Pameran Tunggal Lukisan

KIDUNG RAMPOGAN

9 Agt 2018 ~ 19 Agt 2018 Bentara Budaya Jakarta | 19.30 WIB

“Rampogan“ berisi banyak persona. Mereka merupakan sekumpulan prajurit bersenjata, ditambah dengan kuda atau gajah. Engsel di pangkal lengan dan siku membuat setiap boneka wayang kulit luwes untuk gerakan tangan. Para jagoan misalnya bisa tampak memegang senjata atau saling adu pukulan. Di tangan dalang yang trampil kesatria Hanoman bahkan mampu berjumpalitan selayaknya kera. Sebaliknya, rampogan yang berupa satu bidang datar, bergerak dengan kaku.

Rampogan inilah yang menjadi sumber rujukan Sri Warso Wahono untuk menggarap karya-karya lukisnya. Di dalam pertunjukan wayang kulit, rampogan biasanya muncul ketika negara sedang genting dan bersiap menghadapi perang. Keadaan yang genting ini tentu saja tidak normal karena negara di dalam kisah wayang selalu digambarkan sebagai “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja“; negara yang makmur berkeadilan serba tertib dan aman sentausa. Justru itulah yang membuatnya terpikat: penyimpangan tengah terjadi, menimbulkan chaos, dan menuntut pemulihan untuk kembali ke keadaan semula.

Namun demikian Sri Warso Wahono tidak berhenti pada kesibukan kelompok militer di dalam persiapan perang. Ia menariknya keluar dari tempatnya yang sudah mapan, dan mencemplungkannya ke dalam kancah yang lebih luas, lebih rumit, dan lebih tak terduga. Ia mengubahnya dari semula sebagai ujud sesuatu konflik kepentingandi dalam epos Mahabharata maupun Ramayana, menjadi sesuatu entitas yang mewadahi berbagai macam soal-soal kekinian.

Sri Warso Wahono merupakan salah satu pelukis modern Indonesia terkemuka, lahir di Solo 17 Juni 1948. Ia mendalami berbagai tema lukisan, sejak ia memulai kariernya pada tahun l962 hingga sekarang. Selama menjalani kariernya itu pula, Sri Warso Wahono telah berpameran lukisan tunggal sebanyak l9 kali. Sedangkan pameran bersama para seniman lain dari dalam dan luar negeri, telah tak terhitung. Sri Warso adalah seniman penjelajah. Ia melakukan orientasi senirupa ke berbagai negara di dunia. Mengikuti dan melakukan orientasi Seni Lukis pada Biennale 20, Senirupa se Dunia di Sao Paolo-Brazil pada tahun l989. Ia juga mengikuti Biennale Senirupa

Dunia di Warsawa-Polandia tahun 2003. Melakukan orientasi Senirupa pada Biennale l00 , di Venezia-Italia pada tahun 2013. Pameran-pamerannya yang lain, terselenggara di Whasington DC-Amerika Serikat disponsori oleh IMF Gallery. Di Antwerpen-Belagia, tahun l995. Pameran di Amstredam dengan sponspor Wim’s Co Gallery. Di Asia, Sri Warso pameran keliling negara-negara ASEAN (Bangkok;Manila; Kuala Lumpur; Brunei Darussalam).

agenda acara bulan ini
  • Koentjaraningrat Memorial Lecture XV

    Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta mengadakan Kuliah Umum Antropologi “Koentjaraningrat Memorial Lecture“ sebagai bentuk pemaknaan kembali atas buah pikiran Intelektual Antropologi, Prof. Koentjaraningrat. Khusus untuk acara kali ini, Kuliah Umum mengambil topik “Integrasi Nasional dan Ancaman yang Dihadapi“ dengan pemateri Prof. Dr. Heddy Shri-Ahimsa Putra, MA. (Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada).

    Ini merupakan agenda tahunan FKAI dan telah berlangsung sejak tahun 2003. Setiap edisinya, Kuliah Umum Antropologi ini selalu mencoba menarik benang merah antara perkembangan ilmu Antropologi dengan kenyataan aktual yang terjadi di negeri ini.

  • Laring Project: TUBUKA

    Gema Swaratyagita menampilkan karya terbarunya yang berangkat dari mengolah tubuh, bunyi dan kata (TUBUKA) ke dalam suatu komposisi musikal. Konsep tersebut, menurut komposer kelahiran Jakarta 1984 ini, muncul ketika dirinya mencoba memaknai ulang definisi ‘aku’ dan ‘tubuhku’ di mana seringkali kita lupa melihat kekayaan tubuh sendiri dan terpukau dengan tubuh orang lain.

    Gema bermaksud mengajak siapapun yang berkenan berpartisipasi untuk mengirimkan bunyi yang dihasilkan dari masing-masing tubuh, bisa berupa bunyi tepukan telapak tangan, langkah kaki, atau respons lainnya sebagai bentuk “mengenali“ kekayaan bunyi tubuh sendiri, serta adakah pertanyaan atau ungkapan yang ingin disampaikan kepada tubuh kita.

  • Sajak Selasa

    Sajak Selasa merupakan program apresiasi puisi dan kolaborasinya ke dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan lainnya yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta bersama Komunitas Bentara Muda. Selain menampilkan pertunjukan lintas bidang antara puisi, musik, rupa, fotografi, multimedia, maupun paduannya dengan seni-seni tradisi seperti tari dan karawitan, acara ini juga terbuka bagi siapa saja untuk membacakan puisi karyanya sendiri.