PINTU SATU

Pameran Seni Rupa & Film

Rabu, 22 Januari 2020 Bentara Budaya Solo | pukul 19.30 WIB

Peserta Pameran: Hasbi, Subiyanto, Fajar Abadi, Riza Pahlevi, Riandhani YP, Ghuiral Hilanda S , Haris Fajar Nugroho, Vivian Aprida Syafira, Fidri Arssy Afriansyah, Gilang Febriano Putra, Muh Nur Falah Muzakkir, Saut Mangihut Marpaung 
Pembukaan Pameran:
Rabu, 22 Januari 2020 | Pukul 19.30 WIB
Dibuka oleh:
Dr. Drs. Guntur, M. Hum
(Rektor ISI Surakarta)
Pameran Berlangsung:
23-27 Januari 2020 | Pukul 09.30-21.30 WIB


Menganalogikan sebagai pintu-pintu yang harus dibuka dan kali ini baru membuka pintu yang pertama, melalui Pameran Pintu 1. Peserta pameran berasal dari mahasiswa/i Program penciptaan Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta semester satu yang nantinya mesti membuka pintu 2, 3 hingga pintu tugas akhir untuk kelulusan.  
Berdua belas orang mempunyai rencana tugas akhir yang beragam sesuai minat masing-masing. Ada yang membuat karya Animasi, Keris, Film, Tekstil, Grafis maupun Instalasi. Mempunyai keberagaman daerah dan Budaya: Batak, Minang, Bugis, Makassar, Madura dan Jawa. Keberagaman media dan budaya ini membuat eksplorasi karya dalam pameran ini beraneka warna dan tidak ada hubungan satu sama lain.
Dari eksplorasi karakter dan gerak animasi wayang beber; data riset pertemuan imajiner antara Ranggawarsito, Mangkunegara IV dan Raden Saleh; proses eksperimen dalam menemukan campuran logam untuk keris; grafis cukil tentang makna kehidupan makhluk hidup; instalasi video tentang persepsi kita menangkap informasi; pembuatan kain dengan bahan-bahan alam; film tentang toleransi; film tentang hoax; hingga eksplorasi film bergenre horor. Selamat memasuki Pintu 1!

agenda acara bulan ini
  • CAMPUR SAYANG

    Musik Yang Khim adalah musik tradisional Tionghoa dan musik Campursari adalah musik tradisional Indonesia. Keduanya dibina oleh PMS dengan tujuan melestarikan kesenian tradisi leluhur, PMS melakukan kolaborasi dua bentuk seni musik tradisional itu untuk menggambarkan semangat gotong royong dan Bhineka Tunggal Ika sehingga dalam rangka Hari Raya Imlek, paduan dua seni musik tradisional tersebut dapat menggambarkan jiwa persatuan dan kesatuan.