Pameran Seni Rupa

TONG EDAN

Kamis, 17 Mei 2018 Bentara Budaya Jakarta | 19.30 WIB

Pameran Berlangsung : 18 – 26 Mei 2018 pukul 10.00 – 18.00 WIB

Pameran ini mencoba melakukan pemaknaan retrospektif sekaligus respon kreatif atas fenomena pasar malam yang sempat mengemuka di Jakarta sejak 1889. Kala itu di Jakarta Pusat, lebih tepatnya di Weltevreden (sekarang kawasan Gambir/lapangan banteng), menjadi lokasi penyelenggaraan pasar malam pertama yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda.demi memperingati penobatan Ratu Wilhemina. Puncak kejayaan pasar malam yang menyebar di seluruh Indonesia terasa di tahun 1963 dan kembali semarak pada tahun 2000-an dengan berbagai wahana menarik, salah satunya adalah Tong Edan atau Tong Setan, sebutan lainnya yakni roda-roda gila yang mana merupakan salah satu wahana yang sempat fenomenal di zaman dahulu.

Tong Edan (nama populer wahana hiburan di Jawa) atau memiliki nama lain Tong Setan adalah sebuah wahana hiburan yang mempertunjukkan pengendara sepeda motor melakukan atraksi yang berbahaya, para pemain Tong Edan berputar di lintasan (dinding) mirip tong atau silinder yang tinggi melingkar dengan sudut kemiringan lebih dari 90° atau hampir tegak lurus. Pemain Tong Edan tetap dapat berkendara dengan berada di lintasan atau di dinding tong yang berbentuk silinder karena gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh gaya sentripetal. Pemain dan motornya akan terus menempel di lintasan karena ada gaya sentrifugal yang menahannya dan motor harus tetap berjalan dengan kecepatan tertentu agar tidak terjatuh. 

Selain bergantung pada lintasan yang melingkar, besarnya gaya sentrifugal juga bergantung pada kecepatan gerak bendanya. Semakin berat benda, maka semakin tinggi pula kecepatannya. Semakin cepat kendaraan dipacu, maka pemain Tong Edan semakin menempel di lintasan dan susah untuk terjatuh oleh gravitasi bumi. Permainan Tong Edan selain memacu adrenalin dalam diri pemainnya, juga memicu adrenalin dari tiap penonton yang menyaksikan. Implikasi, ketegangan, ketakutan, kengerian, kegembiraan, naik turun, berputar, kontinu, kestabilan, dan pola yang lain, semuanya didapat dari permainanTong Edan. Aspek pola, sensasi dan implikasi tersebut tidak berbeda jauh dengan kehidupan sosial yang kita hadapi.

Pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh TYAGA Art Management ini mencoba mengubah “Tong Edan“ menjadi simbol dan metafora ke dalam karya seni sesuai dengan ekspresi dan interprestasi setiap pelaku seni. Menilik baik dari sejarah pasar malam dengan wahana “Tong Edan“nya, perkembangan seni rupa modern-kontemporer, kondisi sosial Indonesia ataupun aktifitas seniman dalam mendukung proses kreatifnya.



agenda acara bulan ini
  • TANDA MATA III & IV

    Pameran koleksi Bentara Budaya di Galeri SISI kali ini menghadirkan untuk ketiga kalinya karya-karya perupa yang pernah berpameran di Bentara Budaya Yogyakarta, bertajuk TANDA MATA.

    Galeri SISI Bentara Budaya Jakarta dengan senang hati berbagi pandangan mata dengan memamerkan sebagian kecil karya-karya yang pernah dipamerkan dalam pameran TANDA MATA di Bentara Budaya Yogyakarta.

    Dalam periode kedua, dihadirkan TANDA MATA IV, menampilkan karya Slamet Riyanto, Pracoyo, I Nengah Wirakesuma, Tisna, Arif Eko Saputro, Gunawan, Y. Eka Suprihadi, Acep Zamzam Noor, Wiwik Sri Wulandari, Yulis Armita, Daru Sukamto, Agus Heru Prasetyo, Bambang Kusdirgonugroho, Agung Hanafi, Dadang Imawan, Wahyu Dwi J, I Made Arya Dwita, Zamrud SN, Ay Tjoe Christin, Kurniasari, Agus Yulianto, Meilina Mirasari, dan Putu Winasa.

  • SULAWESI PA’RASANGANTA

    Bentara Budaya bekerjasama dengan pelukis dan perupa dari Sulawesi Selatan menggelar pameran karya seni lukis yang bertajuk Sulawesi Pa’rasanganta pada tanggal 10 Januari 2019 hingga 19 Januari 2019. Pameran ini diikuti oleh 24 pelukis dan akan memamerkan 28 karya lukis dan 2 karya instalasi.

    Mengambil tajuk “Sulawesi Pa’rasanganta“ yang bermakna kampung halaman, pameran ini akan menampilkan karya lukisan dalam berbagai aliran gaya lukis yang berbeda tetapi tetap berakar pada kearifan lokal Sulawesi Selatan.

  • SESILIRAN

    Musik Kamisan di tahun 2019, program berkala dari Bentara Budaya Jakarta yang mengapresiasi berbagai langgam musikal, diawali dengan pementasan dari gitaris muda Johanes Kristianto.

    Kali ini dia akan menampilkan pertunjukan dengan tajuk “Sesiliran“ yang mengacu dari kata “Silir“ dan bermakna sejuk. Seluruh lagu merupakan buah aransemennya dengan instrumen gitar klasik dan dirangkum dalam album yang berjudul sama, yakni “Sesiliran“.

  • SURPRISE #12 KRIYA BERKELANJUTAN

    Bentara Budaya Jakarta bekerjasama dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Kriya Indonesia (FKMKI) dan Jurusan Kriya Seni Institut Kesenian Jakarta menyelenggarakan pameran Surprise #12.

    Surprise #12 merupakan seri keduabelas dari agenda tahunan FKMKI yang telah diselenggarakan di berbagai lokasi di Indonesia. Masing-masing pameran mengangkat kreasi kriya dari para perupa muda yang masih bergiat di insitusi kesenian dan selalu dihadirkan dengan konsep dan tematik yang berbeda-beda. Adapun kali ini di Bentara Budaya Jakarta pameran mengambil tajuk “Kriya Berkelanjutan.“