Pameran Nasional IV

CINTA WARNA NUSANTARA

Jumat, 13 Juli 2018 Balai Soedjatmoko Solo | 19.30 WIB

Pameran Nasional IV karya lukis cat air Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (KOLCAI) 
Pembukaan Pameran : 
Jumat, 13 Juli 2018 | Pukul 19.30 WIB
Dibuka oleh FX Hadi Rudyatmo ( Wali Kota Surakarta )
Pameran Berlangsung :
14 – 20 Juli 2018 | Pukul 09.00 -21.00 WIB

Komunitas Lukis Cat Air Indonesia yang hadir pada tahun 2012 ini menyulutkan api semangat berkegiatan cat air bersambut semangat yang luar biasa di Indonesia. Karya cat air yang tadinya termarginalkan, kini sudah mulai terangkat dan akrab hadir di keseharian maupun tampil di atas pentas dunia seni rupa Indonesia. Demi menjaga semangat ini KOLCAI berkomitmen mewadahi seluruh pecinta seni cat air di seluruh Indonesia untuk selalu mengadakan kegiatan yang bisa mengalirkan energi positip.

Di Tahun ini Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (KOLCAI) menggelar pameran nasional ke  IV Cinta Warna Nusantara yang bertempat di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo,Surakarta. 
Pameran Nasional merupakan agenda rutin Komunitas Lukis Cat Air Indonesia yang sebelumnya sudah digelar tiga kali, pameran nasional perdana pada tahun 2013 diselenggarakan di Roemah Sarasvati, Bandung.  Dilanjutkan Pamnas ke dua, penyelenggaraan di Bali pada tahun 2014 bertempat di Bentara Budaya, Bali. Kemudian pada tahun 2016 digelar di Gallery Griya Santrian.

Pameran Nasional IV Komunitas Lukis Cat Air Indonesia kali ini akan menampilkan lebih dari 90 karya buah cipta dari 92 pelukis cat air dari seluruh  daerah di indonesia dan 2 pelukis cat air Asia yang mengangkat  tema “Cinta Warna Nusantara“ yang merupakan ikhtiar budaya yang dijiwai oleh spirit penghormatan atas perbedaan dan pemuliaan nilai-nilai keragaman. Tema ini diniatkan sebagai perayaan atas keragaman ekspresi seni rupa khususnya cat air yang merangkum berbagai sumber khasanah tradisi budaya Indonesia yang multikultural. Dalam konteks ke-Indonesiaan, multikulturalisme yang memiliki akar sejarah panjang sejalan dengan realitas plural, baik perspektif etnis, tradisi, bahasa, seni, kepercayaan, dan sederet pilar lainnya. Jalinan sejarah ini menghidupkan memori kultural dan turut membentuk identitas kebangsaan yang dirajut dari tali “Bhinneka Tunggal Ika“. Multikulturalisme adalah kesadaran “lintas“ mengatasi “situasi batas“ yang tercipta oleh kepentingan primodialisme. Dengan kesadaran ini kita akan menembus batas cakrawala menempatkan Indonesia sebagai bangsa besar di tengah kancah pergaulan global, di mana warna dari Nusantara adalah sebuah keniscayaan. Wujud pluralisme Warna Nusantara telah "mengejawantah" tertuang mengalir cair sebagai sajian setiap jiwa, menghantar pada tujuan damai dan bahagia.

agenda acara bulan ini
  • Orkes Keroncong Winada, Solo

    Orkes Keroncong Winada ini yang sudah berjalan 3 tahun, sedikit banyak sudah berbartisipasi dalam kegitan masyarakat, Beraneka macam bentuk kegitan yang telah dimasuki seperti acara keagamaan, Hajatan, Pemerintahan, Kampung dan Gelar Budaya yang bersifat Formal dan Non Formal.

  • Tulisan Itu “IBU“

    Pada 1928, kaum perempuan bersuara untuk segala pemajuan dan pemenuhan harapan-harapan. Di Jogjakarta, kaum perempuan berpidato dan bercakap mengurusi pelbagai halam mengenai kewajiban-hak perempuan berlatara Indonesia ingin mulia. Mereka memilih menulis teks pidato dengan bahasa Indonesia. Suara mereka di muka umum menandai ada kemauan mengabarkan ide dan perasaan minta tanggapan publik. Pada 1928, kita mengenang mereka gara-gara tulisan dan pidato.

  • LOVE ‘N’ PEACE

    Mengangkat tema Love n peace, Blues On Stage ingin menyampaikan pesan cinta damai kepada masyarakat. Tahun politik dan perkembangan sosmed sering memberi dampak negatif berupa penyebaran hoax,ujaran kebencian, penghinaan dsb.