Pameran Seni Rupa Karya Zaenal Arifin

LAKU

Kamis, 01 Maret 2018 19.30 WIB | Bentara Budaya Jakarta


Diresmikan oleh: Tommy F. Awuy (Pemerhati Seni)
Pameran Berlangsung : 2 – 10 Maret 2018 pukul 10.00 – 18.00 WIB

Arifin Zaenal, seorang pelukis kelahiran Bandung tahun 1955, yang besar di Sumatera Utara, kali ini berpameran tunggal dengan sepilihan karya yang mengusung tema tentang “Tembok“ yang dapat diartikan sebagai benda nyata hasil budaya manusia, dan sekaligus sebagai ungkapan metaforik mengenai kekuasaan masif yang memecah-mecah bangsa dan masyarakat, 

Pameran yang diberi tajuk “LAKU“ ini menghadirkan 30 lukisan dengan visual tembok bata tanpa plester, baik sebagai sebagai latar-belakang atau sebagai komponen utama yang diekspos. Laku dalam bahasa Melayu berarti terjual, alias dibeli orang. 'Laku' dalam bahasa Jawa adalah jalan peziarahan dalam mana seseorang menjalani suatu jalan hidup untuk mengalami pencerahan dan pembebasan bathiniah. 

Sejak tahun 2013, Zaenal Arifin mengulik tembok sebagai tema karya-karyanya. Seperti Pink Floyd dalam lagunya yang berjudul Another Brick on the Wall, tembok bagi Arifin adalah metafor. Tanpa disadari, kata Arifin, perilaku kita telah membangun tembok itu sendiri. “Perilaku manusia membangun perbedaan menjadi sekat-sekat. Ada tembok di antara kita,“ kata Arifin. 
Padahal, kata Arifin, di negeri dengan berbagai keragaman seperti Indonesia, sikap saling menyapa dan saling menghormati sudah terbudayakan, dan menjadi perilaku. “Budaya kita itu Pancasila. Itu yang mendasari kita bertindak, berperilaku. Itu yang sekarang terabaikan, demi kepentingan kelompok. Perilaku seperti itu harus kita ubah, kita tinggalkan,“ kata Arifin.

Dalam pandangan Arifin, sekarang kita dihadapkan pada pilihan-pilhan. Apakah kita akan terus membangun tembok, memperbesar tembok, atau menghancurkan sekat-sekat itu. Pilihan kita, kata Arifin, tergantung pada perilaku kita.

Arifin juga melihat tembok sebagai hasil peradaban. Tembok melahirkan budaya baru yang berupa  kota. Kota  menjadi  pusat ekonomi. Di sana, “tembok-tembok“ dibangun untuk berbagai kepentingan. Kehidupan kota pun menjadi kehidupan sumpek, dan macet. “Pengaruhnya kembali kepada perilaku manusia. Orang-orang menjadi agresif,“ tutur Arifin.

Namun, Arifin juga melihat tembok bukan sebagai sosok angkuh dan angker. Tembok juga ia pandang sebagai harapan dan kekuatan. Bukankah tembok tersusun dari kumpulan batu, kata Arifin. Batu-batu itu saling rekat, dan lekat satu sama lain. Rekatan yang kuat dari batu-batu itu akan menjadikan tembok sebagai benteng kukuh nan teguh. “Mari kita rekatkan menjadi satu kesatuan, kekuatan bersama. Bukan yang memisahkan,“ kata Arifin.
Zaenal Arifin lahir di Bandung, 21 Juni 1955 dan menamatkan studinya di ISI Yogyakarta pada tahun 1976. Beberapa pameran terkini yang digelarnya antara lain “Laku“ di Tahunmas Artroom, Yogyakarta (2017), “Konflik“ di Galeri Biasa, Yogyakarta (2011), “Fabolous Fable“ di Semarang Gallery (2008), “Power Syndrome“ di Taman Budaya Yogyakarta (2006), serta beberapa kali pernah berpameran di Bentara Budaya Jakarta maupun Bentara Budaya Yogyakarta

agenda acara bulan ini
  • Sajak Selasa

    Sajak Selasa merupakan program apresiasi puisi dan kolaborasinya ke dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan lainnya yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta bersama Komunitas Bentara Muda. Selain menampilkan pertunjukan lintas bidang antara puisi, musik, rupa, fotografi, multimedia, maupun paduannya dengan seni-seni tradisi seperti tari dan karawitan, acara ini juga terbuka bagi siapa saja untuk membacakan puisi karyanya sendiri.

  • Workshop bersama Arswendo Atmowiloto

    Sastrawan Arswendo Atmowiloto akan membagikan pengalaman menulisnya dalam sebuah loka karya yang bertajuk “Mengarang itu Gampang.“ Apa yang disampaikannya ini boleh dikata merupakan refleksi dari buku bertajuk serupa yang pernah ditulisnya 45 tahun lalu. Khusus dalam acara kali ini, paparannya mengenai dunia kepenulisan akan dipadukan dengan pementasan monolog dari para mahasiswa LSPR (London School of Public Relation). Akan tampil delapan aktor yang masing-masing membawakan karya naskahnya sendiri.