Pameran Seni Rupa

Kelompok Omnivorart

Jumat, 02 Agustus 2019 Bentara Budaya Yogyakarta | pukul 19.00 WIB


Peserta Pameran: Kiki Juliansah, Ipan Lasuang,  I Putu Adi Suanjaya, I Wayan Sudarsana, M. Puger, Valdo Manullang, dan Rangga Jalu Pamungkas 
Pembukaan Pameran:  Jumat, 2 Agustus 2019 | Pukul 19.00 WIB
Pameran  berlangsung 2 – 10 Agustus 2019 | 09.00 – 21.00 WIB

Omnivorart merupakan sebuah kolektif seniman yang terlahir di era 90-an yang dikenal dengan sebutan gen Y atau generasi milenial. Sebuah generasi dimana kecepatan bukanlah sebuah isu, berkembang pesatnya kemajuan tehnologi digital dan pemanasan global adalah nyata. Apa yang dibayangkan oleh seniman muda generasi milenial dalam pergerakan seni? Kolektif ini hadir sebagai sebuah sampel bagaimana generasi muda melakukan perubahan melalui kesenian khususnya seni rupa. Sebuah kolektif dimana perubahan dan pergerakan jaman adalah sebuah kelenturan dan batasan bisa menjadi sebuah pilihan untuk dilebur. Kolektif ini juga memiliki keragaman asal dan latar belakang. Kolektif seni rupa pada umumnya masih didominasi latar belakang kesamaan etnis atau kesamaan gender, namun bagi Omnivorart keragaman merupakan bagian dari usaha asah kreativitas dan penemuan imajinasi baru. Apa yang melatarbelakangi hasrat dari kolektif ini untuk terus menggerakan seni rupa bagi anak muda kini. Lacan mengatakan bahwa apa yang menggerakkan kehidupan manusia adalah hasrat. Manusia sejak dilahirkan hingga melepaskan diri dari kesatuan-kesatuan eksistensial dalam dunia real mengalami kekurangan-kekurangan, manusia dianggap selamanya berlubang. Rasa kekurangan selamanya mengikuti�seperti hantu yang menggentayangi�kehidupan manusia. Padahal kesatuan eksistensial dalam dunia real tidak akan pernah didapat. Perasaan yang mendekam di alam ketidaksadaran ini melahirkan hasrat yang tidak pernah habis terpuaskan. Lalu bagaimana melihat hasrat ini dalam seni rupa bagi generasi saat ini? Omnivorart sebagai kolektif memilih seni kontemporer sebagai jalur, maka tindakan menghasilkan karya seni rupa merupakan manifestasi dari kelompok yang menamakan diri mereka sebagai kelompok seni yang pemakan segala seni, segala tentang seni. Generasi muda saat ini menciptakan suatu keadaan dimana bekerja dan bermain adalah sebuah kesatuan. Kegembiraan dan juga produktifitas juga merupakan visi dalam kolektif ini. Bermain, berkarya, bekerja menciptakan seni kini. Bila karya rupa juga sebagai bahasa bagi senimannya maka ada penanda lain yang berbeda dari subjek perupa. Ketidaksadaran terstruktur yang kerap muncul dalam karya dari seniman kolektif ini memainkan peranannya dalam menciptakan identitas kolektif. Oleh karena kondisi ketidaksadaran tidak mungkin diakses sepenuhnya, yang terlihat hanya sebuah bentuk-bentuk simbol dalam karya setiap anggota di kolektif ini. Seniman di dalam kolektif ini memiliki simbol yang khas dalam usaha mereka menciptakan karya seni rupa. Keterbukaan mereka dengan laju seni rupa global menjadi sebuah kompas bagi kolektif ini untuk terus berhasrat atas kekinian kolektif ini mereka sandang dan ditampakan. Hasrat muda bagi generasi rupa milenial: work + play = Art Now! (Citra Pratiwi – kurator)

agenda acara bulan ini
  • Jazz Mben Senen

    Jazz Mben Senen (JMS) yang diselenggarakan secara rutin setiap minggu pada hari Senin malam di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) diniatkan untuk lebih memasyarakatkan jazz sebagai salah satu jenis musik yang cukup populer di Indonesia. Sebagai sebuah pertunjukan musik jazz yang sudah berlangsung selama sepuluh tahun, JMS telah dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat Yogyakarta.

  • GRENG

    Pada 100 Tahun Widayat: Ada dua warisan estetis yang ditinggalkan oleh pelukis Widayat (1919-2002) untuk penghayat seni rupa Indonesia--utamanya Yogyakarta, yaitu lukisan “Dekora Magis“ dan “Greng“.
    Yang pertama adalah karya seni rupa, benda budaya, dan obyek artistik yang memampukan Widayat terpandang sebagai salah satu pelukis Indonesia terkemuka pasca generasi Affandi, Hendra Gunawan, dan S. Sudjojono.