Pameran Topeng & Pertunjukan Tari

SAMADI DAN LUH MENEK

Sabtu, 24 Februari 2018 Bentara Budaya Bali | 18.30 WITA


Pembukaan : Sabtu, 24 Februari 2018, pukul 18.30 WITA
Pameran untuk umum : 25 Februari  - 3 Maret 2018, pukul 10.00 – 18.00 WITA
Workshop & demonstrasi membuat topeng : 25 – 26 Februari 2018, pukul 14.00 WITA

Pameran topeng dan pertunjukan tari yang menghadirkan seniman Samadi dan penari Luh Menek kali ini merupakan rangkaian program memaknai 35 Tahun Bentara Budaya, 2017 lalu. Pada kesempatan perayaan tersebut diberikan Anugerah Bentara Budaya kepada 7 Pengabdi Seni Budaya, antara lain Abdul Chaer (akademisi, ahli bahasa), Pardiman Djoyonegoro (komposer gamelan), Rudolf Puspa (tokoh teater), Sukirun (seniman Ludruk), Toni Harsono (pelestari Wayang Potehi), termasuk pula Samadi (seniman topeng Panji) dan Ni Luh Menek (maestro tari). 

Sebagai bagian dari penghormatan pada Pengabdi Seni Budaya tersebut diselenggarakanlah di 4 venue Bentara berbagai program yang mengedepankan capaian seni dan dedikasi mereka, berupa pertunjukan, pameran, diskusi, workshop, pemutaran dokumenter dan lain-lain. Anugerah Bentara Budaya ini sebelumnya pernah diberikan pada 10 Pengabdi Seni Budaya pada tahun 2012 lalu, antara lain kepada : pelukis Sulasno (Yogya), Ni Nyoman Tanjung (Bali), Anak Agung Ngurah Oka (Bali), Pang Tjin Nio (Jakarta), Rastika (Cirebon), Sitras Anjilin (Magelang), Mardji Degleg (Jawa Timur), Dirdjo Tambur (Yogyakarta), Hendrikus Pali (NTT) dan Zulkaidah Harahap (Sumut).

Ni Luh Menek, salah satu dari para maestro Bali yang mengabdikan keseluruhan hidup nya dalam bidang seni tari. Ia juga berhasil mengangkat nama desa Tejakula sebagai sebuah icon yang identik dengan spesialis tari yang beliau tarikan. Sedini muda ia telah belajar tari dibimbing oleh I Wanres dan I Gede Manik, dimana kedua tokoh ini adalah pencipta tari Kebyar di Bali Utara. Bersama kedua maestro ini Luh Menek tekun mendalami Tari Teruna Jaya dan Tari Palewakya.

Luh Menek dikenal sebagai penari yang memiliki kekhasan gaya tari Buleleng, seperti Teruna Jaya, Palewakya, dan Cendrawasih. Cirinya yang paling menonjol adalah gerakannya yang enerjik, agresif, serta perpaduan antara gaya yang manis dan kelembutan. Atas dedikasinya bagi kesenian, khususnya seni tari, Luh Menek telah memeroleh sejumlah penghargaan, antara lain: Juara 1 Tari Teruna Jaya di Kabupaten Buleleng (1985), Penghargaan Seni Wijayakusuma dari Bupati Buleleng (1988), Juara 1 Tari Margapati di Kabupaten Buleleng (1960), Penghargaan dari Bupati Buleleng untuk Terunajaya dan Palewakya (2001), penghargaan Seni Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni dari Pemerintah Provinsi Bali (2011), serta anugerah dari Desa Tejakula sebagai pelestari dan seniman tari (2013). Luh Menek pernah pula berpentas dan memberikan workshop tari di Bentara Budaya Bali memaknai Tribute to Maestro Blangsinga: 75 Tahun Berkarya (2013)

Samadi, bernama lengkap Mardi Yitno Utomo, merupakan pembuat topeng dari Bobung, Putat, Patuk, Gunungkidul. Sedini muda ia telah menekuni kerajinan di Bobung. Kini ia lebih banyak menekuni pembuatan topeng klasik seperti topeng-topeng untuk acara Panji ataupun topeng wayang. Berbekal pengalaman yang dia miliki ditambah pesanan-pesanan yang datang kemudian–biasanya para pemesan membawa contoh topeng atau foto topeng– dia semakin mengenal ciri-ciri setiap tokoh yang dibuat topengnya. Menurutnya, guru terbaik untuk belajar membuat topeng adalah melihat langsung maupun mencermati foto bentuk dan warna topeng kuno atau klasik. Bakat Samadi sejak kecil memang sudah tampak. Dia selalu membuat topeng dengan mencontoh topeng-topeng lama (mutrani). Dengan demikian, dia dapat merekam dalam ingatannya bentuk topeng-topeng Panji. Ingatan yang tajam diperlukan untuk bekerja membuat topeng. Dia adalah salah satu penerus tradisi pembuatan topeng Panji yang masih tetap berkarya. Dia berharap tetap bertahan untuk melestarikan pembuatan topeng klasik.

agenda acara bulan ini
  • MULTIMEDIA & VIDEO ART

    Kemajuan dunia audio-visual memang tak selamanya menjadi rahmat. Melekat dalam media-media modern itu sebentuk kecanggihan yang penuh godaan. Melalui mata kamera dan seperangkat alat studionya, peristiwa nyata bisa hadir lebih estetis dan jauh dari realita yang sebenarnya. Editing dan framing atau pembingkaian yang (sengaja) tak akurat, membuahkan sederet gambar yang bersifat mimikri dan cenderung mengelabui, mungkin elok dan molek, namun sesungguhnya berlebihan. Giliran berikutnya, karena tampil berulang secara ritmis dan sugestif, gambar-gambar itu seolah menjelma mantra yang lambat laun ‘menyulap’ penonton– terutama pemirsa televisi, pengguna dunia maya dan gawai–dari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera.

  • MUNCULNYA IDENTITAS BALI DI ERA KOLONIAL

    Institut Français d’IndonĂ©sie (IFI) dan Alliance française Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali menyelenggarakan seminar atau timbang pandang seputar munculnya identitas Bali di era kolonial. Sebagai narasumber yakni Michel Picard, seorang peneliti dan anggota pendiri Pusat Studi Asia yang berpusat di Paris, Prancis.

  • KISAH SUTRADARA DAN FILM ANTI KORUPSI

    Sinema Bentara kali ini terbilang khusus karena memaknai Hari Film Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Maret. Film yang dipilih sebagaian besar tertaut pada memoar atau kisah seseorang yang tumbuh menjadi sutradara, termasuk juga film-film yang merupakan buah cipta dari para pelopor sinema di Indonesia, antara lain Asrul Sani melalui film Pagar Kawat Berduri (1961, 123 menit), dan Teguh Karya lewat Di Balik Kelambu (1983, 94 menit). Serta tidak ketinggalan Nuovo Cinema Paradiso (Italia, 1988, 124 menit) yang merupakan refleksi perjalanan hidup sang sutradaranya sendiri, Giuseppe Tornatore.

  • KARTUN BER(B)ISIK

    Bukan kali ini saja Bentara Budaya Bali menyelenggarakan pameran kartun. Jauh sebelumnya, yaitu Benny & Mice Expo (20-29 Mei 2010) dan 9th Kyoto International Cartoon Exhibition (9 – 15 Oktober 2010). Bahkan pada tahun 2017 secara khusus menghadirkan pameran tunggal kartunis legendaris GM Sudarta yang sohor dengan sosok Oom Pasikom (….).