PENARI DARI SERDANG

Peluncuran Novel & Musikalisasi Puisi YUDHISTIRA ANM MASSARDI

Senin, 18 Februari 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB

Bersama Yudhistira ANM Massardi, Gema Isyak ‘Soloensis’, Gandhi Asta, Farida Klara Tika

Sepanjang tiga tahun lalu, sastrawan Yudhistira ANM Massardi berhasil menerbitkan 3 buku kumpulan puisi -- 99 Sajak (2015), Perjalanan 63 Cinta (2017 ) dan Luka Cinta Jakarta  (2017) yang diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Pada awal 2019 ini,   penulis novel legendaris Arjuna Mencari Cinta (1977) itu membuktikan diri masih bisa menghasilkan novel baru: Penari dari Serdang,  yang  diterbitkan oleh GPU (Gramedia Pustaka Utama). 

Untuk acara peluncuran buku baru itu, Yudhis memilih tempat di Bentara Budaya Solo karena ia sudah lama jatuh cinta kepada Kota Solo. "Di Solo, masa silam dan masa depan berkelindan pelan-pelan, menjanjikan harapan," kata Yudhis. "Semuanya tersaji sebagai hidangan yang lezat dan murah," ia menambahkan sambil tertawa. Acara tersebut sekalian menjadi perhelatan syukuran sederhana menjelang harijadinya yang ke-65 (tepatnya tgl 28 Februari). Untuk memeriahkan kedua hajatan itu, digelar pentas musikalisasi puisi yang  dimainkan oleh dua pemusik rock Solo: Gema "Soloensis" Isyak dan Gandhi Asta. 

Berbeda dengan pentas kolaborasi mereka sebelumnya ("Pentas Puisi Nge-Rock"), kali ini duet Uniloka itu akan memainkan musik irama Melayu dan Keroncong. Irama Melayu untuk mengolah beberapa puisi yang  terdapat di dalam novel Penari dari Serdang. Sedangkan irama keroncong didendangkan bersama Farida "Ida" Klara Tika untuk sajak-sajak introspektif yang ditulis Yudhis sebagai penanda setiap ulang  tahunnya. Apakah hentak dan lengking rock-nya masih terasa? "Lihat saja nanti," kata Gema Isyak

agenda acara bulan ini
  • GEMATI

    Ditengah dunia yang serba digital, kita dituntut untuk serba cepat. Percepatan teknologi yang tidak dapat dikira, lambat laun mengikis kesadaran kita atas aspek-aspek kedirian kita sebagai manusia. Percepatan ini pula yang menyebabkan munculnya egositas kita, hingga acuh pada sekeliling kita. Lihatlah dunia maya, pada laman-laman media sosial kita, pada surat-surat kabar dan berita, nampak kita menjadi abai kepada sesama, mudah menilai satu sama lain, menghujat satu sama lain, tanpa mau menilik kekurangan diri.