PUNCAK WAKTU YANG MENGHITAM

Pentas Monolog Teater Lungid

Selasa, 22 Oktober 2019 Balai Soedjatmoko Solo | 19.30 WIB


Penulis Naskah : 
Budi Bodot Riyanto & Djarot B. Darsono
Tarian Bedhaya Tolu : GLADI TARI WIDJAJA KOESOEMA  
Penari: Yudha Rena Mahanani, Yulia Astuti , Ririn Tria Fari, Ryndhu Puspita L
Wuri Praptiwiningsih , Indriana Arninda , Dany Wulansari

Team Produksi Teater Lungid 
Sutradara / AKTOR  : Djarot B. Darsono
Astrada                      : Budi Bodot Riyanto
Musik Ilustrasi          : Bagus TWU
Artistik                      : Genksu Balin’s Art
Lighting                     : Yanuar
Perlengkapan             : Ucil, Bangkit,dll
Kostum/make up       : Yudharena
Selasa, 22 Oktober 2019 | Pukul 19.30 WIB


 “Den ajembar momot lan mangku den kaya segara“ , petuah untuk sistem kepemimpinan dalam sebuah pemerintahan pewaris kekuasaan agar tercipta rasa aman dari konflik politik.
Sistem yang menjadi idaman tentang kekuasaan yang adil, makmur, aman, tentram dan memiliki toritorial kekuasaan tanpa batas, adalah sebuah cita -cita dari seorang Raja di Pulau Jawa. Angan hanyalah angan, sebuah hal yang tak akan mungkin terjadi apabila kekuasaan hanya sebagai pelampiasan dari wujud kepuasan diri.
Sering kali kekuasaan terwujud karena adanya persaingan hingga akhirnya berujung perselisihan. Selain persaingan, sistem estafet (warisan) juga telah menjadi fenomena yang biasa baik di lingkungan kerajaan maupun masyarakat. 
Sebuah cerita perjalanan Raja, Amangkurat (I) sebagai penguasa yang terkuat, tercatat sebagai raja yang kejam tan tamak terhadap kekuasaan. Ia menganggap dirinya lebih besar dari yang ada. Caranya berpikirnya jauh dari kenyataan yang terjadi, hingga membuat  dirinya cemas akan nasib kepemimpinannya di masa mendatang. Sehingga legitimasi  sebutan  “Amangkurat“ dirasa pantas untuk dirinya. Sebuah perbandingan terbalik dari apa yang menjadi angan-angan rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama tidak tercermin dari sosok raja tersebut. Rasa takutnya yang berlebihan, menciptakan berbagai konflik pada ketatanan system seperti kekerasan, kecurigaan hingga  kekejaman terhadap rakyatnya.
Sebuah lakon monologue yang ditulis oleh Budi Bodhot Riyanto ini berangkat dari masa surutnya kerajaan Mataram dalam pemerintahan Amangkurat I. Naskah monologe ini merupakan sebuah representasi dari cerita sejarah yang diimplementasikan ke dalam sebuah pementasan keaktoran Djarot B. Darsono. Pementasan tersebut akan dilengkapi sebuah repertoar tari Bedhaya Tolu dalam garapan Gladi Tari Widjaja Koesoema oleh Yudha Rena, Yulia Astuti, Ririn Tria, Ryndhu Puspita, Wuri Praptiwiningsih, Indriana Arninda, dan Dany Wulansari.

agenda acara bulan ini
  • Jalan Panjang Itu…

    Untuk waktu yang lama, Komunitas Sastra Pawon menggarap terbitan-terbitan yang dibagikan gratis di beberapa acara sastra di Solo dan dikirim kepada para kongsi di sekian kota, misalnya Perpustakaan Universitas Indonesia (UI). Terbitan-terbitan itu pada suatu masa memuat nama-nama telanjur dikenal publik. Masa-masa setelahnya, terbitan Pawon memilih menampilkan tulisan dari para penulis baru. Dengan demikian, secara fungsional Buletin Sastra Pawon berkehendak menjadi lebih inklusif. Menjadi jalan pembuka bagi gairah menulis nama-nama yang belum populer.