PEKAN REYOG PONOROGO

22 Des 2019 ~ 29 Des 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | 09.00 - 21.00 WIB

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Reyog Ponorogo tergolong luar biasa. Sebagai contoh, berangkat dari tradisi bijak dalam menghadapi situasi, tokoh Batoro Katong lebih memilih mundur dari kemapanan hidup daripada menghakimi pemimpin yang salah dalam melangkah. Dalam dirinya seperti tumbuh kesadaran bahwa langkah-langkah yang konfrontatif seperti demo atau perbuatan makar lainnya, hanya akan melahirkan jatuhnya korban dari orang-orang yang tak berdaya. Selanjutnya, dalam rangka menggalang dukungan, leluhur kita yang cerdik tidak memilih menggunakan tangan besi (walau sanggup melakukan itu), tetapi justru memilih seni yang langsung bersentuhan dengan hati nurani. 

Jalan inilah yang dipilih perintis seniman Reyog Ponorogo hingga berhasil melayari waktu, melintas jaman, dari dahulu hingga sekarang, dengan terpaan gelombang yang berusaha mengangkat atau menenggelamkannya di masa silam. Dan kini, bagi Wong Ponorogo, Reyog tak hanya berperan sebagai kebutuhan batin semata, tetapi justeru jadi sumber kehidupan yang menjanjikan. 

Itu sebabnya, sesuai dengan potensi yang dimiliki maka keinginan untuk turut melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam Reyog Ponorogo dikemas dalam bentuk lukisan yang dihimpun menjadi buku bertajuk “Kemilau Reyog Ponorogo“. Tentu saja buku ini akan kehilangan makna bila tak sampai ke tangan penikmat atau pembaca. Memperkenalkan Reyog Ponorogo pada masyarakat luas sesuatu yang sangat penting, Reyog Ponorogo sudah saatnya menjadi kebanggaan bangsa ini, Reyog Ponorogo setidaknya menunjukan nilai – nilai keluhuran budi bagi masyarakat pecintanya, dan kini Reyog Ponorogo menjadi hadir dalam bentuk buku dan lukisan.

agenda acara bulan ini
  • SKETSA - SKETSA KAWASAN MALIOBORO

    Gambar-gambar tangan Hendro Purwoko bukan buah keterampilan semata-mata tetapi juga ekspresi ajakan untuk membaca Malioboro sebagai kawasan kehidupan, kawasan budaya, yang sangat mewarnai keragaman perjalanan sejarah Yogyakarta. Motif sketsa Hendro Purwoko pantas untuk tidak hanya dibedah dari pencapaian wujud visual, melainkan juga dari motif konservasi ingatan dan picuan inspirasi konservasi, pemeliharaan, pengembangan, dan pemanfaatkan warisan budaya.

  • MACA PUISINE SINDHU "AIR PUISI SINDHUNATA"

    Sindhunata tidak pernah membayangkan akan menulis puisi, apalagi menerbitkan buku puisi. Ketika masih muda Sindhunata menekuni dunia jurnalistik, menjadi wartawan muda di Majalah Teruna kemudian berlanjut menjadi wartawan Kompas. Dari jurnalistik pula Sindhunata memulai kegiatan menulisnya. Dunia yang ditekuni hingga saat ini. Ketika Kompas memintanya untuk mengisi ruang kosong dengan cerita bersambung, Sindhunata menulis kisah wayang Ramayana yang kemudian kita mengenalnya dengan judul Anak Bajang Menggiring Angin. Beberapa tahun kemudian cerita bersambung itu diterbitkan dalam bentuk novel dengan judul yang sama.