PERTEMUAN DUA HATI

Bincang Karya NH Dini

Jumat, 25 Januari 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.00 WIB

Kerjasama Bentara Budaya, Gramedia Pustaka Utama (GPU), Sastra Pawon, Diskusi Kecil Pawon, Bilik Sastra
Pengoceh : Sanie B Kuncoro, Astuti Parengkuh, Bandung Mawardi, M Izzat Abidi , Vera Safitri, Thea Arnaiz Le, Han Putro, Fauzi Sukri, Yunan L, Setyaningsih.
Moderator : Yudhi Herwibowo



Bentara Budaya bersama Gramedia Pustaka Utama menyelenggarakan diskusi mengenang karya dan kiprah Nh. Dini. Acara pertama kali sudah diselenggarakan dengan tajuk “Pada Sebuah Novel“ pada Rabu, 19 Desember 2018 di Bentara Budaya Jakarta. Acara ini sekaligus juga dimaknai sebagai sebentuk obituari atas berpulangnya sang sastrawan pada 4 Desember 2018 di Semarang. 

Nh. Dini lahir di Semarang, 29 Februari 1936 dan sepanjang hidupnya telah menulis berbagai novel, cerita pendek, serta juga puisi. Pengalaman menulis diasahnya sejak masih di bangku sekolah dengan mengisi kolom di majalah dinding, di samping juga secara teratur menulis sajak dan cerita pendek. Pada tahun 1952 sajak Nh. Dini dimuat dalam majalah Budaja dan Gadjah Mada di Yogyakarta, termasuk juga cerpen-cerpennya yang makin sering mengisi halaman-halaman sastra di Majalah Kisah dan Mimbar Indonesia. 

Sebagai pengarang yang produktif, Nh. Dini telah menulis puluhan buku. Beberapa judul yang dikenal dan dipujikan antara lain Pada Sebuah Kapal (novel, terbit pertama kali 1972), La Barka (novel, terbit pertama kali 1975), Padang Ilalang di Belakang Rumah (novel, terbit pertama kali 1978), Keberangkatan (novel, terbit pertama kali 1987) dan sebagainya. 

Bahkan kesenimanan Nh. Dini tidak hanya terbatas pada sastra. Bersama kakaknya, Teguh Asmar, Nh. Dini juga mendirikan perkumpulan seni “Kuntjup Seri“ di Semarang yang kegiatannya berlatih karawitan, bermain sandiwara, dan menyanyi tembang Jawa maupun lagu Indonesia lainnya. Bahkan sejak tahun 1986, Nh. Dini juga membina anak-anak untuk menulis di Pondok Sekayu, Desa Kedung Pani. 
Demi terus mengingat karya dan kiprahnya, acara seperti ini juga akan diselenggarakan di kota-kota lainnya seperti Bentara Budaya Yogyakarta, Bentara Budaya Solo, Bentara Budaya Bali, Surabaya dan di kota kelahiran Nh. Dini, yaitu Semarang. 

Sebagai pengoceh di Bentara Budaya Solo antara lain Sanie B Kuncoro, Astuti Parengkuh, Bandung Mawardi, M Izzat Abidi , Vera Safitri, Thea Arnaiz Le, Han Putro, Fauzi Sukri, Yunan L, Setyaningsih. Dimoderatori oleh seorang sastrawan Solo,  Yudhi Herwibowo. Sengaja digarap menyatukan pertemuan para pembaca NH Dini dari lintas generasi dan dari berbagai komunitas sastra yang ada di kota Solo. 

agenda acara bulan ini
  • Keroncong Bale

    OK.Pandawa, yang mempunyai arti PANutan DAri WArga, dinyatakan berdiri tanggal 23 Oktober 2013,yang sebelumnya adalah salah satu grup dari 10 grup peserta program pelatihan anak jalanan dari Dinas Sosial Kota Surakarta tahun 2013.

  • Bincang Buku Puisi karya Halim Bahriz

    HALIM BAHRIZ, penulis kelahiran Lumajang yang juga menempa diri di Jember, Jawa Timur. Kedekatannya dengan puisi memula dari kegemarannya terhadap seni pertunjukan. Akhir tahun 2017, dua naskah teaternya diganjar Rawayan Awards oleh Dewan Kesenian Jakarta. Sejudul featurenya memenangi kategori umum sayembara penulisan The 4th Asean Literary Festival.

  • SESILIRAN

    Silir diambil dari bahasa Jawa yang berarti “Sejuk“. Sifat ini dimiliki oleh angin, angin yang berhembus memberikan nafas untuk siapa saja yang berharap padanya. Tidak dapat dilihat namun bisa dirasakan dampaknya.

  • FRAGMEN KEBINGUNGAN-KEBINGUNGAN KITA

    Kehidupan kita kini barangkali hamparan kebingungan-kebingungan. Muda dan jadi mahasiswa sejak mula tak cuma karib dengan hal-hal akademis berlabel jaminan masa depan terang benderang. Sepertinya tak utuh jadi kaum kampus kalau tak terlibat keseruan-kekisruhan asmara. Mahasiswa meloloskan diri. Menjadi pekerja tak ubahnya sebentuk pemenjaraan diri, tak jarang perlu menahan atau memendam dalam-dalam naluri kreativitas diri demi kepuasan pemilik modal.