Pameran Wayang Potehi

Waktu Menghidupkan Kembali Wayang Potehi

Kamis, 03 Mei 2018 Bentara Budaya Jakarta | 19.30 WIB

Pembukaan : Kamis, 3 Mei 2018 pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung : 4 – 12 Mei 2018 pukul 10.00 – 18.00 WIB

Diskusi “Mengenal Lebih Dekat Wayang Potehi“
Jumat, 4 Mei 2018 pukul 14.30 WIB

Wayang Potehi sempat “mati suri“ selama lebih 30 tahun di ranah seni pertunjukan di Indonesia. Wayang potehi yang dibawa oleh perantau Tionghoa ke Nusantara sekitar abad ke-16 itu mulai muncul kembali sekitar tahun 1998. Salah seorang yang tekun merawat dan menghidupkan kembali wayang potehi adalah Toni Harsono alias Tok Hong Lay (46) dari Kecamatan Gudo, Jombang, Jawa Timur.  

Toni mewarisi, merawat, dan menghidupkan wayang potehi dari pandahulunya. Toni memulai aktivitasnya di Kelenteng Hong San Kiong di Desa Gudo, arah barat daya Kota Jombang. Kelenteng ini sejak awal abad 20 dikenal sebagai “pusat“ Wayang Potehi. Pada masanya, di Gudo dikenal dalang Wayang Potehi tersohor bernama Tok Su Khwei, yang tak lain adalah kakek dari Toni. Keterampilan mendalang itu menurun ke ayah Toni yaitu Tok Hong Kie, dan kemudian berlanjut ke Toni.

Tiga generasi tersebut secara turun temurun dalam rentang waktu lebih dari 100 tahun ikut menghidupkan wayang potehi. Berkat ketekukan dan kecintaan mereka, wayang potehi bertahan di tengah gelombang sejarah, dan  arus perubahan zaman. Generasi hari ini bisa mengenal  wayang potehi sebagai  bagian dari  seni pertunjukan yang selama ratusan tahun tumbuh di negeri ini. Ia menjadi bagian dari wajah kebudayaan di Indonesia.

Pameran Wayang Potehi ini digelar sebagai bagian dari Penghargaan 35 Bentara Budaya yang diberikan kepada 7 tokoh pada 26 September 2017 dan Toni Harsono adalah salah seorang penerimanya. Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka yang aktif merawat kebudayaan, dan menghidupkan kesenian.

Bentara Budaya mengapresiasi upaya Toni dalam menghidupkan wayang potehi di tengah Indonesia yang beragam.

agenda acara bulan ini
  • WANITA DAN LAUT

    Sajak Selasa merupakan program apresiasi puisi dan kolaborasinya ke dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan lainnya yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta bersama Komunitas Bentara Muda. Kali ini acara bekerjasama dengan Climate Rangers, sebuah komunitas lingkungan yang digawangi oleh anak-anak muda di Jakarta dan juga kota-kota lainnya.

    Mengambil tema “Wanita dan Laut“, para penampil akan merespon puisi ke dalam berbagai
    bentuk apresiasi seni. Mereka ingin menyampaikan pesan kepedulian terhadap lingkungan dan secara khusus ditautkan dengan Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni.