Pameran Karya Pemenang Kompetisi Internasional Trienal Seni Grafis Indonesia V

KEMANA HARGA DIRI

12 Apr 2018 ~ 20 Apr 2018 Balai Soedjatmoko Solo | 19.30 WIB


Karya : Muhlis Lugis  (Pemenang ke-3 dari Indonesia) 
Pembukaan : Kamis, 12 April 2018 | Pukul 19.30 WIB
Pameran Karya 13 – 20 April 2018 | 09.00 WIB – 21.00 WIB
Dibuka Oleh : Dr. Edi Sunaryo 

M. Muhlis Lugis (29) adalah pemenang ketiga Kompetisi Internasional Trienale Seni Grafis Indonesia V 2015 yang digelar oleh Bentara Budaya. Pemenang pertama adalah Jayanta Naskar dari India, pemenang kedua adalah Puritip Suriyapatarapun dari Thailand dan pemenang ketiga Muhlis Lugis dari Indonesia. Bentara Budaya berkomitmen untuk mendorong perkembangan kehidupan seni grafis dengan melanjutkan trienal berikutnya yang direncanakan akan digelar pada 2018 ini.

Karya-karya Muhlis Lugis yang telah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta februari 2018 dan di Bentara Budaya Yogyakarta maret 2018 akan dipamerkan di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo pada 12-20 April 2018 ini. 

Dia mewakili generasi penggrafis terkini Indonesia. Dengan karya cukilan kayunya yang kaya akan detail, kelam, dan peka dalam membangun drama tentang hiruk-pikuk manusia di era global, Muhlis seakan melawan arus utama seni rupa kontemporer yang begitu ringan memadukan berbagai medium. Alih-alih, ia setia dengan sebuah teknik kuno yang kini mulai langka sejak Suromo, Mochtar Apin dan Baharudin Marasutan pada akhir 1940-an mempopulerkannya dan Rivai Apin menyebut teknik ini sebagai debutan baru di medan seni rupa Indonesia saat itu. 

Muhlis Lugis dilahirkan di Ulo, Sulawesi Selatan dengan latar belakang budaya Bugis, yang dikenal sangat menjunjung tinggi norma adat untuk menjaga harga diri dan martabat hidup. Budaya ini dikenal dengan sebutan Siri yang berarti budaya malu atau harga diri. Falsafah ini yang mendorong orang Bugis untuk bekerja keras, menjaga martabat dan menjaga norma. Hal ini yang kemudian menjadi landasan berkarya Muhlis. Ia lewat karya-karyanya yang dominan hitam putih, seakan dengan sangat kuat menggubah cermin bagi kita semua untuk menyadari betapa maraknya degradasi moral terjadi dalam kehidupan kita.  

Bisa jadi budaya Siri ini juga yang membuat Muhlis berkarya total dalam mengungkap kritik sosial dalam karya-karyanya. Ia paham betul bagaimana mengarahkan pisau cukil untuk membuat lekuk kontur, kualitas barik, nuansa gelap terang pada ragam obyek yang disuguhkannya. Di setiap karyanya ia mengolah gagasan dengan cerdas baik konsep maupun rupa, dengan kecermatan yang luar biasa. Pada karya seri manusia berkepala tangan, kita diajak untuk mengarungi alam fantasi yang meski absurd, karena keterampilannya mengolah cukil, malah semakin memberi ruang apresiasi bagi pengamat untuk masuk lebih jauh kedalam gagasan visual Muhlis. Pada karya seri citraan wajah manusia, ia pun mampu mengolah emosi dan garis karakter sesuai dengan konsep masing-masing karya yang diusungnya. Karya-karya Muhlis Lugis tidak pelak merupakan kombinasi antara konsep, keterampilan dan kerja keras.

Beberapa pameran terkini yang pernah diikuti Muhlis antara lain di tahun 2017: Pameran Seni Rupa "dari masa ke rasa #2", Kelompok Segitiga, Bali; Makassar Biennale #2 "Maritim" Makassar; Pameran Seni Rupa F8 "kembali pada asal" Makassar; Pameran Besar Seni Rupa (PBSR ) #5 Kemendikbud, Taman Budaya Ambon; Pekan seni Grafis Yogyakarta SCOPE Art Show, Swiss; Pameran seni cetak grafis “Friends of TPS“, New Miracle Print Studio, Yogyakarta, dan sebagainya. Dia juga pernah melakukan residensi “AIR Yogyakarta“ Say Art Space, Mullae, Seoul, Korea Selatan (2014), dan Mini residensi, Teras Print Studio, Yogyakarta, Indonesia (2015), di samping juga meraih penghargaan Finalis Pameran Besar Seni Rupa (PBSR ) #5 Kemendikbud, Taman Budaya Ambon (2017), Pemenang ke 3 Trienal Seni Grafis V (2015), Pemenang Program Parallel Event  BIENNALE JOGJA XII Equator #2 (2013), dan lain-lain.

agenda acara bulan ini
  • Keroncong Bale

    R U M P U T , satu-satunya grup musik keroncong di Amerika. Mengeksplorasi tradisi-tradisi lain seperti musik rakyat Amerika. Untuk mengiringi musiknya, mereka memakai semacam wayang beber yang bernama ‘crankies’ dan wayang kulit.

  • DISKUSI B E K S A N

    Dari era ke era, kesenian akan mengalami perubahan dinamika. Oleh sebab itu pendokumentasian karya dirasa cukup penting untuk dilakukan. Beberapa karya bahkan hilang seiring perkembangan jaman. Generasi berikutnya mungkin masih mampu mengingat, akan tetapi tidak untuk dipentaskan kembali atau ditafsirkan ulang sebagai karya baru.

  • Pertunjukan Beksan

    Dari era ke era, kesenian akan mengalami perubahan dinamika. Oleh sebab itu pendokumentasian karya dirasa cukup penting untuk dilakukan. Beberapa karya bahkan hilang seiring perkembangan jaman. Generasi berikutnya mungkin masih mampu mengingat, akan tetapi tidak untuk dipentaskan kembali atau ditafsirkan ulang sebagai karya baru.

  • Sorot Kelir Bentara

    Berkelindan dengan hal ihwal anak, Solo memiliki cita-cita mulia: menjadi Kota Layak Anak sesuai kriteria Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Perempuan. Konon, program Kota Layak Anak ini sudah digagas pemerintah pusat sejak 2006. Solo yang kita kenal agak ambisius perkara sematan label-label enggan diam. Kredonya sebagai Kota Budaya, Kota Festival, Kota Kuliner, Kota Sejarah, musti segera ditambahi dengan Kota Layak Anak.

  • Pameran Sketsa Mudji Sutrisno, S.J.

    Ada sesuatu yang sering terlihat kuat pada karya-karya Mudji Sutrisno, yaitu ‘ruang’. Ruang sangat dominan pada karya-karya-nya, tidak sekedar ruang kosong, tapi merupakan elemen penting bagi keseluruhan komposisi. Sangat terasa ‘ruang kosong’ hadir dan otonom mempunyai kekuatan artistik sendiri. Pada gilirannya, komposisi yang sadar ruang ini, ditambah dengan pemakaian garis sederhana yang cenderung liris, membangun suasana yang ngelangut, kontemplatif.

  • Balada – Balada #19

    Acara musik yang diadakan setiap minggu kelima ini akan menampilkan, Artaxiad (Grego - Solo), Astakosala (Solo) , NOS (Ucok - Jogja), Kidung dalam Senyuman (Ryan Gayatri - Jakarta). Mengawinkan musik tradisional dengan musik barat terkadang mengundang cibiran.