PAMERAN ILUSTRASI TRADISI “SARWAPRANI“

Akademika Bentara

Kamis, 21 Februari 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 18.00 WITA

Pembukaan : Kamis, 21 Februari 2019, pukul 18.00 WITA
Pameran berlangsung: 22 – 23 Februari 2019, pukul 10.00 – 18.00 WITA
Diskusi : Kamis, 21 Februari 2019, pukul 20.00 WITA

Merujuk wiracarita Bhima Suarga, kisah Bhima yang berupaya membebaskan orang tuanya, diselenggarakan pameran ilustrasi tradisi dengan tajuk “Sarwaprani“, yakni segala energi dan kehidupan yang ada di jagat raya. Eksibisi ini diikuti 35 mahasiswa DKV angkatan 2017, bekerja sama dengan Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD ISI Denpasar. Selain pameran, program Akademika Bentara ini juga dimaknai diskusi dan lokakarya, berangkat dari seni ilustrasi tradisi. 

Bhima Suarga yang mengisahkan perjalanan Bhima membebaskan orang tuanya menunjukkan kompleksitas kosmologi masyarakat Bali yang memiliki keyakinan terhadap keberadaan energi dan kehidupan yang tidak terbatas. Ada istilah sekala-niskala (nyata dan tidak nyata) yang mendasari keyakinan terhadap segala yang ada di dunia ini memiliki jiwa dan energi. Selain manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, jiwa dan energi juga diyakini terdapat pada benda-benda seperti batu, kayu, topeng, patung, dsb.

Pemahaman ini memberikan gambaran  begitu luasnya kehidupan dan alam semesta ini, tidak hanya menyangkut dunia manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan tetapi juga melibatkan alam niskala dunia para dewa dan raksasa. Sehingga menjadi menarik ketika semua hal itu dapat diungkapkan dan dihadirkan bersama-sama melalui ilustrasi tradisional Bali. 

Melalui “Sarwaprani“, dan rangkaian programnya, diharapkan dapat mengemuka perspektif yang positif terhadap keberadaan seni ilustrasi tradisional Bali yang tidak hanya dinikmati secara visual tetapi juga menyimpan nilai-nilai kebaikan melalui cerita serta karakter tokoh yang ditampilkan. Cerita-cerita seperti Bhima Suarga, Mahabarata, Ramayana, Men Brayut, calonarang, dll., sarat dengan pengetahuan dan filsafat hidup manusia Bali yang patut diketahui oleh generasi muda milenial kini. 

Selaras pembukaan pameran diselenggarakan pula diskusi perihal Membuat Wayang bersama Putu Marmar Herayukti. Bertindak sebagai kurator pameran ini yakni I Wayan Agus Eka Cahyadi, S.Sn,MA.

Sedini awal keberadaannya, Bentara Budaya Bali secara khusus bekerjasama dengan berbagai kalangan civitas akademika, menggelar aneka kegiatan berupa pameran seni, pertunjukan teater, tari, musik, pemutaran film, workshop, diskusi, dan juga kolaborasi lintas bidang lainnya. Kerjasama tersebut antara lain dengan : Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar, Jurusan Film dan TV ISI Denpasar, Jurusan Fotografi ISI Denpasar, Fakultas Teknik Universitas Udayana, Persma Linimassa Universitas Udayana, Persma Akademika Universitas Udayana, Udayana Science Club, BEM Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, BEM PM Universitas Udayana, STMIK STIKOM Bali, Alfa Prima, Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Papua Centre FISIP Universitas Indonesia, Universitas Negeri Surabaya, termasuk Konferensi Budaya Mahasiswa se-Indonesia ‘Parum Param Udayana’ yang bekerjasama dengan BEM PM Universitas Udayana.

agenda acara bulan ini
  • SOSOK ANAK DALAM ANIMASI

    Sinema Bentara kali ini mengetengahkan film-film animasi terpilih yang mengangkat sosok anak sebagai fokus utama kisahannya. Bukan semata hal-hal lucu dan jenaka yang mengemuka, namun juga sisi-sisi pilu yang mengharukan serta mengundang pertanyaan mendasar tentang arti kehidupan, kejujuran, hingga kesetiakawanan.

  • JEJARING BUDAYA MASYARAKAT PEGUNUNGAN BALI

    Batur menjadi salah satu wilayah di perbukitan Cintamani yang tercatat dalam prasasti dan lontar yang dimiliki Bali, yaitu Prasasti 001 Sukawana A-I yang dikeluarkan di Singamandawa 804 Saka (19 Januari 882 M). Pada prasasti itu menyuratkan titah sang raja yang memberikan izin kepada para bhiku mendirikan pertapaan dan pesraman di daerah perburuan di Bukit Cintamani Mmal (Kintamani). Prasasti ini menjadi penanda penting dan menumental bagi peradaban Bali sekaligus sebagai revolusi aksara yaitu dimulainya peradaban aksara sebagai babakan awal sejarah Bali kuno (Sumarta, 2015: 5).

  • CERITA DAN KARYA MAESTRO I WAYAN BERATHA

    I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.