PELUNCURAN BUKU “LUH AYU MANIK MAS-PAHLAWAN LINGKUNGAN“

Pustaka Bentara Persembahan BASAbali Wiki

Sabtu, 10 Agustus 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 18.00 WITA

Program Pustaka Bentara kali ini mengetengahkan peluncuran buku bertajuk “Luh Ayu Manik Mas-Pahlawan Lingkungan“, bekerja sama dengan BASAbali Wiki ((https://basabali.org). Buku yang ditulis oleh Putu Supartika ini merupakan seri ketiga petualangan Ayu Manik Mas yang dibuat oleh BASAbali Wiki, sebelumnya berturut-turut diluncurkan dua buku lainnya yakni seri pertama “Tresna Ring Alas“ (ditulis I Made Sugianto)  pada 4 Mei 2019 dan buku kedua berjudul “Ngae Perpustakaan Keliling“ (ditulis Ari Dwijayanthi) pada 20 Juni 2019.

Pada 2019 BASAbali menerima dua grant dari Asia Foundation. Pertama adalah menerjemahkan sejumlah buku cerita dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Bali. Kedua adalah grant untuk membuat karakter superhero perempuan Bali beserta penulisan tiga kisah petualangannya. 

Luh Ayu Manik Mas merepresentasikan sosok perempuan Bali yang tangguh dan mencintai budaya Bali. Karakter perempuan pahlawan super (prawireng putri) ini lahir dari pemikiran bersama para penulis dan ilustrator dan publik umum, di mana masyarakat diajak untuk menentukan karakter yang cocok sebagai sosok perempuan remaja pahlawan super dari Bali dan perjalanan kisahnya, melalui seluruh platform media sosial BASAbali Wiki, seperti polls yang ada di twitter @BASAbali. 

Tampil sebagai narasumber dan pembahas yakni I Putu Supartika (Penulis, Jurnalis),  Gus Dark
(Illustrator), dan Gede Robi Navicula (Seniman, Aktivis Lingkungan). Turut memaknai peluncuran, ditampilkan pula pertunjukan musik akustik oleh Robi Navicula dan Arunika Band Bali, serta pembacaan cerita oleh Gede Putra Ariawan (Sastrawan, Peraih Rancage 2015). 

Buku ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap 10 Agustus. Sebagaimana semangat HKAN untuk  mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menyelamatkan ekosistem alam, pada kisah petualangannya kali ini Luh Ayu Manik Mas dihadapkan pada kenyataan betapa keberadaan plastik sangat membahayakan dan merugikan kehidupan. Melalui kisah ketiga ini, tim BASAbali mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk aktif dan kreatif dalam mengurangi pemakaian plastik dalam keseharian. Keberadaan tokoh superhero remaja Luh Ayu Manik Mas yang berasal dari Bali dan bangga berbahasa Bali ini diharapkan menjadi pemacu generasi muda untuk tetap mencintai budaya lokal sembari melestarikan lingkungan dengan cara-cara dinamis di era milenial ini.  

Era digital saat ini telah memberikan banyak peluang untuk mengembangkan potensi di dalam segala bidang kehidupan. Adanya peluang positif di era digital ini membuat BASAbali (https://basabali.org) turut mengayunkan langkah dalam pemanfaatan kemudahan akses informasi. BASAbali  adalah kolaborasi para seniman, penulis, praktisi bahasa dan pecinta lingkungan, serta pakar bahasa yang berupaya menjaga alam dan budaya Bali tetap kokoh. Melalui situs web BASAbali Wiki (http://dictionary.basabali.org), BASAbali mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif mengisi kamus daring tiga bahasa (Bali- Indonesia-Inggris) BASAbali Wiki serta bersama-sama mengembangkan situs web ini menjadi sebuah perpustakaan virtual tentang kebudayaan Bali. 

