Pameran Pemenang III Kompetisi Internasional Trienal Seni Grafis Indonesia V MUHLIS LUGIS

KEMANA HARGA DIRI

Sabtu, 14 Juli 2018 Bentara Budaya Bali | 18.30 WITA

Pameran Pemenang III Kompetisi Internasional Trienal Seni Grafis Indonesia V 
MUHLIS LUGIS “KEMANA HARGA DIRI“ 
Pembukaan : Sabtu, 14 Juli 2018, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung: 15 – 23 Juli 2018, pukul 18.30 WITA
Workshop & Dialog Proses Kreatif : Minggu, 15 Juli 2018, pukul 15.00 WITA

M. Muhlis Lugis (29) adalah pemenang ketiga Kompetisi Internasional Trienale Seni Grafis Indonesia V 2015 yang digelar oleh Bentara Budaya. Pemenang pertama adalah Jayanta Naskar dari India, pemenang kedua adalah Puritip Suriyapatarapun dari Thailand dan pemenang ketiga Muhlis Lugis dari Indonesia. Bentara Budaya berkomitmen untuk mendorong perkembangan kehidupan seni grafis dengan melanjutkan trienal berikutnya yang direncanakan akan digelar pada 2018 ini.

Karya-karya Muhlis Lugis yang telah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta Februari 2018, di Bentara Budaya Yogyakarta, Maret 2018, serta di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo pada April 2018 ini. 

Dia mewakili generasi penggrafis terkini Indonesia. Dengan karya cukilan kayunya yang kaya akan detail, kelam, dan peka dalam membangun drama tentang hiruk-pikuk manusia di era global, Muhlis seakan melawan arus utama seni rupa kontemporer yang begitu ringan memadukan berbagai medium. Alih-alih, ia setia dengan sebuah teknik kuno yang kini mulai langka sejak Suromo, Mochtar Apin dan Baharudin Marasutan pada akhir 1940-an mempopulerkannya dan Rivai Apin menyebut teknik ini sebagai debutan baru di medan seni rupa Indonesia saat itu. 

Muhlis Lugis dilahirkan di Ulo, Sulawesi Selatan dengan latar belakang budaya Bugis, yang dikenal sangat menjunjung tinggi norma adat untuk menjaga harga diri dan martabat hidup. Budaya ini dikenal dengan sebutan Siri yang berarti budaya malu atau harga diri. Falsafah ini yang mendorong orang Bugis untuk bekerja keras, menjaga martabat dan menjaga norma. Hal ini yang kemudian menjadi landasan berkarya Muhlis. Ia lewat karya-karyanya yang dominan hitam putih, seakan dengan sangat kuat menggubah cermin bagi kita semua untuk menyadari betapa maraknya degradasi moral terjadi dalam kehidupan kita.  

Bisa jadi budaya Siri ini juga yang membuat Muhlis berkarya total dalam mengungkap kritik sosial dalam karya-karyanya. Ia paham betul bagaimana mengarahkan pisau cukil untuk membuat lekuk kontur, kualitas barik, nuansa gelap terang pada ragam obyek yang disuguhkannya. Di setiap karyanya ia mengolah gagasan dengan cerdas baik konsep maupun rupa, dengan kecermatan yang luar biasa. Pada karya seri manusia berkepala tangan, kita diajak untuk mengarungi alam fantasi yang meski absurd, karena keterampilannya mengolah cukil, malah semakin memberi ruang apresiasi bagi pengamat untuk masuk lebih jauh kedalam gagasan visual Muhlis. Pada karya seri citraan wajah manusia, ia pun mampu mengolah emosi dan garis karakter sesuai dengan konsep masing-masing karya yang diusungnya. Karya-karya Muhlis Lugis tidak pelak merupakan kombinasi antara konsep, keterampilan dan kerja keras.

Beberapa pameran terkini yang pernah diikuti Muhlis antara lain di tahun 2017: Pameran Seni Rupa "dari masa ke rasa #2", Kelompok Segitiga, Bali; Makassar Biennale #2 "Maritim" Makassar; Pameran Seni Rupa F8 "kembali pada asal" Makassar; Pameran Besar Seni Rupa (PBSR ) #5 Kemendikbud, Taman Budaya Ambon; Pekan seni Grafis Yogyakarta SCOPE Art Show, Swiss; Pameran seni cetak grafis “Friends of TPS“, New Miracle Print Studio, Yogyakarta, dan sebagainya. Dia juga pernah melakukan residensi “AIR Yogyakarta“ Say Art Space, Mullae, Seoul, Korea Selatan (2014), dan Mini residensi, Teras Print Studio, Yogyakarta, Indonesia (2015), di samping juga meraih penghargaan Finalis Pameran Besar Seni Rupa (PBSR ) #5 Kemendikbud, Taman Budaya Ambon (2017), Pemenang ke 3 Trienal Seni Grafis V (2015), Pemenang Program Parallel Event  BIENNALE JOGJA XII Equator #2 (2013), dan lain-lain.



