Pameran Seni Rupa

JAPUIK TABAO JILID 2: “SABIDUAK SARANGKUAH DAYUANG“

Sabtu, 25 Agustus 2018 19.00 WITA

Pembukaan: Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 19.00 WITA

Pameran: 26 – 31 Agustus 2018, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Bukan kali ini saja Bentara Budaya Bali menyelenggarakan pameran perupa dari Tanah Minang. Pada tahun 2013, tepatnya tanggal 26 Mei hingga 4 Juni, telah hadir karya terpilih Kamal Guci (59) yang membentangkan pemandangan alam Minangkabau nan molek dalam kanvas, namun  jauh dari nada nostalgik romantik ala pelukis naturalistik. 

Pada pameran seni rupa di Bentara Budaya Bali kali ini dihadirkan karya-karya 18 perupa asal Sumatera Barat. Merujuk tajuk Japuik Tabao Jilid 2 “Sabiduak Sarangkuah Dayuang“,  ini merupakan sebentuk ikhtiar untuk mempresentasikan upaya penemuan diri di tengah penegasan identitas budaya muasal mereka; suatu pergumulan kreatif yang kiranya tecermin pada ragam stilistik, estetik serta artistik pilihan masing-masing. Karya-karya yang dipamerkan merefleksikan pergulatan personal dan keguyuban komunal yang membayangi pencarian identitas kreativitas mereka. 

Luapan goresan di kanvas mereka adalah sebentuk kesaksian perihal proses adaptasi dan resistensi masyarakat Minangkabau terhadap problematik kebudayaannya; antara bersiteguh dengan nilai-nilai otentik akar kultur setempat, atau terbawa pesona derasnya perubahan yang bersifat global. Atau, merengkuh keduanya dengan mengedepankan kekayaan ikonik setempat seraya meraih hal-hal yang dirasa bersifat universal. 

Dalam pengantar pameran, Ristiyanto Cahyo Wibowo, mengungkapkan bahwa pada aspek visualitas kekaryaan para perupa ini mengedepankan atas daya rasa. Merasakan sesuatu, menampilkan kemampuan dalam menyatakan perasaan secara spontan, secara fantasi; yaitu serangkaian kejadian atau gambaran perilaku yang dikhayalkan agar siap untuk kejadian – kejadian yang akan datang yang diantisipasi. Juga secara impuls, suatu keinginan pada desakan naluri. Intisari dari masing – masing karya sepenuhnya dalam ketahuan mereka yang membuat. Karena bahan yang dilekatkan pada media memuat limpahan maksud yang tidak bisa disamakan dengan kata. Atau, bahkan tidak dimaksudkan apapun, sebatas energi kreatif yang ditujukan ke luar diri sendiri. Seperti mengucap secara visual, bukan memvisualkan benda.

Adapun para seniman yang berpameran antara lain: Ade Jaslil Putra, Andrea Venandro, Diana Puspita Putri, Dosra Putra, Gempa Budaya Putra, Genta Putra Mulyawan, Harlen Kurniawan,  Ibnu Mubarak, Imam Teguh, Jack Budi Kurniawan, Jesca Delaren, Khairul Mahmud, Muslimaniati, Puspitasari Budi Utami, Prisman Nazara, Ramadhan Fitra, Rangga Anugerah Putra, Ridhotullah,  Riska Mardatillah, Rusdi Hendra, Seppa Darsono, Stefan Buana, Syafrizal, Teguh Saryanto, Togi Mikkel Saragitua, William Robert, Yasrul Sami, dan  Zulfa Hendra. 

Mereka berangkat dari berbagai kota kelahiran di Minangkabau,  di antaranya tengah mendalami seni rupa di ISI Yogyakarta dan ISI Padangpanjang. Mereka sempat berpameran di Taman Budaya Yogyakarta pada tahun 2016, mengusung tajuk yang sama. Menarik menyimak karya-karya terkini mereka ini seraya membandingkannya dengan buah cipta perupa-perupa seangkatan dari Bali ataupun daerah lain; terlebih mengingat fenomena yang dihadapi sesungguhnya tidak jauh berbeda, yakni bagaimana bersikap kreatif terhadap derasnya perubahan akibat kemudahan informasi era digitalisasi di segala lini kehidupan.

agenda acara bulan ini
  • OBITUARI NH. DINI

    Dialog Sastra di Bentara Budaya Bali kali ini didedikasikan untuk menghormati pencapaian karya dan totalitas penulis Nh. Dini yang belum lama ini , tepatnya tanggal 4 Desember 2018 berpulang dalam usia 82 tahun. Selain membincangkan tema novel-novelnya yang menyoal pergulatan batin perempuan, berikut latar pengalaman lintas bangsa dan kulturalnya, akan ditayangkan pula film dokumenter proses kreatif pengarang novel La Barka, kelahiran Semarang ini.