POTRET: PENYELIDIKAN ESTETIS

Pameran Seni Rupa

Selasa, 13 Agustus 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | pukul 19.30 WIB

Peserta pameran: 
Abdi Setiawan,  Budi Ubrux, Dadang Rukmana, Dipo Andy, F. Sigit Santosa, Galam Zulkifli, I Nyoman Darya, Jumaldi Alfi, Kokoh Nugroho, Tantin Udiantara, Zulkarnaini Rustam.

Pembukaan pameran:  Selasa, 13  Agustus 2019| Pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung:  13 – 22 Agustus 2019

Seni rupa modern Indonesia meninggalkan sejumlah warisan berharga bagi khazanah seni lukis potret di Indonesia�antara lain lukisan Di DepanKelambu Terbuka (1939) karya S. Sudjojono, Pengantin Revolusi (1955) karya Hendra Gunawan, dan Ibuku (1941) karya Affandi. 
Dengan itu, mereka memungkinkan kita untuk masuk menemu makna kehidupan personal dan realitas sosial-politik di Indonesia padamasa itu. Lukisan-lukisan itu boleh dibilang merupakan cermin estetis yang memampukan kita berkaca tentang pergulatan eksistensial pelukis dan pengamatan sosial mereka atas kehidupan sehari-hari.
Karena itulah seni lukis potret bukan hanya berkenaan dengan perkara personal, melainkan juga sosial-politik. Dengan kata lain, seni lukis potret memungkinkan seorang pelukis untuk menggambarkan-ungkapkan pengalaman pribadinya atas dirinya sendiri atau orang lain sekaligus memberikan pernyataan politis atas sosok pribadi dan orang lain yang tergambar di lukisannya. 
Dalam hal itu, bentuk-bentuk seni lainnya�grafis, fotografi, dan patung�pun tak ketinggalan. Dalam seni patung, misalnya, kita bias menyebut patung Jenderal Sudirman (1950) karya Hendra Gunawan yang hingga kini masih berdiri di halaman gedung DPRD Yogyakarta. Begitu pula dengan foto-foto karya Mendur bersaudara tentang sosok dan tokoh Indonesia pada masa Revolusi.
Pada perkembangannya senirupa kontemporer menempatkan potret sebagai salah satu pokok perupaan penting dalam proses kreatif banyak perupa di Indonesia, tak terkecuali di Yogyakarta.  
Walhasil, sulit untuk dimungkiri bahwa potret merupakan khazanah estetis dalam senirupa kontemporer yang paling memungkinkan perupa bertungkus lumus dan menyelidiki bukan hanya hakikat sosok�tapi juga pokok yang terkandung di dalamnya. (Wahyudin-Kurator)