Pameran Seni Rupa Komunitas 22 Ibu

SANG SUBJEK

21 Apr 2018 ~ 30 Apr 2018 Bentara Budaya Bali | 18.20 WITA


Workshop, Performing Art & Pembacaan Puisi
Pembukaan : Sabtu, 21 April 2018, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 22 – 30 April 2018, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Bila menyimak penanggalan pada bulan Maret dan April, segera terbaca sosok Perempuan sebagai Sang Subyek dari rangkaian peristiwa. Pertama, Hari Perempuan Internasional (8 Maret) dimaknai sebagai Women’s March dengan berbagai unjuk rasa yang menuntut adanya perlindungan terhadap anak, kaum perempuan, dan minoritas. Kedua, Hari Kartini (21 April), meneguhkan penghormatan pada upaya perjuangan emansipasi; menuntut kesamaan hak dengan lelaki.  

Pameran seni rupa merujuk tajuk Sang Subyek yang diselenggarakan oleh Komunitas 22 Ibu ini, tentulah tak lepas dari upaya memberi arti dua penanggalan penting tersebut. Kurator  pameran, Hardiman, menguraikan dalam pengantarnya perihal “aku perempuan“ sebagai pokok karya, tema, atau fokus gagasan. Bukan sekadar memiliki kesamaan atau kesetaraan dengan subyek-subyek lain, tetapi juga sanggup menyusun konstruksi subyektivitas yang menjadikan dirinya memiliki kepribadian atau menjadi diri sendiri. 

Bukan kali ini saja Bentara Budaya Bali menghadirkan tema Perempuan, baik sebagai Ibu maupun pribadi tersendiri, berikut problematik yang dihadapi.  Sejumlah film dalam Sinema Bentara, semisal: Tjoet Nja Dhien, RA Kartini, Pasir Berbisik, hingga buah karya sutradara mumpuni lintas bangsa peraih berbagai penghargaan internasional, semisal: Two Women, Marguerite, Four Minutes, Caramel, 8 Femmes, Hankyu Densha, dan Mother India, serta lain-lain. 

Tak ketinggalan juga para perupa, baik perempuan atau laki-laki, yang mengeksplorasi sosok Perempuan sebagai ilham penciptaan. Demikian pula pada seni pertunjukan, sejumlah penari dan penampil teater mencoba merefleksikan sosok Ibu dalam panggung mereka. Atau kajian tersendiri melalui program Bali Tempo Doeloe juga pameran khusus terkait tinggalan arkeologis dan jejak historis yang menggambarkan fase penting peran perempuan sebagai pemimpin, antara lain figur sejarah Mahendradatta dan Raja Udayana dari Wangsa Warmadewa. Pada program Dialog Sastra tak jarang dikritisi perihal budaya patriarki yang digugat sastrawan melalui novel, cerpen, maupun puisi. 

Jadi terbukti, peran dan figur seorang Perempuan atau Ibu, menginspirasi lahirnya karya-karya yang bernilai seni tinggi, baik dalam bidang sastra, musik, film, tari maupun ragam ekspresi lainnya. Para kreator tidak hanya berupaya mengelaborasi sosok ataupun ketokohan Ibu secara harfiah atau sehari-hari, namun juga menggali nilai-nilai luhur simbolisnya.

Masyarakat Bali sendiri mengenal sosok Ibu yang termanifestasikan dalam berbagai rupa dan peran. Sebagai Dewi yang baik hati, maupun sosok-sosok luhur lainnya, dengan kepribadiannya yang penuh welas asih. Sosok Ibu nan agung tersebut dapat ditemui pada cerita-cerita setempat, kisah religi maupun wiracerita pewayangan.

Dalam tataran yang lebih luas, Ibu juga kerap dihadirkan sebagai simbol kecintaan kita akan tanah air, atau Ibu sebuah bangsa. Indonesia sendiri mengenal idiom Ibu Pertiwi, yang merefleksikan bumi tempat pijak masyarakat negeri ini sekaligus bermakna sebagai sesuatu nan agung, tanah tumpah darah kelahiran, di mana segala hal di Nusantara diibaratkan bermuasal darinya. Dengan kata lain, dapat juga berarti Ibu Budaya.

Para peserta pameran ini antara lain: Ariesa Pandanwangi, Arleti Mochtar Apin, Arti Sugiarti, Ayoeningsih Dyah Woelandhary, Bayyinah Nurrul Haq, Belinda Sukapura Dewi, Cama Juli Ria, Didit Atridia, Dina Lestari, Dini Birdieni, Dyah Limaningsih Wariyanti, Endah Purnamasari, Endang Caturwati, Eneng Nani Suryati, Erni Suryani, Ety Sukaetini, Gilang Cempaka, Ika Kurnia Mulyati, Lisa Setiawati, Luki Lutvia, Meyhawati Yuyu Julaeha Rasep, Nia K, Nida Nabilah, Niken Apriani, Nina Irnawati, Nina Fajariah, Nita Dewi Sukmawati, Nenny Nurbayani, Nuning  Damayanti, Nurul Primayanti, Ratih Mahardika, Rina Mariana, Risca Nogalesa, Shitra Noor Handewi "Evie Sapiie", Siti Sartika, Sri Nuraeni, Sri Rahayu Saptawati, Sri Sulastri, Talitha Y, Tjutju Widjaja, Ulfa Septiana, Vidya Kharishma, Wanda Listiani, Wida Widya Kusumah, Wien K Meilina, Yetti Nurhayati, Yunita Fitra Andriana, Yustine, dr. Zaenab Ahmad Shahab. Sebagai kurator yakni Hardiman. 

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara #KhususMisbar

    Setelah bulan lalu mengedepankan film-film dengan tokoh orang biasa di tengah kecamuk perang dan konflik, Sinema Bentara bulan Desember ini menghadirkan film-film cerita panjang dan pendek peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri yang merujuk kisah anak-anak yang mengalami pahit getir kehidupan sedini masa mudanya; tidak memiliki ibu, saudara atau ayah oleh berbagai alasan. Anak-anak “korban“ situasi tertentu ini melihat hidup dan kehidupannya boleh dikata berbeda dengan anak-anak keluarga umumnya.

  • JAIS DARGA NAMAKU

    Bila menyimak buku “Jais Darga Namaku“, seketika kita tergoda, apakah ini sebuah autobiografi, sekadar memoar yang disajikan dengan gaya novel, ataukah sebuah roman, bauran antara fakta dan fiksi yang mengisahkan secara utuh menyeluruh perihal sosok terpilih? Buku ini mengetengahkan latar belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi“ atau “pulang“.