Pameran Seni Rupa Kelompok Bumbon

PENGILON

21 Apr 2018 ~ 29 Apr 2018 Bentara Budaya Yogyakarta | 19.30 WIB

Peserta pameran: Theresia Agustina Sitompul, Agustina "tina" Tri Wahyuningsih, Wahyu 'Adin' Wiedyardini, Dona Prawita Arissuta, G. Prima Puspita Sari, Nadiyah Tunnikmah, Caroline Rika Winata, Trien "iien" Afriza, Ayu Arista Murti, Utin Rini Anggraini, Roeayyah Diana P., Sari Handayani 

Pembukaan Pameran: Sabtu,  21 April 2018 | pukul 19.30 WIB
Pameran berlangsung: 22 – 29 April 2018 | pukul 09.00 – 21.00 WIB

Projek Bumbon yang ke #4 ini, kami mencoba mencari, memaknai perjalanan hidup (entah sebagai ibu, istri,dan pekerja) dengan merefleksikannya melalui cermin: benda yang sederhana secara bentuk dan fungsinya.
Cermin selalu melekat dengan keseharian perempuan. Setiap hari, entah berapa kali kita menatap cermin karena tidak semua bagian tubuh kita dapat terlihat dengan mata kita. Setiap orang memerlukan cermin untuk melihatnya secara utuh. Cermin menampakkan diri kita apa adanya. Saat kita tersenyum, menangis, atau tertawa cermin akan memantulkan dengan jujur, tampak dengan jelas apa pun yang ada di diri kita, begitu tampak transparan. Semua memori di masa lalu seakan tiba-tiba muncul di depan kita, saat kita kecil, remaja, dewasa dan  menjadi seorang ibu. Seolah-olah refleksi diri itu hadir. 

Bercermin tidak melulu berhadapan dengan benda cermin, lewat orang-orang di sekitar, kita bisa mengetahui bagaimana diri kita, mereka menilai, entah positif atau negatif dan kita harus menerimanya.  

Aktivitas bercermin dekat dengan proses pendefinisian diri atau menyusun diri. Gambar diri atau sesuatu yang terpantul di dalam cermin memberikan makna atau citra dari diri seseorang. Diri dalam cermin tidak saja identifikasi fisikal tapi ‘gambar’ atau imaginasi dalam arti kemampuan dari orang bercermin menghadirkan arti dari gambar dan makna. Imaginasi bukan hayalan dalam arti sehari-hari: sesuatu yang yang ngelantur, tetapi imaginasi adalah masuknya gambar dan citra yang jelas dalam daya (kekuatan) imaginasi manusia yang memiliki kekuatan seperti kekuatan berfikir. Dan faktanya, tidak ada seorang pun yang lepas dari imaginasi.

Fase cermin seringkali disebut fase imaginer,tetapi biasanya didahului oleh tahap ‘keakuan’ atau narsisme dalam proses identifikasi diri manusia, dan ini fase awal. Fase ini akan terus berlanjut sampai pada tahapan kemampuan menangkap, menyerap makna dan citra sehingga seseorang mulai menemukan tahapan dari kehidupannya yang semakin kompleks. Ketika seseorang dikepung oleh penilaian orang di sekitarnya terhadap dirinya sehingga cerminan dari orang lain ini tak terhindarkan membentuk persepsinya tentang dirinya, ini tahap yang kompleks sampai seterusnya. (Bumbon)

agenda acara bulan ini
  • Jazz Mben Senen

    Seperti disebutkan dalam akun Jazz Mben Senen yang menyebutkan bahwa “Jazz Mben Senen“ adalah suatu kegiatan yang berfungsi sebagai sarana apresiasi para pecinta kesenian, untuk berkesenian, bercanda, dan berkomunikasi ala jazz,

  • Pameran Fotografi Djaduk Ferianto

    “Meretas bunyi“ artinya membedah bunyi yang muncul, mencari asal mula suara yang tercipta, mendedah bagaimana hal-hal yang sulit dijelaskan bisa menjadi musik. Meretas bunyi juga bisa berarti sebuah upaya untuk menjelaskan bagaimana sesuatu yang semula tidak berwujud menjadi bunyi yang sederhana, serta mudah didengarkan. Djaduk Ferianto sedang berupaya melakukan itu semua dalam pameran ini. Ia mengajak siapapun yang hadir untuk mengalami proses retasan itu. Proses yang pada akhirnya tidak hanya tentang bunyi, tetapi tentang hidup itu sendiri.

  • Andong Buku #3

    Masyarakat berkualitas dan cerdas menjadi impian semua bangsa di dunia. Pendidikan adalah pintu utama menuju peningkatan kualitas masyarakat. Buku merupakan wahana dalam menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan dan buku seperti sisi mata uang logam, yang tidak bisa dipisahkan. Karena buku merupakan sumber dari sumber ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari siapa saja.