Pameran Pemenang Ketiga Trienal Seni Grafis Indonesia V Karya Muhlis Lugis

KEMANA HARGA DIRI

6 Feb 2018 ~ 13 Feb 2018 Bentara Budaya Jakarta | 19.30 WIB

Pembukaan : Selasa, 6 Februari 2018 pukul 19.30 WIB
Pameran Berlangsung : 7 – 13 Februari 2018 pukul 10.00 – 18.00 WIB

Workshop Seni Grafis 
Rabu, 7 Februari 2018 pukul 14.00 WIB

M. Muhlis Lugis (29) adalah pemenang ketiga Kompetisi Internasional Trienale Seni Grafis Indonesia V 2015 yang digelar oleh Bentara Budaya. Pemenang pertama adalah Jayanta Naskar dari India yang telah dipamerkan di Bentara Budaya pada November 2016. Adapun pemenang kedua adalah Puritip Suriyapatarapun dari Thailand yang karyanya dipamerkan di Bentara Budaya pada September 2017. Dan pada 6-13 Februari 2018 ini adalah giliran Muhlis sebagai pemenang ketiga. Bentara Budaya berkomitmen untuk mendorong perkembangan kehidupan seni grafis dengan melanjutkan trienal berikutnya yang direncanakan akan digelar pada 2018 ini.

Dia mewakili generasi penggrafis terkini Indonesia. Dengan karya cukilan kayunya yang kaya akan detail, kelam, dan peka dalam membangun drama tentang hiruk-pikuk manusia di era global, Muhlis seakan melawan arus utama seni rupa kontemporer yang begitu ringan memadukan berbagai medium. Alih-alih, ia setia dengan sebuah teknik kuno yang kini mulai langka sejak Suromo, Mochtar Apin dan Baharudin Marasutan pada akhir 1940-an mempopulerkannya dan Rivai Apin menyebut teknik ini sebagai debutan baru di medan seni rupa Indonesia saat itu. 
Muhlis Lugis dilahirkan di Ulo, Sulawesi Selatan dengan latar belakang budaya Bugis, yang dikenal sangat menjunjung tinggi norma adat untuk menjaga harga diri dan martabat hidup. Budaya ini dikenal dengan sebutan Siri yang berarti budaya malu atau harga diri. Falsafah ini yang mendorong orang Bugis untuk bekerja keras, menjaga martabat dan menjaga norma. Hal ini yang kemudian menjadi landasan berkarya Muhlis. Ia lewat karya-karyanya yang dominan hitam putih, seakan dengan sangat kuat menggubah cermin bagi kita semua untuk menyadari betapa maraknya degradasi moral terjadi dalam kehidupan kita.  

Bisa jadi budaya Siri ini juga yang membuat Muhlis berkarya total dalam mengungkap kritik sosial dalam karya-karyanya. Ia paham betul bagaimana mengarahkan pisau cukil untuk membuat lekuk kontur, kualitas barik, nuansa gelap terang pada ragam obyek yang disuguhkannya. Di setiap karyanya ia mengolah gagasan dengan cerdas baik konsep maupun rupa, dengan kecermatan yang luar biasa. Pada karya seri manusia berkepala tangan, kita diajak untuk mengarungi alam fantasi yang meski absurd, karena keterampilannya mengolah cukil, malah semakin memberi ruang apresiasi bagi pengamat untuk masuk lebih jauh kedalam gagasan visual Muhlis. Pada karya seri citraan wajah manusia, ia pun mampu mengolah emosi dan garis karakter sesuai dengan konsep masing-masing karya yang diusungnya. Karya-karya Muhlis Lugis tidak pelak merupakan kombinasi antara konsep, keterampilan dan kerja keras.

Beberapa pameran terkini yang pernah diikuti Muhlis antara lain di tahun 2017: Pameran Seni Rupa "dari masa ke rasa #2", Kelompok Segitiga, Bali; Makassar Biennale #2 "Maritim" Makassar; Pameran Seni Rupa F8 "kembali pada asal" Makassar; Pameran Besar Seni Rupa (PBSR ) #5 Kemendikbud, Taman Budaya Ambon; Pekan seni Grafis Yogyakarta SCOPE Art Show, Swiss; Pameran seni cetak grafis “Friends of TPS“, New Miracle Print Studio, Yogyakarta, dan sebagainya. Dia juga pernah melakukan residensi “AIR Yogyakarta“ Say Art Space, Mullae, Seoul, Korea Selatan (2014), dan Mini residensi, Teras Print Studio, Yogyakarta, Indonesia (2015), di samping juga meraih penghargaan Finalis Pameran Besar Seni Rupa (PBSR ) #5 Kemendikbud, Taman Budaya Ambon (2017), Pemenang ke 3 Trienal Seni Grafis V (2015), Pemenang Program Parallel Event  BIENNALE JOGJA XII Equator #2 (2013), dan lain-lain.

agenda acara bulan ini
  • Beranda Sastra #13

    Dua pengarang muda, Ziggy dan Nur Janti, akan membahas karya serta kiprah dua pengarang perempuan dari angkatan terdahulu, yakni Tan Lam Nio (alias Dahlia) serta Maria Ulfa. Program ini bekerjasama dengan Komunitas Ruang Perempuan dan Tulisan, yang tahun ini menyelenggarakan program riset atas sosok, karangan serta peran 10 penulis perempuan yang namanya telah meredup atau bahkan tidak dikenal lagi oleh publik era kini.