Pameran Seni Rupa Kelompok Sakapat

MENJEMPUT KEBAHAGIAAN-MENDAK BAGIA

Selasa, 20 Februari 2018 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.30 WIB


Perupa:  I Wayan Noviantara, I Putu Adi Suanjaya, I Wayan Sudarsana, I Wayan Bayu Mandira
Pembukaan Pameran: Selasa, 20 Februari 2018 |  Pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung: 20 - 28 Februari 2018 | Jam buka 09.00 – 21.00 WIB

Bali atau yang lebih dikenal sebagai Pulau Dewata ini adalah daerah asal kami yang memiliki keindahan alam dan budayanya. Sebagai orang Bali kami sangat bersyukur atas segala hal yang telah dianugrahkan oleh sang Pencipta kepada masyarakat Bali. Berbagai cara di lakukan masyarakat Bali untuk mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan sebagai tanda terima kasih kepada sang Pencipta.

Salah satu bentuk tanda terima kasih masyarakat Bali khususnya Hindu adalah mengadakan upacara yadnya, dalam hal ini yadnya yang kami maksud adalah Dewa Yadnya. Dewa Yadnya merupakan persembahan yang tulus ikhlas yang ditujukan kepada para dewa sebagai manifestasi-Nya. Tingkatan Dewa Yadnya ada yang terendah hingga tertinggi, tingkatan tertinggi Dewa Yadnya yaitu Utama. Dalam tingkatan ini salah satu upacara yang dilakukan adalah Mendak Bagia yang merupakan salah satu rentetan upacara Karya Agung. Mendak Bagia adalah bentuk simbolik ungkapan syukur atas melimpahnya hasil bumi. Hasil bumi tersebut yang sudah dikumpulkan di suatau tempat atau pura dan sudah diupacarai akan di jemput oleh masyarakat desa dan di bawa menuju ke tempat atau pura yang diadakannya upacara Dewa Yadnya tersebut. Sesaji yang ada dalam bagia tersebut akan ditanam di dalam areal pura, sedangkan hasil bumi yang ada di dalam bagia tersebut akan dibagikan dan diperebutkan oleh masyarakat desa.

Mendak bagia sendiri memiliki arti "mendak" menjemput "bagia" sesaji yang berisi hasil bumi yang di simbolkan sebagai kebahagiaan. Dalam hal ini kami hanya ingin mengambil inti dari arti mendak bagia tersebut. Mendak bagia atau menjemput kebahagiaan yang kami maksud adalah menjemput kebahagiaan kami di dalam dunia berkesenian. Pameran ini kami maksudkan sebagai cara kami mensyukuri atas datangnya kebahagiaan di dalam berkesenian.

Sakapat merupakan sebuah kelompok mahasiswa rantauan dari Bali yang beranggotakan I Putu Adi Suanjaya, I Wayan Sudarsana, I Wayan Nopiantara, dan Wayan Bayu Mandira. Keempatnya berkuliah di ISI Yogyakarta sejak tahun 2012 dan menetap hingga sekarang di Yogyakarta, menggabungkan diri ke dalam kelompok seni rupa Sakapat.

Saka dalam bahasa Bali bisa diartikan tiang atau pilar, sedangkan kata pat berarti empat. Sakapat biasanya difungsikan sebagai empat pilar penyangga bangunan tradisional Bali beratapkan limas atau persegi empat. Mengambil nama Sakapat yang artinya empat pilar sebagai nama sebuah kelompok, dianalogikan seperti rumah yang selalu membutuhkan tiang di dalamnya untuk dapat berdiri kokoh. (Sakapat)

agenda acara bulan ini
  • Pasar Yakopan

    Untuk memperingati ulang tahunnya, BBY akan menyelenggarakan Pasar Yakopan mulai tanggal 26-30 September 2018. Pasar Yakopan diambil dari nama Jakob Oetama. Bentara Budaya Yogyakarta yang diresmikan oleh Jakob Oetama pada tanggal 26 September 1982 kini genap berusia 36 tahun. Suatu usia dan perjalanan yang cukup panjang bagi sebuah lembaga seni dan budaya. Pasang surut gelombang telah dilalui oleh Bentara Budaya dan kini terbukti melalui berbagai keterbatasan dan kesederhanaan Bentara Budaya tetap konsisten dan punya daya tahan untuk terus eksis sebagai lembaga seni budaya.