Workshop & Pertunjukan
LONTAR DALAM BUDAYA BALI
Minggu, 22 Juli 2018, pukul 15.00 WITA

Bentara Budaya Bali kembali bekerjasama dengan Yayasan Sari Kahyangan Indonesia, SMP Pancasila Canggu, dan Pasraman Patih Ulung, kembali menyelenggarakan acara Workshop dan Pertunjukan “Lontar dalam Budaya Bali“. Sebagai narasumber antara lain Prof. Dr. I Wayan Sukayasa, M.Si., (akademisi, pengkaji Lontar), I Wayan Sujana, S.Ag. (pemangku, penghayat budaya Bali), I Kadek Yoga Pratama Putra (penulis lontar) dan Dr. Ketut Sumadi, M.Par. (akademisi, pengamat seni budaya). Workshop menulis lontar ini merupakan rangkaian workshop dan pembahasan perihal lontar sebelumnya, sebagai upaya mengembangkan apresiasi terhadap aksara Bali. 

Leluhur orang Bali zaman dulu menuliskan ilmu pengetahuannya pada daun lontar (rontal). Jika
hendak menyelami local wisdom dan local genius Bali, pelajarilah Lontar-Lontar yang ada di Bali, karena isi lontar menyangkut pengetahuan tentang Sekala (dunia nyata) dan Niskala (dunia gaib). Lontar yang tersebar di berbagai desa, baik koleksi pribadi, perpustakaan, maupun lontar yang tersimpan di Pura, tempat suci umat Hindu berisi pengetahuan tentang kehidupan, karakter, dan kebudayaan orang Bali. Sampai sekarang Lontar di Bali diyakini sebagai “Pustaka Suci“, disebut pula “Candi Pustaka“ sebagai stana Sang Hyang Aji Saraswati, manifestasi Sang Hyang Widhi/Tuhan sebagai pencipta dan penguasa ilmu pengetahuan. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, apa makna symbol tersebut, perlu dikaji lebih mendalam seirama dengan perkembangan budaya masa kini.

Kini di tengah berkembangnya teknologi grafika dan media digital muncul fenomena, bahwa Lontar Bali kian terpinggirkan. Kalangan generasi muda banyak yang merasa asing dengan Lontar, bahkan tidak tahu apa itu Lontar, karena mereka tidak mendapatkan pelajaran mendasar tentang keberadaan warisan pusaka budaya yang “bernilai intangible“ tersebut. 

Workshop ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap Lontar, selaras upaya menumbuhkan pemahaman generasi muda betapa pentingnya eksistensi Lontar dalam kehidupan di Bali sebagai sumber local wisdom dan local genius yang menjadikan Bali dikenal sebagai “Pulau Dewata“. Dari acara ini dapat digali lebih jauh makna ilmu pengetahuan atau ajaran-ajaran dalam lontar di Bali yang sarat nilai luhur kehidupan. Selaras itu, sebagai kelanjutan dari agenda ini akan diprogramkan pula sebuah pameran serta upaya-upaya pendokumentasian Lontar-Lontar langka. 

Lokakarya ini dimaknai pula Pertunjukan bertajuk “Lontar-Lontar“, sebuah garapan seni kontemporer yang terinspirasi dari lika-liku perkembangan peradaban menulis Lontar para leluhur zaman dulu, sampai akhirnya kini berhadapan dengan budaya globalisasi yang digital, di tengah berkembangnya Bali sebagai daerah wisata. Sebagai produser dan penanggungjawab adalah Dr. Ketut Sumadi, M.Par., koreografer I Gede Antika, S.Sn, M.Pd dan I Made Sulendra, S.Sos.H, M.Pd. Penabuh: SMP Pancasila Canggu dan Pasraman Patih Ulung. Pemain: siswa SMP Pancasila Canggu, Pasraman Patih Ulung, dan Yayasan Sari Kahyangan Indonesia.

agenda acara bulan ini
  • Sinema Bentara #KhususMisbar

    Sinema Bentara bulan ini menghadirkan film-film pendek terpilih peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang mengedepankan cerita seputar panorama kekayaan kultural setempat, berikut adat-istiadat, kepercayaan dan kearifan lokal, yang sebagian dibayang-bayangi perang dan konflik, berikut situasi sosial ekonomi yang melatarinya.