Putu Supartika lahir di Karangasem, 16 Juni 1994. Dari kegemarannya membaca cerita dan puisi dari internet sedari SMA, karya-karyanya sejak tahun 2013 beredar di media lokal Bali hingga nasional. Pekerjaannya sebagai wartawan sebuah media online lokal tidak menyurutkan hasratnya untuk terus menulis puisi dan cerpen, baik dalam bahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Peraih penghargaan sastra Rancage (penghargaan bergengsi untuk karya sastra berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali) tahun 2017 ini sangat bersemangat dalam memajukan karya sastra Bali modern lewat blog Suara Saking Bali miliknya, serta Majalah daring bulanan Suara Saking Bali yang dikelolanya sejak November 2016.

Gus Dark kelahiran Karangasem, 21 Juli 1982, tanpa menggambar rasanya pengalaman masa kecilnya takkan terasa indah. Sejak tahun 2004 peraih penghargaan bidang lingkungan dari ROLE Foundation dan Walhi ini mengambil bidang desain grafis sebagai pekerjaan profesional dan menjadi illustrator sebagai bagian dari proses penciptaan karya. Kepekaan nuraninya pada situasi politik, hukum, dan sosial membuat peraih “2nd Winner for Anti Corruption Month“ yang diselenggarakan Komisi Anti Korupsi (KPK)  ini aktif melakukan aksi seni propaganda melalui ilustrasi-ilustrasi satirnya tentang keadaan sosial lingkungan, khususnya di Bali.     

Gede Robi, juga dikenal sebagai Robi Navicula, adalah seorang musisi, aktivis, penulis, dan petani. Robi adalah direktur Akarumput, gabungan antara kewirausahaan dan sosial, yang berbasis di Bali. Dia adalah seorang desainer Permakultur bersertifikat internasional, yang mengajar dan mengampanyekan pertanian organik di Indonesia dan seputar Asia Tenggara. Robi juga berperan sebagai pembawa acara di serial TV berjudul ‘Viva Barista’ yang ditayangkan oleh TV nasional Metro TV, yang berkeliling nusantara untuk meliput serba-serbi tentang kopi, baik itu sejarah, produksi, budaya masyarakat, dan cerita perjalanan kopi Indonesia dari biji hingga ke cangkir. Robi terpilih sebagai satu dari 32 ‘Asia Society Young Leader’ (Pemimpin Muda Asia) class of 2016, sebuah jaringan kerjasama internasional para pemimpin muda Asia yang fokus membahas tentang masa depan kawasan Asia-Pasifik yang lebih baik.

I Gede Putra Ariawan, lahir di Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan, 16 Juni 1988. Merupakan guru Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus pembina Jurnalistik dan Karya Ilmiah di SMA Negeri 1 Kediri, Tabanan. Menekuni proses penulisan kreatif semenjak menempuh studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Perguruan Tinggi: Undiksha, Singaraja (2006-2010). Melanjutkan studi S2 (2013-2014) di Pascasarjana Undiksha Singaraja, Program Pendidikan Bahasa Indonesia. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, opini, dan artikel pendek pernah dimuat di majalah Ekspresi, majalah Satua, Pos Bali dan Bali Post. Buku perdana yang diterbitkan berupa kumpulan cerpen berbahasa Bali “Ngurug Pasih“ (menimbun laut) tahun 2014 mendapat penghargaan Sastra Rancage 2015 dari Yayasan Kebudayaan Rancage di Bandung.

agenda acara bulan ini
  • BELUDRU PROJECT: Sustainability Spirit of Art in Bali

    Pameran seni rupa kali ini menampilkan karya-karya terpilih dari Kelompok Mangurupa, Badung. Merujuk tajuk “Beludru Project: Sustainability Spirit of Art in Bali“, eksibisi kali ini mencoba mengeksplorasi Beludru sebagai medium utama penciptaan. Daerah Badung sendiri dikenal menjadi titik tolak sejarah kesenian yang menggunakan kain beludru sebagai medium, dengan salah satu tokoh pelopornya yakni adalah Ida Bagus Gede (79).

