MEMBUAT KOMIK & ILUSTRASI TRADISI

Lokakarya

Jumat, 22 Februari 2019 Bentara Budaya Bali | pukul 15.00 WITA

Lokakarya kali ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya, yakni membuat komik yang berangkat dari kekayaan kultural lokal, baik dalam wiracarita, mitologi, maupun sejumlah variasi ceritanya. Kini pembahasan akan difokuskan pada pembuatan komik dengan sosok atau karakter yang berasal dari tokoh-tokoh tradisi atau pewayangan. Selain itu, secara khusus diketengahkan pula dasar-dasar membuat lukisan ilustrasi tradisi. 

Seni ilustrasi tradisional Bali merupakan warisan leluhur Bali yang diperkirakan telah ada pada abad ke 12 dan terus berevolusi sampai pada jaman kerajaan Gelgel abad 16 dan dilanjutkan oleh kerajaan Klungkung dan kerajaan-kerajaan lain di Bali yang bertahan hingga sekarang disebut style wayang Kamasan. Di Ubud seni ilustrasi style wayang ini berevolusi menjadi gaya Pita Maha, dan menyebar sejumlah pendesaan di Bali seperti, desa Batuan, Sanur, dll. 

Sebagai pemateri yakni I Putu Eka Mardiasa dan Gede Desar Yuartha Putra.

I Putu Eka Mardiyasa atau biasa dipanggil Eka Mardiys adalah ilustrator yang dikenal piawai memadukan gaya Jepang ( Ukiyo-e ), dan gaya lukisan Kamasan atau Ornamen Tradisional Bali. Sejak kecil tertarik menggambar tokoh komik Jepang. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di  Politeknik Negeri Bali. Pernah terlibat dalam  berbagai project mural dan painting di berbagai tempat di Bali. Kini sebagai Freelance Illustrator dan  Tattoo Artist di Chris the Barber Bali serta Design Grafis di Gimme Shelter Bali.

Gede Desar Yuartha Putra atau yang sering disebut Desar merupakan ilustrator yang fokus di bidang desain karakter, ilustrasi, komik, dan pewarnaan. Mengangkat budaya lokal sebagai identitas karakter untuk maju ke persaingan global meruapakan motivasi untuk dia. Pernah bekerja sebagai Freelance ilustrator di Jineng Creative Yearbook Company (2011-2013) dan kini merupakan 2nd artist dan character designer di Dragon Game Studio. 

agenda acara bulan ini
  • SOSOK ANAK DALAM ANIMASI

    Sinema Bentara kali ini mengetengahkan film-film animasi terpilih yang mengangkat sosok anak sebagai fokus utama kisahannya. Bukan semata hal-hal lucu dan jenaka yang mengemuka, namun juga sisi-sisi pilu yang mengharukan serta mengundang pertanyaan mendasar tentang arti kehidupan, kejujuran, hingga kesetiakawanan.

  • JEJARING BUDAYA MASYARAKAT PEGUNUNGAN BALI

    Batur menjadi salah satu wilayah di perbukitan Cintamani yang tercatat dalam prasasti dan lontar yang dimiliki Bali, yaitu Prasasti 001 Sukawana A-I yang dikeluarkan di Singamandawa 804 Saka (19 Januari 882 M). Pada prasasti itu menyuratkan titah sang raja yang memberikan izin kepada para bhiku mendirikan pertapaan dan pesraman di daerah perburuan di Bukit Cintamani Mmal (Kintamani). Prasasti ini menjadi penanda penting dan menumental bagi peradaban Bali sekaligus sebagai revolusi aksara yaitu dimulainya peradaban aksara sebagai babakan awal sejarah Bali kuno (Sumarta, 2015: 5).

  • CERITA DAN KARYA MAESTRO I WAYAN BERATHA

    I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek, I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah, I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.