Pameran Tunggal Anis Kurniasih

FABULA

Selasa, 06 Februari 2018 Balai Soedjatmoko Solo | 19.30 WIB


Pembukaan Pameran : Selasa, 6 Februari 2018
Dibuka Oleh : Narsen Afatara 
Hiburan Musik Oleh: Suarasa
Pameran Berlangsung :
7-12 Februari 2018 | Pukul 09.00-21.00 WIB


Sejak dahulu, bentuk-bentuk alam banyak dijadikan ide awal penciptaan karya manusia. Meskipun bagi Pluto, bentuk-bentuk tiruan keindahan bunga atau senja hanya salinan cacat dari sebuah kaya asli yang sempurna, abadi dan rasional. Namun, alam tetap merupakan sumber inspirasiyang tidak ada habis-habisnya untuk dieksplorasi. Alam begitu dekat dengan manusia. Dari waktu ke waktu, keduanya mengalami perkembangan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Manusia memiliki kemampuan untuk mengatur dan mengendalikan sesuatu, termasuk alam. Alam hadir jauh lebih awal dari umat manusia. Namun rekam jejak manusia di tubuh alam jauh melebihi eksistensinya di dunia.

Di masa kini, intervensi manusia terhadap alam terasa begitu wajar. Sebut saja pengomersialan alam berbasis pariwisata, persilangan genetik, pelurusan sungai, pertambangan, dan lain sebagainya. Menurut Leinfelder Reinhold,  kita saat ini sudah sedemikian jauh. Manusia sudah mengubah alam sedemikian rupa sehingga kita harus menyatakan, alam pengertian masa lalu sudah tidak eksis lagi.

Lalu muncullah ambiguitas : apa itu alam dan alami ? Masihkah alam versi olahan manusia merupakan bagian dari alam itu sendiri, atau justru menjadi sesuatu yang asing?.

Fabula dalam bahasa latin merujuk pada berbagai bentuk drama; menceritakan sesuatu secara naratif. Fabula berusaha merefleksikan ambiguitas tersebut dalam bentuk drama kehidupan hewan mutan. Hewan mutan dan tumbuhan merupakan penggambaran alam kekinian yang telah terlepas dari pengertian masa lalu. Dunia begitu bising oleh gegap gempita industrialisasi dan individualisme. Akibatnya, nilai-nilai kehidupan manusia mulai dangkal. Penghayatan atas alam mulai mengabur. Perilaku manusia antara demi alam atau dirinya sendiri tampak begitu samar. Upaya ‘kembali ke alam’, Retornous ala nature seruan Jean Jacques Rosseau telah kehilangan maknanya yang hakiki .

agenda acara bulan ini
  • Orkes Keroncong Winada, Solo

    Orkes Keroncong Winada ini yang sudah berjalan 3 tahun, sedikit banyak sudah berbartisipasi dalam kegitan masyarakat, Beraneka macam bentuk kegitan yang telah dimasuki seperti acara keagamaan, Hajatan, Pemerintahan, Kampung dan Gelar Budaya yang bersifat Formal dan Non Formal.

  • Tulisan Itu “IBU“

    Pada 1928, kaum perempuan bersuara untuk segala pemajuan dan pemenuhan harapan-harapan. Di Jogjakarta, kaum perempuan berpidato dan bercakap mengurusi pelbagai halam mengenai kewajiban-hak perempuan berlatara Indonesia ingin mulia. Mereka memilih menulis teks pidato dengan bahasa Indonesia. Suara mereka di muka umum menandai ada kemauan mengabarkan ide dan perasaan minta tanggapan publik. Pada 1928, kita mengenang mereka gara-gara tulisan dan pidato.

  • LOVE ‘N’ PEACE

    Mengangkat tema Love n peace, Blues On Stage ingin menyampaikan pesan cinta damai kepada masyarakat. Tahun politik dan perkembangan sosmed sering memberi dampak negatif berupa penyebaran hoax,ujaran kebencian, penghinaan dsb.