Pameran Seni Rupa MJK Art Comunity

KAMA BANG KAMA PETHAK

Minggu, 23 September 2018 Bentara Budaya Bali | 19.00 WITA

Pembukaan : Minggu, 23 September 2018, pukul 19.00 WITA
Pameran berlangsung: 24 September Р3 Oktober 2018, pukul 10.00 Р18.00 WITA

Pameran seni rupa di Bentara Budaya Bali kali ini menghadirkan karya-karya terkini sejumlah seniman yang tergabung dalam MJK Art Comunity, komunitas perupa lintas asal dan latar namun sama-sama alumni perguruan tinggi seni. Mereka meluapkan kreativitasnya seraya merespon kandungan nilai yang terdapat dalam ungkapan “Kama Bang Kama Pethak“.

Sebagaimana tajuk pameran sebelumnya, yakni “Tulang Rusuk“, dilaksanakan di Bentara Budaya Jakarta, mereka mengandaikan kebersamaan ini sebagai upaya memaknai keberadaan, yang diyakini ditandai oleh dua unsur hidup yang satu sama lain hakikatnya menyatu; senapas dengan filosofi yang dihayati masyarakat Bali, yaitu “Rwa Bhineda, diikuti 29 perupa serta dimaknai performing art oleh I Dewa Mustika dan Putu Bonuz Sudiana. 

Setaut peristiwa pameran ini, kita dapat menyimak tulisan Made Susanta dan Janu PU, yang tentunya mengungkapkan korelasi kreatif antara tematik, berikut karya-karya yang terhampar di dinding atau tersaji di ruang Bentara Budaya Bali. Pertanyaan dapat segera diajukan, sejauh manakah sesungguhnya elaborasi para kreator terhadap kandungan nilai atau bingkai makna yang ditetapkan sebagai acuan bersama dalam pameran kali ini.
  
Kerja kreatif dalam kesenian selalu mengandaikan adanya proses yang lintas batas. Ini sejalan juga dengan semangat dari tema utama Bentara Budaya sepanjang 2018, yakin “Menerabas Cakrawala“. Dengan kata lain, acuan tematik atau bingkai makna sebuah peristiwa, baik yang selaras dengan local wisdom maupun wacana universal dari pergaulan global, hendaknya tidak berhenti semata sebagai ungkapan atau “pernyataan“, melainkan sungguh dieksplorasi serta dijelmakan sebagai “kenyataan“; melalui ragam visual dan tampilan komposisi yang otentik –menandai adanya tahapan Penemuan Diri-  sekaligus menyentuh publik dengan kedalaman renungan. 

Bingkai makna atau rujukan tematik bisa saja diandaikan semacam terminologi, yang memang membantu kita untuk merumuskan dan memahami satu keadaan atau satu fenomena kejadian (segugusan nilai), akan tetapi pada sisi lainnya tidakkah hal itu juga meringkas kemungkinan pemahaman, bahkan meringkusnya menjadi sesuatu yang bersifat membatasi proses kreasi. Tugas para kreator atau pencipta, baik seni rupa maupun bidang lainnya, adalah bagaimana melampaui batasan terminologi atau tematik itu dengan upaya memperkaya pemahaman dan kemungkinan tafsirnya. Sehingga publik memeroleh pengalaman dan pemahaman yang lebih membebaskan atau mencerahkan. Di titik itulah kreasi berfungsi pula sebagai rekreasi  batin, mengingat bahwa para seniman hakikatnya adalah “makhluk bermain“ atau Homo Ludens.

Adapun seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain: Adi Gunawan, Agus Gibbon Priyanto, Agus Putu Suyadnya, Dani Heriyanto, Dedy Sufriadi, Deskhairi, Gusmen Heriadi, Hari Gita, Hayatuddin, I Dewa Made Mustika, I Made Arya Palguna, I Putu Bonuz Sudiana, Iqi Qoror, Jesaya Jerry P, Joni Antara, M. Andi Dwi Iskaryanto, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Norman Hendrasyah, Nyoman Sujana Kenyem, Riki Antoni, Robi Fathoni, Safrul, Seno Andrianto, Suroso, Isur, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Tofan Muhammad Ali Siregar, Wayan Upadana, dan Wisnu Ari Tjokro.

Profil seniman selengkapnya lihat di: www.bentarabudayabali.wordpress.com 

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara

    Ini adalah cerita orang biasa dalam kemelut perang tak terlupa. Film-film terpilih dalam Sinema Bentara kali ini adalah buah kejelian para sutradara yang dengan piawai mengangkat sosok-sosok manusia biasa sebagai pelaku utama, mengundang daya haru sekaligus mencerminkan absurditas kehidupan, dimana manusia boleh berencana dan berusaha, tapi nasib dan takdir tetap saja menyimpan misterinya; seseorang tak dinyana mengalami berbagai peristiwa tak terduga, berhadapan dengan sekian kejadian yang tak jarang berakhir derita di tengah kemungkinan suka cita.

  • Bentara Muda Bali Goes To Campus

    Memaknai bulan November yang ditandai adanya perayaan Hari Pahlawan (10 November), Bentara Budaya Bali mencanangkan kunjungan atau anjangsana ke kampus IKIP PGRI Bali melalui program Bentara Muda Bali Goes to Campus. Kini mengetengahkan program pemutaran film seputar dunia seni rupa sekaligus sosialisasi program Triennial Seni Grafis Indonesia VI 2018 Bentara Budaya yang berskala internasional. Kegiatan kali ini bekerjasama dengan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP PGRI Bali dan Badan Eksekutif Mahasiswa FPBS IKIP PGRI Bali. Agenda ini selaras pula upaya alih pengetahuan sebagaimana selama ini diniatkan melalui agenda Kelas Kreatif Bentara.

  • Dialog Sastra #62

    Bukan kali ini saja Bentara Budaya Bali menyelenggarakan Dialog Sastra yang berfokus kepada perkembangan sastra Bali modern, termasuk pula upaya lebih mendasar terkait pemahaman atas penggunaan bahasa Bali sebagai sarana ekspresi, semisal lokakarya menyurat Lontar, pameran dan dialog perihal keberadaan Prasi (lukisan di atas daun Lontar) –yang tertaut dengan kehidupan kreatif serta pengembangan minat dan bakat generasi muda.