PANDEMI, ERAWAN DAN KREATIVITAS

Bersama Nyoman Erawan

Rabu, 29 Juli 2020 Pukul 15.00 WIB | Live di IG @bentarabudaya_bali

Teras Bentara 
PANDEMI, ERAWAN DAN KREATIVITAS 
Bersama Nyoman Erawan
Moderator:
Ipong Purnamasidhi

Perupa Nyoman Erawan memang seniman “penggelisah“, terus bergerak mencipta serta menggali berbagai kemungkinan. Sebagai kreator multitalenta, ia menolak untuk mapan, terlebih terkungkung dan puas diri akan satu bentuk estetik atau tematik yang telah diraihnya. Bukan hanya karya lukisan, Nyoman Erawan juga mencoba beragam kemungkinan ekspresi dan medium seni, diantaranya instalasi, performing art, hingga video art. 

Melalui medium ekspresinya yang beraneka (mixed media) sudah sedini tahun 90-an Erawan mengeksplorasi hal-hal esensial warisan tradisi Bali guna meneguhkan karakter ciptaannya yang khas dan kuat. Penggalian stilistik dan tematik yang mendalam itu terekspresikan pada karya-karyanya yang hadir mempribadi sekaligus menggambarkan respon kreatifnya akan kekinian (kontemporer). Ia tidak saja asyik masyuk dalam dunia penciptaannya yang mempribadi, namun juga mengkritisi kenyataan di luar dan di dalam dirinya; situasi sosial, hingga permasalahan lingkungan. Atas dedikasi dan prestasinya, ia memperoleh apresiasi yang luas, baik nasional maupun internasional, semisal penghargaan dari Winsor & Newton Inggris (1992), First Prize “The Philip Morris Group of Companies Indonesia Art Award“ (1994), “Astra Otoparts Art Award 2005“ sebagai Life Time Achievement, Bali Biennale 2005.

Situasi pandemi COVID-19 seperti saat ini justru bagi Nyoman Erawan adalah sebuah momentum kreativitas dengan memfokuskan diri lebih mendalam untuk mencipta. Ia meyakini bahwa di tengah masa-masa sulit seniman harus tetap bersikukuh pada jalurnya, tekanan-tekanan sosial sebaliknya memicu ketegangan kreatif dan mendorong elan penciptaan. 

Bahkan jauh sebelum masa pandemi, Nyoman Erawan pernah menghadirkan sebuah ritus seni–yang dalam tradisi Bali dapat dikaitkan dengan ritual penolak bala atau melawan grubug (wabah). Performing  tersebut bertajuk  “Ruwatan, Ritus Seni Rupa Nyoman Erawan“, dibuat serangkaian Hari bumi, di Taman Budaya Denpasar (1998). 

Nyoman Erawan, lahir di Sukawati, Gianyar, 27 Mei 1958. Ia merupakan lulusan STSRI Yogyakarta. Meraih Pameran tunggalnya antara lain; “Penciptaan dan Penghancuran“, di Natayu Contemporary Art Gallery, Sanur, Bali (1995), “Keindahan dalam Kehancuran“, di Komaneka Gallery, Ubud Bali (1999), “Pralaya: Prosesi Kehancuran dan Kebangkitan“, di Bentara Budaya Jakarta (2003), “Salvation of the Soul“, di Tony Raka Art Gallery (2012), “Action & [re]action“, di ARMA Museum (2014), “EMOTIVE“, di Griya Santrian Gallery (2015), “Shadow Dance I“, di Art Space Jakarta (2016), “Shadow Dance II“, di Art Stage Jakarta (2017), “Shadow Dance III“, di Bentara Budaya Bali (2017), dll. Pameran bersama: “Reading Multi Sub Culture“, Two Demension Indonesian Fine Art, Berlin Jerman (2004), Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas, Bentara Budaya Yogyakarta (2006); “Bali Biennale Astra Otoports Award 2005“; “Beyond The Limit and its Challenges“, Biennale Jakarta XII (2005); “The Gate: Pre Discourse“ Semar Art Gallery Malang dan Hu Bei Art College Wu Han, China (2006); “Imagined Affandi“ Peringatan 100 tahun Affandi, Gedung Arsip Jakarta (2007), dll. (*)