PANGGUNG MAESTRO FILM TAN TJENG BOK

Sorot Kelir Bentara Putar Film & Diskusi

Jumat, 20 September 2019 Balai Soedjatmoko Solo | pukul 19.30 WIB


Pemutaran Film Drakula Mantu dan Diskusi Buku Tan Tjeng Bok
Pembicara : Fandi Hutari & Deddy Otara
Kerjasama Bentara Budaya dan Prodi Televisi & Film – ISI Surakarta



Tan Tjeng Bok adalah nama besar dalam pertunjukan tonil dan perfilman Indonesia di masa lalu. Besar dengan julukan Pak Item, maestro yang pada tahun 1898 dan meninggal tahun 1985, kehidupan Tan adalah kehidupan Panggung. Awal karirnya dimulai dengan kecintaan pada seni, sehingga rela merintis karirnya dari level terbawah. Musik, Tonil, dan Film adalah teater hidupnya. Kerja keras dan glamoritas menjadi bagian kehidupan di masa kejayaannya. Pak Item juga dikenal sebagai artis dengan identitas ganda, Betawi Tionghoa. 
Kehidupan Tan Tjeng Bok yang menarik ini meninggalkan cukup banyak artefak yang unik dan menarik. Berbekal artefak-artefak ini lah kemudian kisah kehidupan Tan Tjeng Bok dibukukan dalam bentuk Biografi oleh Fandi Hutari dan Deddy Otara. 

Judul Film: drakula Mantu
Produksi Tahun 1974
Sutradara: Nya Abbas Akup
Penulis Skenario: Nya Abbas Akup, Rusdie Husein 
Pemain: Benyamin S, Tan Tjeng Bok, Pong Hardjatmo, 
Netty Herawati, Rice Marghareta Gerung

Sinopsis:
Karena menganggur dan keadaan ekonominya yang mendesak, Benyamin (Benyamin S) bersedia menjadi tukang untuk memperbaiki rumah tua rusak yang hendak dihuni pendatang yang baru pulang belajar dari Inggris. Ternyata rumah itu banyak hantunya. Dan para hantu itu kebetulan tengah menanti pangeran Drakula (Tan Tjeng Bok) dan putranya yang akan dikawinkan dengan anak salah satu hantu di rumah itu. Film ini banyak berisi kritik sosial berkait sikap manusia yang semakin serakah sampai-sampai tidak ada lagi yang ditakuti termasuk setan.

agenda acara bulan ini
  • AIR MATA AIR BENGAWAN

    Sungai, sumber cerita dalam kehidupan manusia. Banyak ingatan terekam yang “mengalir“ di sungai. Dulu, sering kita melihat anak-anak bermain di sungai, berenang, ciblon, mandi dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai yang jernih membuat mereka ingin berlama-lama bermain di sungai. Ingatan kita juga ke Bengawan Solo, yang keberadaannya menjadi sumber utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun ironisnya, di waktu yang bersamaan perusakan terjadi di mana-mana.