PROFESSIONAL DEVELOPMENT FOR YOUNG GENERATION

Kelas Kreatif Bentara

Sabtu, 16 Februari 2019 Bentara Budaya Bali | 10.00 WITA

Sebagai kreator yang supel, Popo Danes bukan saja bergaul lintas profesi dan bidang, namun juga tak segan bekerja sama dalam berbagai peristiwa, semisal kolaborasi karya dengan pelukis Tedja Suminar, perupa Wayan Sujana “Suklu“, juga terlibat sejumlah program yang menunjukkan perhatiannya yang luas pada pertumbuhan kesenian dan kebudayaan Bali. Studionya Danes Art Veranda, di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, juga adalah sebuah ruang publik yang secara berkala menghadirkan berbagai peristiwa kesenian dan kebudayaan; dari pertunjukan teater, pameran aneka rupa, hingga susastra berskala nasional maupun internasional. Perhatiannya kepada arsitek-arsitek muda tergambarkan melalui program Architects Under Big 3 yang berlangsung hingga kini di studionya tersebut.

Upaya alih pengetahuan dan pengalaman atau transfer of knowledge seperti dilakukan Popo Danes dan teman-teman arsiteknya merujuk pada pola pembelajaran seiring berkembangnya peradaban nusantara, yakni “nyantrik“ atau cara belajar  melalui keguyuban komunal, di mana seorang murid, lebih atas dorongan kerinduannya akan pengetahuan, berupaya menemui guru yang tepat baginya guna menimba ilmu (ngangsu kawruh). Pameran Bali Architecture Week 2019 mengingatkan kita pada kehangatan keguyuban yang masih bersifat komunal –merupakan “warisan nilai“ (local wisdom). Nilai-nilai komunal yang guyub dan hangat itu menjadi penting maknanya di tengah derasnya budaya modern kontemporer yang serba individual; ini adalah sebuah laku dialektika antara yang lokal dan global.

Pada Kelas Kreatif Bentara kali ini, Popo Danes akan berbagi kepada generasi muda perihal kemungkinan-kemungkinan dan pencapaian yang bisa didapatkan dalam bekerja di dunia yang sekarang banyak pilihan. 

Nyoman Popo Danes lahir di Denpasar, 6 Februari 1964. Lulusan Universitas Udayana yang terkenal supel dan terbuka ini menciptakan karya arsitekturnya yang pertama sedini usia 17 tahun. Karya-karyanya tidak hanya bisa disaksikan di tanah air, akan tetapi juga terdapat di berbagai kota penting di penjuru dunia. Popo memperoleh berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, antara lain Nominasi The Aga Khan Award for Architecture 2004, Pemenang Pertama ASEAN Energy Award untuk Kategori Bangunan Tropis pada 2004 dan 2008, Pemenang Indonesia’s Construction Design  pada 2003 dan 2009, serta tahun 2018 meraih IAI Awards Kategori Pelestarian. Popo juga membuka ruang publik kesenian dan kebudayaan di Denpasar, yakni Danes Art Veranda.

agenda acara bulan ini
  • SOSOK ANAK DALAM ANIMASI

    Sinema Bentara kali ini mengetengahkan film-film animasi terpilih yang mengangkat sosok anak sebagai fokus utama kisahannya. Bukan semata hal-hal lucu dan jenaka yang mengemuka, namun juga sisi-sisi pilu yang mengharukan serta mengundang pertanyaan mendasar tentang arti kehidupan, kejujuran, hingga kesetiakawanan.

  • JEJARING BUDAYA MASYARAKAT PEGUNUNGAN BALI

    Batur menjadi salah satu wilayah di perbukitan Cintamani yang tercatat dalam prasasti dan lontar yang dimiliki Bali, yaitu Prasasti 001 Sukawana A-I yang dikeluarkan di Singamandawa 804 Saka (19 Januari 882 M). Pada prasasti itu menyuratkan titah sang raja yang memberikan izin kepada para bhiku mendirikan pertapaan dan pesraman di daerah perburuan di Bukit Cintamani Mmal (Kintamani). Prasasti ini menjadi penanda penting dan menumental bagi peradaban Bali sekaligus sebagai revolusi aksara yaitu dimulainya peradaban aksara sebagai babakan awal sejarah Bali kuno (Sumarta, 2015: 5).

  • CERITA DAN KARYA MAESTRO I WAYAN BERATHA

    I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.