dan internasional. Menulis di beberapa jurnal terakreditasi nasional dan menulis di jurnal bereputasi internasional.Sering pula ditunjuk menjadi juri lomba baca tulis dan kegiatan  sastra, penulisan esai, opini dllnya. Menerima Anugerah Seni Wija Kusuma dua kali  dari pemerintah Buleleng, tahun 1998 dan tahun 2007.  Kumpulan cerpennya “Petarung Jambul“ mendapat Anugerah Seni Widya Pataka dari Pemerintah Propinsi Bali tahun 2008. Ia juga aktif sebagai koordinator Dermaga Seni Buleleng (DSB) sejak tahun 1998- sekarang yang sering menggelar event sastra, di antaranya lomba menulis puisi memperebutkan tropy Singa Ambara Award, juga koordinator Komunitas Sastra Api, yang telah pentas di beberapa event.

Buku karya sastranya terhimpun dalam buku ‘Kaki Langit’(1984). ‘Buleleng dalam Sajak’(1996), ‘Kesaksian Burung Suksma’(1996), ‘Spektrum’ (1997), ‘Tentang Putra Fajar’ (2001), ‘Puisi Penyair Bali’ (2006), ‘Cinta Disucikan, Kehidupan Dirayakan’ (2007). ‘Dendang Denpasar, Nyiur Sanur’ (2012), ‘Singa Ambara Raja dan Burung-Burung Utara’ (2013), kumpulan puisi “Tubuhku Luka Pesisir, Tubuhmu Luka Pegunungan“ (2014),  antologi puisi “Klungkung : Tanah Tua, Tanah Cinta“ (2016), antologi “Madah Merdu Kamadhatu“(2017), buku puisi “Hatimu Sebatang Pohon“ (2017). Buku teksnya terbit 2018 berjudul  “Menembus Patriarki: Refleksi Perjuangan Perempuan Bai dalam Novel Indonesia“.

Puji Retno Hardiningtyas, lahir di Grobogan, 9 Maret 1981 (Jawa Tengah). Peneliti sastra di Balai Bahasa Bali, kini sedang menyelesaikan Program Doktor, Ilmu Linguistik, Konsentrasi Wacana Sastra, Universitas Udayana. Ia sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan sastra seperti seminar, diskusi, dan bedah buku baik di Bali ataupun di daerah lainnya di Indonesia. Aktif di organisasi kebahasaan dan kesastraan, di antaranya Himpenindo (2013-sekarang), APBL (2015-sekarang), dan HISKI (2016--sekarang). Tahun 2015-sekarang menjadi pengelola Aksara Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan Balai Bahasa Bali. 

Beberapa judul penelitiannya antara lain: Peparikan dalam Puisi Jawa dan Bali; Estetika Resepsi Puisi Nyongkok Di Bucu karya I Nyoman Manda; Implementasi Pengajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Upaya Pemahaman Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Pendekatan Kontekstual; dan lain-lain. Sejumlah tulisan atau artikelnya yang telah diterbitkan antara lain: Dominasi Perempuan: Pemahaman Dekosntruksi Retoris Novel Putri 1 dan Putri 2 Karya Putu Wijaya (2012); Oriental: Budaya Indis dalam Tetralogi Pulau Buru Karya Pramoedya Ananta Toer (2014); Potret Bahasa Indonesia Masa Kolonial Roman Pulau Buru: Estetika Sastra Realisme Sosialis (2015); Adaptasi Sastra Lama ke Novel Modern: Refleksi Jati DiriPerempuan dan Budaya Jawa (2016); Masalah Tanah dan Krisis Lingkungan di Bali dalam Antologi Puisi Dongeng dari Utara Karya Made Adnyana Ole (2016), dll.

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara #KhususMisbar

    Sinema Bentara bulan ini menghadirkan film-film pendek terpilih peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang mengedepankan cerita seputar panorama kekayaan kultural setempat, berikut adat-istiadat, kepercayaan dan kearifan lokal, yang sebagian dibayang-bayangi perang dan konflik, berikut situasi sosial ekonomi yang melatarinya.