    Beludru dan Bali cukup menarik jika ditelisik lebih dalam. Kain beludru boleh dikata selalu hadir di setiap upacara di Bali serta merupakan salah satu medium tradisi semisal untuk ukiran, aksesoris penari dan pendeta, menyimbolkan pula kemewahan dan ketenangan. Berangkat dari upaya eksplorasi medium beludru ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam medan seni rupa kontemporer Bali serta menjadi salah satu strategi gerakan seni kedaerahan yang mampu memberikan penawaran untuk menggerakkan kesadaran masyarakat akan seni rupa Bali saat ini.

  • BELUDRU PROJECT : SUSTAINABILITY SPIRIT OF ART IN BALI

    Pameran seni rupa kali ini menampilkan karya-karya terpilih dari kelompok Mangurupa, Badung. Merujuk tajuk “Beludru Project: Sustainability Spirit of Art in Bali“, eksibisi kali ini mencoba mengeksplorasi Beludru sebagai medium utama penciptaan. Daerah Badung sendiri dikenal menjadi titik tolak sejarah kesenian yang menggunakan kain beludru sebagai medium, dengan salah satu tokoh pelopornya yakni adalah Ida Bagus Gede (79).

  • SASTRA DAN KEMANUSIAAN

    Sudah sejak berabad lampau karya sastra menjadi semacam kanalisasi serta turut menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan, sebagaimana ditulis banyak pengarang besar dunia, seperti Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Dostoyevsky, Albert Camus, Yasunari Kawabata, Haruki Murakami, juga Yukio Mishima. Sedangkan di Indonesia dapat kita temui pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, Seno Gumira Ajidarma, Martin Aleida, Gerson Poyk, dan lain-lain.

    Para pengarang tersebut bukan semata menulis karya sastra sebuah keindahan atau penghiburan bagi pembaca, namun lebih dalam menggambarkan gejolak sosial, politik, hingga peristiwa kemanusiaan. Karya-karya mereka boleh jadi merupakan fiksi, namun berangkat dari kesadaran dan kegelisahan akan kenyataan yang terjadi di sekitar mereka atau realitas sosial pada zamannya.

  • PUSTAKA BENTARA : SEGALANYA TERHUBUNG

    Segala di dunia ini, mulai dari yang kecil nan halus, yang di dalam diri manusia (mikrokosmos/jagat alit), hingga segala yang terlihat, bisa disentuh, termasuk gugusan benda-benda angkasa (makrokosmos/jagat agung) sesungguhnya saling terhubung satu sama lain. Ilmu fisika lewat nama-nama besar seperti Max Planck, John Wheeler dan David Bohm hingga ahli biologi Vladimir Poponin & Peter Gariaev mengukuhkan kesimpulan itu melalui eksperimen-eksperimen mereka.
    Dalam bukunya The Divine Matrix, Gregg Braden menyebutkan, keterhubungan itu terjadi karena adanya medan energi tunggal yang universal, yang di zaman Yunani kuno disebut Ether. Pada tahun 1600-an, Bapak Sains Modern Sir Isaac Newton juga menggunakan kata Ether untuk mendeskripsikan “substansi tak terlihat yang merembesi dan menyelimuti seluruh alam semesta, yang menyebabkan gravitasi dan juga sensasi di dalam tubuh“.

  • LOMBA MUSIKALISASI PUISI SMA/SMK SE-BALI

    Memaknai peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember, Badan Eksekutif Mahasiswa IKBM Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar menyelenggarakan Lomba Musikalisasi Puisi se-Bali. Lomba yang diselenggarakan di Bentara Budaya Bali ini terbuka bagi bagi siswa SMA/SMK/Sederajat se-Bali.

    Adapun lomba ini diniatkan untuk membuka ruang kreativitas dan apresiasi seluasnya bagi generasi muda melalui ragam kesenian kolaboratif yang lintas bidang. Musikalisasi puisi bukan saja mengedepankan unsur-unsur susastra dalam puisi, namun mempertautkan pula seni musik dan pemanggungan atau seni panggung.